Hadiya Khalaf Abbas (bahasa Arab: هدیة خلف عباس) (1958 - November 2021) adalah seorang politikus Suriah yang menjabat sebagai Ketua Dewan Rakyat Suriah dari 6 Juni 2016 hingga 20 Juli 2017. Dia adalah satu-satunya perempuan yang pernah memegang jabatan tersebut.[1][2]
Setelah pemilihan umum parlemen Suriah 2016, Hadiya terpilih sebagai Ketua Dewan Rakyat Suriah dalam sidang pertama majelis pada 6 Juni 2016, menjadikannya perempuan pertama yang mencapai jabatan ini. Ia menang tanpa pesaing.[3]
Pada 20 Juli 2017, Parlemen Suriah mengeluarkan resolusi yang memberhentikan Hadiya dari jabatannya sebagai ketua, dengan suara mayoritas anggota. Hadiya dituduh oleh beberapa anggota parlemen karena "mencegah beberapa anggota menyampaikan pendapat mereka dan menutup mata terhadap kesediaan mereka untuk membahas sejumlah pasal sesuai aturan konstitusional," sebuah perilaku yang digambarkan oleh anggota parlemen lainnya sebagai "tidak bertanggung jawab dan ilegal."[4] Wakil Ketua parlemen diangkat sebagai ketua parlemen sementara hingga pemungutan suara Hammouda Sabbagh sebagai pengganti Hadiya dilakukan pada 28 September 2017.[5]
Ia meninggal dunia pada 13 November 2021, di Rumah Sakit Militer Dayr az-Zawr pada usia 63 tahun setelah menderita serangan jantung.[6]
Politik dalam penunjukan dan pemberhentiannya
Pada 2016, Bashar al-Assad menunjuk Hadiya sebagai ketua parlemen perempuan pertama. Penunjukannya itu disebut tidak didasarkan pada prestasi atau dorongan untuk pemberdayaan perempuan, melainkan hanya sebagai sinyal politik. Assad bermaksud mengirim pesan kepada Riyad Hijab, seorang pembelot utama dari provinsi yang sama dengan Hadiya, yang menunjukkan bahwa rezim dapat dengan mudah menggantikannya dengan seseorang yang loyal terhadapnya.
Penunjukan Hadiya menurut beberapa pihak juga bagian dari propaganda internasional. Abbas ingin memberi kesan bahwa rezimnya progresif, sekuler, dan mendukung kepemimpinan perempuan, terlepas dari rekam jejak represifnya. Hanya berselang 15 bulan, ia diberhentikan dan digantikan oleh Hammouda Sabbagh, seorang penganut Kristen Suriah. Pengangkatan penggantinya itu pun disinyalir hanya sebagai simbol adanya inklusivitas agama dan bertujuan melemahkan pemerintahan otonom di Suriah timur laut.[7]