Khoirul dikenal sebagai salah satu perumus teknik transmisi sinyal nirkabel dengan menggunakan dua transformer matematis yang disebut dengan Inverse Fast Fourier Transformer, yang berhasil dibuktikan mengurangi derau pada sinyal, mengembangkan efisiensi spektral dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi transmisi.[3] Teknik ini kemudian dipatenkan[4] dan diadopsi sebagai standar oleh Persatuan Telekomunikasi Internasional untuk komunikasi multi-carrier, dan digunakan untuk transmisi sinyal menggunakan satelit.[5][6]
Riwayat hidup dan karier
Khoirul Anwar lahir di Kediri pada tanggal 22 Agustus 1978[7][8] di keluarga sederhana dengan mata pencaharian sebagai petani. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri Juwet 2 pada tahun 1990, dia melanjutkan pendidikan menengah ke SMP Negeri 1 Kunjang, dan lulus pada tahun 1993. Khoirul kemudian lulus dari SMA Negeri 2 Kediri pada tahun 1996.[7]
Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, Khoirul diterima sebagai mahasiswa di Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus dengan predikat cum laude pada tahun 2000.[7][9] Selepas lulus dari ITB, ia melanjutkan studi magister ke Institut Sains dan Teknologi Nara (Nara Institute of Science and Technology; NAIST), di Jepang, dalam bidang teknik elektro, dan lulus pada tahun 2005.[2][9] Gelar doktoral ia raih pada institusi yang sama dan dalam bidang yang sama pada tahun 2008.[7]
Khoirul kemudian bekerja di Institut Lanjutan Sains dan Teknologi Jepang (Japan Advanced Institute for Science and Technology; JAIST). Pada institusi tersebut, ia menjadi asisten profesor di Sekolah Sains Informasi dari tahun 2008 hingga tahun 2016.[2] Saat ini, Khoirul Anwar merupakan dosen di Universitas Telkom, Bandung, dan merupakan direktur pusat studi Center for Advanced Wireless Technologies (AdWiTech) di universitas tersebut.[8]
Penelitian
Dalam penelitiannya, Khoirul Anwar memperkenalkan terobosan penting dalam desain Carrier Interferometry-Orthogonal Frequency Division Multiplexing (CI-OFDM) dengan mengusulkan penggunaan Fast Fourier Transform (FFT) dan Inverse FFT (IFFT) sebagai kode penyebar (spreading) dan penghilang penyebar (despreading).[3] Desain baru ini—dikembangkan selama masa studinya di Nara Institute of Science and Technology—tidak hanya mempertahankan keunggulan rasio daya puncak terhadap rata-rata (PAPR) yang rendah seperti pada CI-OFDM konvensional, tetapi juga secara drastis mengurangi kompleksitas komputasi dan kebutuhan memori, sehingga menjadikannya lebih praktis untuk diterapkan dalam sistem komunikasi nirkabel modern. Pendekatan Anwar memungkinkan pemanfaatan komponen frekuensi positif dan negatif sekaligus, serta menyederhanakan arsitektur pemancar dan penerima, memberikan solusi yang dapat diskalakan dengan peningkatan kinerja baik dalam transmisi tanpa kode maupun yang dikodekan. Kontribusinya menandai perubahan penting menuju sistem CI-OFDM yang lebih efisien, dengan potensi aplikasi pada teknologi nirkabel berkecepatan tinggi dan hemat daya.[10]
OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) merupakan teknik modulasi untuk komunikasi wireless broadband yang tahan melawan frekuensiselective fading dan interferensi narrowband dan efisien menghadapi multi-path delay spread. Untuk mencapai hal tersebut, OFDM membagi aliran data high-rate mejadi aliran rate yang lebih rendah, yang kemudian dikirimkan secara bersama pada beberapa sub-carrier.[11] OFDM biasanya memerlukan cyclic prefix (CP) sehingga efek channel circulant bisa diperoleh. Circulant pada channel ini sangat memudahkan perhitungan karena keberadaan FFT/IFFT pada OFDM. OFDM hanya menggunakan satu (I)FFT para transmitter dan satu FFT para receiver. Hanya saja penggunaan CP ini justru membuat transmisi data tidak efisien, karena CP sebenarnya hanyalah simbol yang disalin kemudian dikirimkan (tidak mengandung informasi).[10]
Dengan konsep yang diajukan oleh Khoirul bersama koleganya di JAIST dan NAIST, yaitu konsep ekualisasi berantai yang disebut chained turbo equalization (CHATUE),[12] CP (bersama dengan guard interval) mampu dihilangkan sama sekali tetapi tidak mengurangi performa dari sistem.[11] CP ini bisa dihilangkan dengan memanfaatkan dan mengumpulkan energi yang tersebar di awal dan di belakang blok data yang sedang diproses. Dalam menelurkan konsep ini, Khoirul mengaku bahwa ia terinspirasi dari proses pengumpulan energi genki dama pada serial animasi Dragon Ball.[13] Penelitian yang melibatkan Khoirul Anwar ini kemudian mendapatkan penghargaan Young Scientist Encouragement award pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei2010, di Taiwan.[14] Salah satu garis besar penelitian tersebut adalah bahwa sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi.
123"Dr. Eng. Khoirul Anwar". Japanese Advanced Institute for Science and Technology. Diarsipkan dari asli tanggal 13-09-2024. Diakses tanggal 2025-04-16.
12"Khoirul Anwar". Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier Institut Teknologi Bandung. 2020-11-04. Diarsipkan dari asli tanggal 16-04-2025. Diakses tanggal 2025-04-16.