Kristen Kalsedon adalah sebutan bagi denominasi-denominasi Kristen yang menganut rumusan kristologi dan resolusi eklesiologi yang dihasilkan Konsili Kalsedon, muktamar Kristen sedunia ke-4 yang diselenggarakan pada tahun 451.[1] Umat Kristen Kalsedon berpegang pada rumusan Kalsedon, yakni doktrin agama Kristen mengenai kodrat ilahi dan kodrat insaniYesus Kristus. Sebagian besar persekutuan Gereja dan aliran agama Kristen pada abad ke-21 tergolong Kristen Kalsedon, tetapi luas jangkauan pengaruh kristologi Kalsedon dari abad ke-5 sampai dengan abad ke-8 sesungguhnya tidak dapat ditentukan secara pasti.
Dari segi doktrin, paham Kalsedon dapat dianggap sebagai salah satu cabang dari ajaran Kristen Nikea.
Segolongan umat Kristen Armenia, khususnya yang bermukim di daerah Kapadokia dan Trebizon dalam wilayah Kekaisaran Bizantin, menerima keputusan Konsili Kalsedon, sehingga terlibat polemik dengan Gereja Apostolik Armenia.[2]
Seusai Perang Bizantin-Sasani 572-591, wilayah yang diperintah secara langsung oleh Kekaisaran Bizantin diperluas hingga mencakup pula seluruh daerah di kawasan barat Armenia, dan tak lama kemudian Kaisar Maurisius (memerintah 582-602) memutuskan untuk mengukuhkan kendali politiknya atas seluruh daerah itu dengan cara menyokong golongan umat Kristen Armenia yang pro-Kalsedon di dalam Gereja Apostolik Armenia. Pada tahun 593, uskup-uskup kawasan barat Armenia bersidang di kota Teodosiopolis, dan memaklumkan penerimaan mereka terhadap rumusan Kalsedon. Para peserta sidang juga memilih Yohanes dari Bagaran menjadi katolikos yang baru untuk memimpin umat Kristen Kalsedon Armenia.[3]
Menurut pemahaman Kristen Kalsedon mengenai keterkaitan ilahi-insani dalam diri Yesus Kristus, kemanusiaan dan keilahian diibaratkan sebagai dua kodrat yang secara sempurna didiami oleh satu hipostasisSang Logos. Pihak Nonkalsedon berpegang teguh pada ajaran miafisitisme (kadang-kadang disebut monofisitisme oleh lawan-lawannya) bahwa dalam satu pribadi Yesus Kristus, keilahian dan kemanusiaan manunggal menjadi satu kodrat, tidak terpisah, tidak bercampur, dan tidak berubah. Perbedaan pendirian mengakibatkan kedua belah pihak saling mengutuk. Kristen Kalsedon mengutuk Kristen Nonkalsedon sebagai ahli bidah Monofisit Eutikian, sementara Kristen Nonkalsedon mengutuk Kristen Kalsedon sebagai ahli bidah Nestorian.[4]
Di kemudian hari, para mufasir keputusan Konsili Kalsedon berkesimpulan bahwa kristologi Kalsedon juga menolak Monotelitisme dan Monoenergisme yang dibidahkan dalam Konsili Konstantinopel III pada tahun 680. Pihak-pihak yang tidak menerima kristologi Kalsedon sekarang ini menyebut dirinya "kaum Nonkalsedon". Menurut sejarah, dulunya mereka menyebut diri "kaum Miafisit" atau "kaum Kirilian" (penganut ajaran Santo Kirilos, Batrik Aleksandria, penulis risalah Perihal Keesaan Kristus yang mereka gunakan sebagai sumber dalil akidahnya), dan disebut sebagai "kaum Monofisit" oleh umat Kristen Ortodoks. Pihak-pihak yang menganut kristologi-kristologi Nonkalsedon menyebut doktrin Kalsedon sebagai diofisitisme.