Di kancah politik, ia aktif di Masyumi dan duduk sebagai anggota Konstituante RI (1955–1959) dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (1950-1960). Ia juga pernah mengajar dan menjadi Dekan Fakultas Politik Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta.
Riwayat
ZA Ahmad menempuh pendidikan dasarnya di kampungnya di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandsche School (HIS). Lalu, ia melanjutkan pendidikan menengahnya di Sumatera Thawalib, Padang Panjang. Ia sebetulnya ingin masuk sekolah Belanda lagi tapi ditolak karena masalah diskriminasi. Ia dikenal cerdas. Saat sekolah dasar ia langsung ditempatkan di kelas 2 dan selalu ranking 1.[7]
Bercita-cita menjadi seorang guru, ZA Ahmad awalnya sempat mengajar sebentar untuk almamaternya, Sumatera Thawalib. Akan tetapi pada saat itu pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar. Karena hal tersebut, ia menggeluti bidang kewartawanan.[4]
Karier
Zainal Abidin Achmad, 1954
Di dunia jurnalistik, ZA Ahmad aktif di Pandji Islam yang berbasis di Medan. Ia duduk di dewan redaksi majalah tersebut sejak 1937 sampai 1942. Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi pemimpin surat kabar Fajar Asia dan anggota redaksi surat kabar Berita Malai, keduanya berbasis di Singapura.
Ketertarikannya dalam organisasi mengantarkan Zainal Abidin Ahmad menjadi ketua umum Masyumi seluruh Sumatra.[4] Kemudian, ia terpilih sebagai aggota Konstituante RI (1956–1959).[6]
Dari tahun 1931 sampai 1935, ia mendapat kesempatan untuk memimpin Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) di Padang dan Medan. Dua tahun kemudian, ia mendirikan suatu organisasi bagi para sesama wartawan yang ingin berfokus pada perjuangan Islam.