Perlawanan pasca-Perang Jawa
Setelah berakhirnya Perang Jawa dan penangkapan Diponegoro pada 1830, Ki Sodewo melanjutkan perjuangan gerilya melawan rezim kolonial. Bersama Syekh Syarip Prawiro Sentana, ia memobilisasi pemberontakan di wilayah Kulon Progo pada 26 April 1839, menghimpun sekitar 1.600 pasukan yang tersebar di Pengasih, Nanggulan, Sentolo, Wates, dan Galur.[1].Puncak perlawanan terjadi pada 14 Februari 1840 bertepatan dengan upacara Grebeg Besar, tetapi pada 18 Februari 1840 Syekh Syarip Prawiro Sentana tertangkap dan dieksekusi, sedangkan Ki Sodewo berhasil melarikan diri. Menurut keturunan, ia kembali melakukan aksi perlawanan pada tahun 1850.[1]
Gerakan sosial-keagamaan ini mengguncang stabilitas pemerintah Hindia Belanda di daerah Kulon Progo dan sekitarny menunjukkan bahwa semangat anti-kolonial arus bawah masih menyala hampir satu dasawarsa setelah perang usai.[1]
Namun, sumber lain menjelaskan pada akhirnya perlawanan Ki Sodewo dan para pengikutnya berhasil dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Dalam babak akhir perjuangannya, Ki Sodewo gugur dalam pertempuran melawan pasukan Hindia Belanda pada pertengahan akhir 1830-an. Sumber mencatat bahwa upaya perlawanan yang dilanjutkan para putra Diponegoro berakhir tragis – Ki Sodewo dan Pangeran Joned (saudara tirinya) tewas di medan laga, sementara dua saudara lainnya (Diponingrat dan Diponegoro Anom) ditangkap dan diasingkan ke Ambon]].[3] Kematian Ki Sodewo menandai berakhirnya sisa-sisa perlawanan bersenjata keluarga Diponegoro di Jawa pasca perang, meskipun pemberontakan lokalnya sempat memberikan perlawanan berarti terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Di mata pemerintah kolonial Hindia Belanda, Ki Sodewo tak lain adalah pemberontak berbahaya yang harus ditumpas. Kolonial berusaha menggambarkan perlawanan sisa laskar Diponegoro ini sebagai aksi kriminal alih-alih perjuangan politik. Propaganda Belanda menyebut Ki Sodewo sebagai “pemimpin gerombolan perampok” untuk mendiskreditkannya di mata rakyat.[4] Hal ini tecermin dalam catatan lokal (misalnya Sejarah Kabupaten Purworejo), di mana Ki Sodewo dicatat sebagai sekutu seorang bandit bernama Amat Sleman pada tahun 1838, musuh bebuyutan Bupati Cokronegoro yang pro-Belanda.[4] Meski demikian, bagi rakyat jelata khususnya di Kulon Progo dan daerah pedesaan Jawa, Ki Sodewo justru dipandang sebagai pahlawan rakyat yang membela martabat keluarga dan bangsanya.[4] Pertentangan pandangan ini menunjukkan bagaimana hubungan Ki Sodewo dengan penguasa resmi (Mataram maupun kolonial) sangat negatif pada masanya, tetapi ia mendapat tempat tersendiri dalam ingatan kolektif rakyat sebagai simbol perlawanan.