Hari Pasaran adalah sistem penanggalan tradisional di wilayah pulau Jawa yang terdiri dari lima siklus hari, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus ini berjalan bersamaan dengan tujuh hari masehi, sehingga membentuk perputaran 35 hari yang disebut selapan. Hari pasaran ini dalam kehidupan masyarakat Jawa masih tetap dipakai sampai sekarang, terutama di daerah pedesaan, seperti hari-hari di mana pasar tradisional tersebut buka, yaitu pada hari:
Hari pasaran yang sering dikenal sebagai pancawara ini digunakan dalam berbagai tradisi Jawa, seperti menentukan waktu baik untuk hajatan, berdagang di pasar tradisional, hingga kegiatan spiritual dan ritual adat. Setiap pasaran diyakini memiliki watak atau energi tertentu yang memengaruhi peruntungan, karakter, serta kecocokan suatu kegiatan. Hingga sekarang, hari pasaran tetap hidup dalam budaya Jawa sehari-hari.[1]
Berikut contoh perputaran 35 hari (7 hari Masehi × 5 hari pasaran Jawa) dalam sistem kalender Jawa.
Misal dimulai pada hari Senin Legi:
Senin Legi
Selasa Pahing
Rabu Pon
Kamis Wage
Jumat Kliwon
Sabtu Legi
Minggu Pahing
Senin Pon
Selasa Wage
Rabu Kliwon
Kamis Legi
Jumat Pahing
Sabtu Pon
Minggu Wage
Senin Kliwon
Selasa Legi
Rabu Pahing
Kamis Pon
Jumat Wage
Sabtu Kliwon
Minggu Legi
Senin Pahing
Selasa Pon
Rabu Wage
Kamis Kliwon
Jumat Legi
Sabtu Pahing
Minggu Pon
Senin Wage
Selasa Kliwon
Rabu Legi
Kamis Pahing*
Jumat Pon
Sabtu Wage
Minggu Kliwon.
Setelah itu siklus kembali ke Senin Legi. Sebagai contoh, hari Kamis Pahing jatuh pada tanggal 4 Des 2014, ..., 28 Agust 2025, 2 Okt 2025, dan 6 Nov 2025 (siklus setiap 35 hari atau dalam bahasa Jawa:selapan). Sistem hari kalender ini banyak dipakai untuk menandai hari terbit setiap surat kabar di wilayah pulau Jawa.
Dalam bahasa Jawa, hari Masehi sering diterjemahkan ke bahasa Jawa, sebagai berikut: