Buya Mawardi, yang memiliki nama lengkap Mawardi Muhammad bin Muhammad (10 Oktober 1913–30 Desember 1994) adalah seorang ulama ahli hadis Indonesia. Ia dikenal sebagai pendakwah, guru, dan dosen yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi Sumatera Barat, seperti Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol di Padang Panjang, Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol di Padang, Akademi Dakwah Aqabah di Bukittinggi, serta STAI-PIQ di Padang. Pada tahun 1965–1966, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah di IAIN.[1][2][3][4]
Kehidupan awal
Ayahnya, Muhammad, adalah seorang pedagang kain di Bukittinggi dan berasal dari suku Sarayan Chaniago, sementara ibunya, Khuzaimah, merupakan ibu rumah tangga dari suku Simabur. Kelak, sebagai tokoh masyarakat, Marwardi menyandang gelar adat Sutan Muncak.
Kiprah
Salah satu kontribusi terbesar Buya Mawardi adalah upayanya menghidupkan kembali Perguruan Thawalib Padang Panjang setelah pergolakan PRRI tahun 1958, yang disusul dengan wafatnya Abdul Hamid Hakim pada 19 Juli 1959. Bersama sejumlah tokoh, ia mengambil inisiatif untuk membangkitkan kembali Thawalib, yang saat itu bangunannya rusak dan tidak berpenghuni selama lima tahun. Berkat tekad dan kerja kerasnya, kejayaan perguruan tersebut berhasil dipulihkan.
Komitmennya terhadap pendidikan juga tercermin dalam pendirian Thawalib Putri Padang Panjang, sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi perempuan. Pada tahun 1974, bersama Zainal Abidin Ahmad, ia mendirikan Perguruan Tinggi Thawalib dengan dua fakultas awal: Fakultas Syariah dan Hukum Negara serta Fakultas Dakwah dan Publisistik. Sayangnya, perguruan tinggi ini harus ditutup beberapa tahun kemudian karena Zainal Abidin Ahmad lebih banyak menetap di Jakarta. Buya Mawardi juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama, sehingga ijazah tingkat Tsanawiyah dan Aliyyah Thawalib diakui secara nasional hingga kini.
Selain di Padang Panjang, Buya Mawardi mendirikan Thawalib Kubang Putih di tanah kelahirannya, Bulaan Kamba, dengan menerapkan kurikulum Thawalib Padang Panjang sebagai acuan. Pesantren ini kini dikenal sebagai Pesantren Al-Irsyad. Pada masa pergolakan PRRI, ia juga memimpin PGA Penampung di Tanjung Raya, Agam (1958–1959), yang didirikan sebagai lembaga pendidikan bagi para pengungsi. Sekolah ini kemudian berkembang menjadi MTsN 11 Agam.
Karya
Sebagai ulama yang sangat produktif, Buya Mawardi memiliki keahlian dalam ilmu nahwu dan saraf, yang membantunya menghasilkan karya-karya luar biasa.[5] Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan Arab, dengan fokus utama pada bidang hadis dan ilmu hadis, tetapi juga berkontribusi dalam bidang fikih, tafsir, pendidikan, dan ilmu bahasa Arab. Beberapa karya yang telah ditemukan dan didokumentasikan antara lain Risalah Cara Puasa Nabi Muhammad, Ilmu Faraidl, Manajemen dan Kurikulum Thawalib Padang Panjang, serta berbagai kitab berbahasa Arab seperti الأخلاق, العروض الواضحة, الأصول النحوية, dan هداية الباحث في مصطلح الحديث. Ia juga menyusun buku pelajaran hadis untuk berbagai jenjang pendidikan, dari tingkat menengah hingga tinggi.
Distribusi karya-karya Buya Mawardi menunjukkan keluasan dan kedalaman pemahamannya di berbagai disiplin ilmu. Meskipun fokus utamanya adalah hadis, kontribusinya dalam bidang lain sangat berarti bagi perkembangan pendidikan Islam.
Selain sebagai penulis, Buya Mawardi juga dikenal sebagai pendidik yang berdedikasi. Ia mulai mengajar di Perguruan Thawalib Padang Panjang sejak usia 18 tahun dan memimpin lembaga tersebut selama 35 tahun hingga akhir hayatnya. Ia juga mengajar di Madrasah Diniyyah Padang Panjang dan menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi. Reputasinya sebagai pendidik melahirkan banyak murid yang sukses dan berkiprah di berbagai bidang, di antaranya Ali Hasyimi, Mansur Malik, Amir Syarifuddin, Edi Safri, Sirajuddin Zar, Rusli Zarkasyi, Zikri Darussamin, Kurnial Ilahi, Mukhlis Bahar, Buchari Mukhtar, dan lain-lain.
Wafat
Ia wafat pada hari Jumat, 30 Desember 1994 (27 Rajab 1415 Hijriah), pukul 05.50 WIB di Rumah Sakit Islam YARSI Bukittinggi, dalam usia 81 tahun. Ia dimakamkan di sebelah kiri mihrab Masjid Mujahidin, kompleks Perguruan Thawalib Padang Panjang, tempat ia mengabdikan sebagian besar hidupnya.