Masjid Talo Mano (bahasa Thai:มัสยิดตะโละมาเนาะcode: th is deprecated , bahasa Melayu:Masjid Telok Manokcode: ms is deprecated ), atau juga dikenal sebagai Masjid Al-Hussein (bahasa Thai:มัสยิดวาดี อัล ฮูเซ็นcode: th is deprecated , RTGS: Matsayit Wadi An Husen) dan Masjid Tiga Ratus Tahun (bahasa Thai:มัสยิดสามร้อยปีcode: th is deprecated , RTGS: Matsayit Sam Roi Pi) adalah salah satu masjid tertua di Thailand. Terletak di Provinsi Narathiwat di Thailand Selatan, masjid ini masih digunakan hingga kini oleh komunitas Muslim yang cukup besar di daerah tersebut. Masjid ini dibangun pada tahun 1634 untuk melayani pemukim Muslim yang baru menetap pada waktu itu. Masjid Talo Mano merupakan masjid kayu tertua di Thailand.[1]
Sejarah
Masjid ini dibangun di masa Kerajaan Pattani. Penduduk desa di daerah itu yang beragama Islam dan Buddha bergotong royong membangun masjid ini pada tahun 1634. Legenda menyatakan bahwa saat terjadi perang antara Kerajaan Ayutthaya dan Kerajaan Pattani, seorang gadis dari sebuah desa di Pattani melarikan diri dari perang. Ia kabur sambil memegang Al-Qur'an di tangannya. Saat melarikan diri, dia jatuh ke lembah kecil. Ia lalu ditolong oleh warga desa di dekat situ, yang terkejut melihatnya memegang Al-Qur'an dengan erat. Penduduk desa kemudian memutuskan untuk membangun masjid setelah perang usai.[1] Legenda lain menyatakan bahwa masjid tersebut dibangun oleh Wan Husein Az-Sanawi, seorang guru yang pindah ke Pattani pada tahun 1624.[2] Al-Qur'an tulisan tangan dan rencana pembangunan masjid disimpan di dalam masjid itu sendiri.
Arsitektur
Masjid ini memadukan arsitektur Tiongkok, Thailand, dan Melayu. Masjid ini dibangun dengan kayu merbau dan belian. Karena paku belum ditemukan pada saat itu, baji digunakan sebagai gantinya untuk menahan kayu pada tempatnya. Atap aslinya berbahan daun pohon palem dan kemudian diganti dengan genteng tanah liat. Masjid ini terdiri dari dua bangunan. Bangunan yang lebih kecil adalah tempat di mana mihrab berada dan memiliki tiga lapis atap yang bergaya Tiongkok. Bangunan yang lebih besar memiliki gaya Thailand yang lebih kentara dengan atap pelana khas Thailand. Dinding kedua bangunan tersebut memiliki ukiran bergaya Thailand, Tiongkok, dan Melayu.[3]
Upacara
Sebagian besar upacara yang diadakan di masjid ini adalah upacara keagamaan Islam. Meski juga berfungsi sebagai pusat komunitas, masjid ini tetap diperlakukan sebagai rumah ibadah.
Renovasi
Untuk mempersiapkan diri bagi komunitas ASEAN masjid berusia 300 tahun ini menerima dana sebesar 200 juta Baht Thailand dari pemerintah untuk renovasi masjid pada awal tahun 2014. Rencana tersebut akan dilaksanakan oleh Pusat Administrasi Provinsi Perbatasan Selatan. Renovasi meliputi renovasi masjid, penataan lingkungan di sekitarnya, dan penambahan fungsi pada masjid (pusat komunitas). Dengan renovasi ini, diharapkan masjid ini akan menarik lebih banyak wisatawan.[4][5]