Manai Sophiaan hidup dalam suasana penjajahan Belanda. Ia menempuh pendidikan di Twede Inlandse School (1926), Schakel School (1931), dan MULO Makassar (1934) ia menjadi guru di Taman Siswa, Yogyakarta pada umur 21 tahun.
Ia adalah seorang Jurnalis ketika penjajahan Jepang tahun 1942 dalam harian Pewarta Celebes, dan ketika Indonesia merdeka ia menjadi Pemimpin Redaksi Suluh Indonesia dan Suluh Marhaen.
Partai awalnya ketika masa pergerakan nasional adalah Parindra (Partai Indonesia Raya) dan ketika masa Revolusi ia berganti partai menjadi PNI (Partai Nasiona Indonesia). Ia pernah menduduki jabatan Sekretaris Jenderal PNI. Ia pernah menjadi anggota parlemen dan mengusulkan mosinya yang berisi Re-Organisasi Angkatan Bersenjata yang menyebabkan Peristiwa 17 Oktober 1952.
Manai Sophiaan pertama dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat pada tanggal 17 Februari 1950 mewakili Republik Indonesia. Ia lalu kembali ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara pada periode 1950-1956. Ia terpilih mewakili daerah pemilihan Sulawesi Selatan/Tenggara dalam Pemilihan Umum 1955, dan tetap menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai dibubarkannya Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 24 Juni 1960 yang kemudian digantikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong.
Manai Sophiaan ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet pada tahun 1964, menggantikan Adam Malik. Ia duduk dalam jabatan itu sampai tahun 1967, ketika Suharto menggantikan Sukarno sebagai presiden.
Ia menjadi pelindung Bung Karno saat maupun setelah jadi Presiden Republik Indonesia . Ia membela Bung Karno melalui buku “Kehormatan Bagi Yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G-30-S” . Ia menjadi penanda tangan Petisi 50. Ia pernah berseberangan dengan mantan Ketua MPRSJenderalAH Nasution karena buku Apa Yang Masih Teringat yang menyerang Nasution saat ia menjadi Ketua MPRS yang menjungkalkan Bung Karno pada 1967.
Ia meninggal pada 29 Agustus 2003 karena penyakit Parkinson.