[7] Beberapa puisinya telah digubah menjadi musik oleh komponis dan pianis klasik Ananda Sukarlan dalam bentuk Tembang Puitik untuk vokal klasik dan piano.
Proses kreatif
Heru Mugiarso memulai proses kreatif bidang sastra ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama di kota kelahirannya, Purwodadi Kabupaten Grobogan, tahun 1975. Beberapa tokoh yang menginspirasi, kala itu, antara lain Frederico Garcia Lorca, W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohammad, dan Sapardi Djoko Damono yang diekspresikan dalam karya-karya puisi yang kemudian ditampilkan pada panggung apresiasi. Dia juga rajin berkorespondensi dengan beberapa sastrawan di antaranya Korrie Layun Rampan, Ragil Soewarna Pragolapati, dan Linus Suryadi AG. Korrie bahkan pernah membahas puisi-puisi Heru yang dimuat pada rubrik sastra Pendakian Suara Sastra (1979). Sejak remaja Heru bergabung dengan Kumandang Sastra yang diasuh oleh Victor Roesdianto, mengudarakan puisi di program Cakrawala Sastra. Saat Kelompok Penulis Semarang terbentuk, Heru cukup aktif dalam pertemuan-pertemuan komunitas diketuai Bambang Sadono itu. Tahun 1985 Heru mulai meniti karier sebagai pengajar di IKIP Semarang, pada Fakultas Ilmu Pendidikan. Saat itulah aktivitas keseniannya agak menyurut, tetapi dasawarsa1990-an dia terpanggil kembali berkarya. Puluhan puisinya dimuat di surat kabar harian Suara Merdeka yang dikurasi oleh sastrawan Triyanto Triwikromo.
Tonggak penting dari proses kreatifnya adalah ketika berhasil memenangi lomba manuskrip antologi puisi yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastrawan Indonesia pada tahun 2003 dengan menyisihkan para penyair yang lebih dulu berkiprah, seperti Nur Zain Hae, Marhalim Zaini, dan Indra Tjahjadi. Selain itu, beberapa puisi Heru berhasil masuk dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2007. Pada tahun 2012 ia diundang dalam Seminar Sastra Budaya Nusantara Melayu Raya (Numera) di Kota Padang. Dalam acara itu ia bersama beberapa penyair dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand meluncurkan karya masing-masing. Buku antologi Puisi karyanya, Tilas Waktu (Leutikaprio, 2011) yang diluncurkan pada cara tersebut, masuk dalam katalog perpustakaan Cornell University, Yale University dan University of Washington.
Tahun 2013 Ia mencetuskan gerakan Puisi Menolak Korupsi bersama Sosiawan Leak yang di kemudian hari menginspirasi para penyair Indonesia untuk terus bergerak dalam berbagai kegiatan seperti penerbitan buku, roadshow, seminar, workshop, pelatihan, festival baca puisi, di lebih dari empat puluh kota di Indonesia. Pada akhir tahun 2016, Komisi Pemberantasan Korupsi menggandeng Gerakan Puisi Menolak Korupsi dalam rangka peringatan Hari Anti-Korupsi Internasional, di Kota Pekanbaru, di mana Heru hadir sebagai salah satu pembicara. Sebagai penyair, ia telah membacakan karyanya di berbagai tempat dan kota di tanah air di antaranya Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Banjarbaru, Pekanbaru, Tanjungpinang, Blitar, Banyuwangi, Tegal, Kudus, Sragen, dan lain-lain.
Bibliografi
Semarang dalam Sajak (1980),
Narasi 34 Jam (KSI,2001
Perjalanan Ziarah (Manuskrip buku puisi, 2003) – pemenang KSI Award 2003