Fatima binti Musa adalah saudari Imam kedelapan Ali al-Rida dan putri Imam ketujuh Musa al-Kazim. Dalam Islam Syiah, perempuan sering dihormati sebagai orang suci apabila mereka merupakan kerabat dekat salah satu Imam Dua Belas. Karena itu, Fatima Masumeh dihormati sebagai seorang suci, dan makamnya dianggap sebagai salah satu tempat suci paling penting dalam Islam Syiah. Setiap tahun, jutaan Muslim Syiah pergi ke Qom untuk menghormati Fatima Masumeh dan memohon syafaatnya kepada Tuhan.
Yang juga dimakamkan di dalam kompleks makam tersebut adalah tiga putri Imam kesembilan Muhammad al-Taqi, penyair Persia Parvin Etesami, enam anggota dinasti Safawi, sebelas anggota dinasti Qajar, serta banyak tokoh politik, cendekiawan, dan ulama terkemuka lainnya.[1] Kompleks makam ini juga telah menarik puluhan hauzah dan sekolah agama.
Deskripsi
Kompleks makam tersebut terdiri atas ruang pemakaman, tiga halaman, dan tiga aula salat besar dengan total luas mencapai 38.000 m² (410.000 kaki persegi). Tiga aula salat itu bernama Tabataba'i, Bala Sar, dan A‘zham.[2][3]
Gaya arsitektur Makam Fatima Masumeh berkembang selama berabad-abad.[4] Pada awalnya, makamnya hanya ditutupi kanopi bambu.[5] Lima puluh tahun kemudian, kanopi tersebut digantikan dengan bangunan berkubah yang lebih kokoh atas permintaan Sayyida Zaynab, putri Imam Muhammad al-Taqi.[5][2] Keluarga Sayyida Zaynab kemudian menambahkan dua kubah lagi ke kompleks makam tersebut.[5]
Ziarah
Dalam tradisi Syiah, kerabat para Imam yang disebut imamzadeh sangat dihormati meskipun kedudukannya berada di bawah para Imam.[5] Di Iran terdapat banyak makam imamzadeh, dan salah satu yang paling penting adalah Makam Fatima Masumeh di Qom, saudari Imam Ali al-Rida. Umat Syiah berziarah ke makam tersebut untuk memohon kesembuhan, penyelesaian masalah, dan pengampunan dosa.[6] Sejumlah hadis Syiah juga menyebut bahwa peziarah makam Fatima Masumeh akan memperoleh ganjaran surga.[2]
Makam Fatima Masumeh ramai dikunjungi peziarah dari berbagai negara sepanjang tahun. Aktivitas ziarah ini menjadi sumber penting bagi perekonomian Qom[7] dan turut mempertahankan karakter religius serta konservatif kota tersebut.[8] Banyak mukjizat diklaim terjadi di makam ini dan didokumentasikan oleh pengelola makam.[2]
Ritual ziarah di makam tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan didasarkan pada ajaran Imam Ali al-Rida. Ritual itu mencakup doa khusus, mandi ritual, memakai pakaian wangi, dan memasuki tempat suci dengan kaki kanan terlebih dahulu.[5]
↑"Today's Top StoriesQom Province". indiasnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 20 December 2008. Diakses tanggal 18 December 2006. Shrine of Hazrat Masoumeh, sister of Imam Reza, one of Iran's holiest places, is in Qom.
↑Allan, James W. (2012). The Art and Architecture of Twelver Shi'ism: Iraq, Iran, and the Indian Sub-Continent. Oxford: Azimuth Editions.
12345Canby, Sheila R. (2009). Shah 'Abbas: The Remaking of Iran. London: The British Museum Press.
↑Betteridge, Anne H. (2002). "Muslim Women and Shrines in Shiraz". Dalam Donna Lee Bowen and Evelyn A. Early (ed.). Everyday Life in the Muslim Middle East (Edisi 2). Bloomington: Indiana University Press. hlm.276–289.
↑Majd, Hooman (2008). The Ayyatolah Begs to Differ: The Paradox of Modern Iran. New York: First Anchor Books.
↑Khosrokhavar, Farhad (2011). "Post-revolutionary Iranian youth: The case of Qom and the new culture of ambivalence". Dalam Roksana Bahramitash and Eric Hooglund (ed.). Gender in Contemporary Iran: Pushing the boundaries. London: Routledge. hlm.99–119.