Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Pancawara adalah periode satu pekan atau satu minggu yang terdiri dari 5 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Sehingga Pancawara ini merupakan siklus lima hari dalam kalender Jawa, terdiri dari: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pancawara juga sering disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa karena beberapa pasar tradisional hanya buka pada hari tertentu saja misalkan Pasar Legi, Pasar Pahing,Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Kliwon, Surakarta yang buka pada hari pasaran di hari Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon saja dalam satu minggu kalender Jawa (siklus 5 hari).
Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan, satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Sementara dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran. Nama-nama hari dalam sistem pancawara (pasaran) ini adalah: pahing–pon–wage–kliwon–legi1/umanis2. Kombinasi dari keduanya akan membentuk siklus 35 hari (bahasa Jawa: selapan dina) yaitu 7 x 5 hari (lihat hari pasaran)
Di wilayah Jawa, tiap hari dan tanggal dalam sistem kalender saat ini selalu mempunyai dua macam nama hari dari siklus 35 hari tersebut. Misalnya 1 Januari 2001 adalah hari Senin - Paing, berikutnya tanggal 2 Januari 2001 adalah hari Selasa - Pon, kemudian diikuti hari Rabu - Wage, disusul hari Kamis - Kliwon, Jumat - Legi, Sabtu - Paing, Minggu - Pon, Senin - Wage, Selasa - Kliwon, dan seterusnya. Kombinasi dua macam hari ini sampai sekarang masih dipakai dalam penerbitan surat kabar berbahasa Jawa, seperti harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di kota Yogyakarta, misalnya. Selain dari itu, sebagai contoh lain, setiap hari Kamis Pahing (misalnya pada tanggal 4 Des 2014, ..., 28 Agust 2025, 2 Okt 2025, dan 6 Nov 2025) merupakan hari pada saat seluruh pedagang di 31 pasar tradisional sekota Yogyakarta disarankan untuk menggunakan pakaian tradisional sebagai seragam mereka dalam melayani pembeli, seperti yang terjadi di Pasar Talok yang ada di Gendeng Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.[1]
Hari Nepton/Neptu
Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neptu, misalnya:
Paing mempunyai bobot/neptu angka 9
Pon mempunyai bobot/neptu angka 7
Wage mempunyai bobot/neptu angka 4
Kliwon mempunyai bobot/neptu angka 8, dan
Legi mempunyai bobot/neptu angka 5.
Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb:
Seperti disebutkan di atas, tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing, dan mempunyai bobot/neptu angka 13, karena Senin = 4 + Paing = 9. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa.