Lubuk Baja atau dikenal dengan nama "Nagoya" adalah sebuah kecamatan yang berada di Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia. Luas wilayah kecamatan ini adalah 11,426 km², dengan jumlah penduduk sebanyak 90.560 jiwa pada tahun 2020, dan kepadatan pada kecamatan ini adalah 7.926 jiwa/km².[2]
Sejarah
Kecamatan ini dijuluki "Nagoya" berdasarkan nama kota di Jepang oleh para insinyur Jepang dari Taisei Corporation, yang datang ke Batam pada tahun 1970-an untuk mengerjakan proyek infrastruktur.[3]
Pembagian Wilayah
Kecamatan Nagoya (Lubuk Baja) memiliki 49 RT dan 209 RW dan terdiri dari 5 kelurahan, yakni:
Kecamatan Nagoya (Lubuk Baja) merupakan pusat perdagangan dan hiburan utama di Kota Batam yang memiliki berbagai pusat perbelanjaan, seperti, Grand Batam Mall, Batam City Square (BCS) Mall. Kawasan ini juga dipenuhi oleh berbagai hotel, spa, dan wellness center yang menjadikannya sebagai salah satu destinasi utama untuk wisata belanja, kuliner, dan bersantai di Kota Batam. Di kawasan ini juga terdapat area Penuin, yang dikenal melalui Pasar Penuin yang sebagai pusat oleh-oleh khas, seperti kue lapis, sekaligus sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Batam. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan di sekitar Penuin telah berkembang menjadi pusat kuliner dan gaya hidup modern dengan hadirnya berbagai kafe modern dan restoran, sehingga menciptakan perpaduan antara aktivitas perdagangan tradisional dan gaya hidup modern yang menarik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.
Demografi
Kota Batam dikenal sebagai salah satu kota yang multikultural di Indonesia, kemajemukan masyarakat terlihat dalam identitas warga, termasuk etnis dan agama kepercayaan. Masyarakat di kecamatan Nagoya (Lubuk Baja), didominasi oleh suku Tionghoa, Melayu, Batak dan Jawa.[5] Ada juga kelompok etnis lain seperti Minangkabau, Bugis, Nias, Timor, Sunda, Minahasa, dan lainnya.
Bahasa yang digunakan di daerah ini umumnya adalah bahasa Indonesia, juga bahasa Melayu Batam dan bahasa lainnya seperti bahasa Tionghoa, Batak yang kebanyakan adalah Batak Toba, bahasa Minangkabau, dan bahasa Jawa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kota Batam 2020, pemeluk agama di kecamatan ini cukup beragam, di mana Islam 54,90%, kemudian Budha 33,00%, Kristen 11,64% (Protestan 8,75% dan Katolik 2,89%), Konghucu 0,42%, Hindu 0,03% dan lainnya 0,01%.[2]
Pekerjaan
Pekerjaan warga didominasi oleh karyawan swasta dan buruh, atau pekerja industri yang ada disekitar kota Batam. Ada juga yang merupakan pedagang, nelayan, tenaga medis, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pekerja kantoran lainnya termasuk perbankan, dan juga sebagai ibu rumah tangga dan sebagainya.[2]