Latar Belakang dan Biografi
Tidak banyak catatan tertulis mengenai asal-usul Kyai Gothak. Dalam sejarah lisan, ia dikisahkan sebagai salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari kejaran tentara Hindia Belanda saat Perang Jawa meletus.[1] Kyai Gothak memilih bersembunyi di wilayah pedesaan terpencil yang saat itu belum bernama (sekarang termasuk Desa Gotakan, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo).[1] Di tempat persembunyiannya itu, ia mendirikan sebuah padepokan atau perguruan.
Sebagai seorang kyai (ulama atau guru agama), Kyai Gothak memadukan peran religius dan perjuangan fisik: ia mengajarkan ilmu kanuragan (ilmu bela diri dan kesaktian) kepada para cantrik (murid) yang bergabung dengannya. Para muridnya dibekali kemampuan olah tubuh dan batin sebagai persiapan untuk melawan pasukan kolonial Belanda yang saat itu menduduki wilayah Yogyakarta (termasuk Adikarto, cikal bakal Kabupaten Kulon Progo).[1] Berkat wibawa dan kesaktiannya, padepokan Kyai Gothak menjadi tempat berlindung dan pusat latihan bagi para pejuang setempat.
Peran dalam Perang Diponegoro
Selama Perang Diponegoro berlangsung, Kyai Gothak berkontribusi sebagai tokoh pendukung yang menyediakan basis perjuangan di wilayah pedalaman Kulon Progo. Ia menjadikan padepokannya sebagai tempat persinggahan dan pembinaan rohani-fisik bagi laskar anti-kolonial. Salah satu murid terpenting Kyai Gothak adalah Raden Mas Sodewo, putra Pangeran Diponegoro sendiri.[1] Sekitar tahun 1825, Bagus Singlon (saat berusia remaja) singgah dan tinggal di padepokan Kyai Gothak di Panjatan, Kulon Progo, untuk memperdalam ilmu kanuragan yang diajarkan sang kyai.[3] Di bawah bimbingan Kyai Gothak, Bagus Singlon menempa keterampilan bertarung dan pengetahuan spiritual, sebelum akhirnya bergabung langsung dalam perang mendampingi ayahandanya. Kelak, berkat kesaktian dan keberaniannya, Bagus Singlon diberi julukan Ki Sodewo (bermakna "Laksono Dewo" atau bagaikan dewa) oleh Pangeran Diponegoro, nama yang kemudian hari sangat dikenang dalam sejarah lokal Kulon Progo.
Selain mendidik kader perjuangan, Kyai Gothak terlibat dalam upaya menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Sumber tradisional menyebutkan bahwa ia membangun persaudaraan dan aliansi dengan tokoh pejuang lain, seperti Kyai Josuto, demi menggalang bala tentara bagi perlawanan.[3] Bersama Ki Sodewo dan para pengikut Diponegoro yang tersisa, Kyai Gothak mendirikan sebuah benteng pertahanan dari bambu ori di tepian Sungai Serang, wilayah dusun Bosol, Kulon Progo.[3] Benteng itu dikenal dengan sebutan Jeron Dabag (artinya kurang lebih "benteng bambu") dan difungsikan sebagai basis gerilya melawan Belanda.[3] Langkah ini menunjukkan peran strategis Kyai Gothak bukan hanya sebagai guru spiritual, tetapi juga penyedia dukungan logistik, tempat perlindungan, dan perencana taktik lokal bagi laskar Diponegoro di Kulon Progo. Berkat kontribusinya, semangat perlawanan di wilayah Menoreh (Kulon Progo dan sekitarnya) tetap berkobar meski kekuatan utama Diponegoro di pusat telah terpukul mundur. Sumber legenda setempat bahkan menegaskan reputasi Kyai Gothak dan Ki Sodewo sebagai dwitunggal pejuang yang pemberani, perkasa, dan sangat sakti dalam menentang penjajah
Cerita Tutur
Kisah Kyai Gothak dan kiprahnya terekam jelas dalam tradisi lisan dan babad lokal Kulon Progo. Jejak paling nyata adalah penamaan Desa Gotakan yang diyakini berasal dari nama Kyai Gothak. Menurut Babad Desa Gotakan versi masyarakat setempat, tempat Kyai Gothak bersembunyi dan mendirikan padepokan akhirnya berkembang menjadi permukiman baru. Atas kesepakatan Kyai Gothak dan Ki Sodewo (murid utamanya), lokasi padepokan tersebut dinamai Gotakan – istilah yang diambil dari nama Gothak sendiri dan berasosiasi dengan kata gathuk dalam bahasa Jawa (artinya "berjodoh" atau "kebetulan yang cocok")[1]
Setelah situasi perang mereda, pengaruh Kyai Gothak tetap terasa dalam kehidupan keagamaan lokal. Masyarakat Kulon Progo mengenang dirinya sebagai salah satu tokoh penyebar agama dan leluhur desa. Makam Kyai Gothak yang terletak di Dusun Gotakan, Panjatan, hingga kini diziarahi orang sebagai bagian dari tradisi lokal untuk menghormati para pendahulu yang berjasa.[2] Dalam daftar makam auliya’ dan cikal-bakal Kulon Progo, Kyai Gothak dicantumkan sebagai figur penting, sejajar dengan tokoh-tokoh penyebaran Islam lain di wilayah tersebuta.[2] Penghormatan ini menandakan bahwa peran Kyai Gothak tidak hanya sebatas militer, tetapi juga spiritual – ia dikenang karena jasanya mengajarkan Islam dan membina masyarakat.