Ia memimpin Angkatan Darat ke-4 Wehrmacht selama invasi Polandia pada tahun 1939 dan Pertempuran Prancis pada tahun 1940 yang membuatnya meraih kenaikan pangkat menjadi Generalfeldmarschall. Kluge kemudian memimpin Angkatan Darat ke-4 dalam Operasi Barbarossa dan Pertempuran Moskwa pada tahun 1941. Di tengah krisis akibat serangan balik Soviet pada Desember 1941, Kluge dipromosikan untuk memimpin Grup Angkatan Darat Tengah menggantikan GeneralfeldmarschallFedor von Bock. Sejumlah anggota perlawanan militer Jerman terhadap Adolf Hitler bertugas di dalam stafnya, termasuk Henning von Tresckow. Kluge mengetahui aktivitas para konspirator tersebut, tetapi menolak memberikan dukungannya kecuali jika Hitler telah terbunuh. Komandonya di Front Timur berlangsung hingga Oktober 1943 ketika Kluge mengalami luka parah dalam sebuah kecelakaan mobil.
Setelah masa pemulihan yang panjang, Kluge diangkat sebagai OB West (Panglima Tertinggi Barat) di Prancis yang diduduki pada Juli 1944, setelah pendahulunya, GeneralfeldmarschallGerd von Rundstedt, dicopot dari jabatannya karena anggapan defaitisme. Pasukan Kluge tidak mampu menghentikan momentum invasi Normandia dan ia mulai menyadari bahwa perang di Barat telah kalah. Meskipun Kluge bukan konspirator aktif dalam Plot 20 Juli, buntut dari kegagalan kudeta tersebut ia akhirnya mengakhiri hidupnya pada 19 Agustus 1944, setelah dipanggil kembali ke Berlin untuk melakukan pertemuan dengan Hitler. Jabatan Kluge kemudian digantikan oleh GeneralfeldmarschallWalter Model.
Kehidupan awal dan karier
Kluge lahir pada 30 Oktober 1882 di Posen, yang saat itu berada di negara bagian Prusia, Jerman (sekarang di Polandia barat).[2] Ayahnya, Max von Kluge, berasal dari keluarga militer aristokrat Prusia. Seorang komandan yang terkemuka, Max adalah seorang Generalleutnant di Angkatan Darat Kekaisaran Jerman yang bertugas dalam Perang Dunia I. Ia menikah dengan Elise Kühn-Schuhmann pada tahun 1881.[2] Günther von Kluge adalah salah satu dari dua bersaudara, memiliki seorang adik laki-laki bernama Wolfgang (1892–1976).[2] Wolfgang bertugas dalam kedua perang dunia, mencapai pangkat Generalleutnant pada tahun 1943, dan menjabat sebagai komandan Benteng Dunkirk antara Juli dan September 1944.[3]
Pada tahun 1901, Günther von Kluge—terkadang dipanggil Hans Günther von Kluge atau Der kluge Hans ("Hans yang Cerdas") merujuk pada seekor kuda pertunjukan—diterima sebagai perwira di Resimen Artileri Lapangan ke-46 Angkatan Darat Jerman.[4][2] Ia bertugas di Staf Umum antara tahun 1910 dan 1918, mencapai pangkat Hauptmann (setara Kapten) di Front Barat selama Perang Dunia I. Ia terluka di Verdun, dan kemudian menjadi Hauptmann di Staf Umum.[5] Ia tetap bertahan di Reichswehr pascaperang selama era Weimar, menjadi Oberst (setara Kolonel) pada tahun 1930, Generalmajor pada tahun 1933, dan Generalleutnant setahun kemudian.[2] Ia menjabat sebagai kepala staf von Brauchitsch di Prusia Timur pada tahun 1933 dan dipandang sebagai sosok yang kemudian "mengikuti jejak keberhasilan von Brauchitsch."[6] Pada 1 April 1934, Kluge mengambil alih komando Divisi ke-6 di Münster.[2] Pada tahun 1935, proklamasi pembentukan Wehrmacht oleh Adolf Hitler—angkatan bersenjata Jerman yang diperbesar—mendorong penunjukan Kluge ke Korps ke-6 dan kemudian Grup Angkatan Darat ke-6, yang kelak menjadi Angkatan Darat ke-4.[2]
Kluge percaya bahwa "militarisme mentah" Hitler akan membawa Jerman menuju bencana.[2] Selama Krisis Sudetenland, ia menjadi anggota faksi rahasia antiperang yang dipimpin oleh Ludwig Beck dan Ernst von Weizsäcker, yang berharap dapat menghindari konflik bersenjata atas wilayah yang dipersengketakan tersebut. Krisis tersebut berhasil dihindari melalui Persetujuan München pada 30 September 1938. Meskipun secara pribadi bersikap kritis terhadap Nazi, Kluge percaya pada prinsip Lebensraum dan merasa bangga atas persenjataan kembali Wehrmacht.[7]
Hitler menyetujui garis besar Komando Tinggi Angkatan Darat Jerman untuk menginvasi Polandia dengan dua grup angkatan darat dalam sebuah pengarahan militer pada 26–27 April 1939.[8] Angkatan Darat ke-4 yang dipimpin Kluge ditugaskan ke Grup Angkatan Darat Utara di bawah komando Fedor von Bock.[9] Kampanye Polandia dimulai pada 1 September, memanfaatkan perbatasan panjang negara tersebut dengan Jerman. Angkatan Darat ke-4 bertugas bergerak maju ke timur menuju Koridor dari Pomerania Barat untuk terhubung dengan Angkatan Darat ke-3; kota pelabuhan Danzig jatuh pada hari pertama.[10]
Pada hari berikutnya, kekhawatiran akan adanya garis pertahanan Polandia yang kuat di sepanjang Sungai Brda tidak terbukti. Angkatan Darat ke-4 menyeberangi sungai tersebut, mengepung Divisi Infanteri ke-9, Divisi Infanteri ke-27, dan Brigade Kavaleri Pomerania Polandia di dalam Koridor. Kluge mengirim Divisi Panzer ke-10 dari angkatan daratnya menyeberangi Sungai Vistula, bertemu dengan Angkatan Darat ke-3 pada 3 September.[11] Korps Panzer XIX (Heinz Guderian) dari Angkatan Darat ke-4 merebut kota Brześć pada 17 September setelah tiga hari pertempuran dalam Pertempuran Brześć Litewski.[12] Grup Angkatan Darat Utara diberitahu mengenai invasi Tentara Merah ke Polandia timur pada hari yang sama dan diinstruksikan untuk tetap berada di sebelah barat Sungai Bug.[12] Brześć diserahkan kepada pasukan Soviet pada 22 September.[13] Atas kemampuannya mengepung pasukan Polandia pada tahap awal invasi, Kluge meraih pujian dari Hitler sebagai salah satu komandannya yang paling cemerlang.[9]
Pertempuran Prancis
Kluge bersama Hitler saat kunjungan ke pasukan di Prancis, 1940
Diluncurkan pada 10 Mei, operasi ini dimulai dengan kesuksesan. Korps Kluge bergerak maju dengan cepat, mencapai Sungai Meuse dalam dua hari.[16] Penyeberangan sungai, yang dipimpin oleh komandan Divisi Panzer ke-7 Erwin Rommel, berhasil membangun tumpuan pantai (bridgehead) di tepi barat Sungai Meuse pada 13 Mei dan memaksa Angkatan Darat ke-9 Prancis mundur.[17] Pasukan Kluge—khususnya Divisi Panzer ke-7—mencapai terobosan cepat dari tumpuan pantai mereka pada hari-hari berikutnya; antara 16 dan 17 Mei, Rommel menawan 10.000 prajurit dan 100 tank, serta memusnahkan sisa-sisa Angkatan Darat ke-9 Prancis dengan hanya menelan 35 korban jiwa/luka dari pihak mereka.[18] Karena terlampau maju dan jauh di depan grup angkatan darat, Divisi Panzer ke-5 dan ke-7 menangkis serangan balik gabungan Inggris-Prancis di dekat kota Arras pada 21 Mei.[19]
Setelah konferensi dengan Hitler dan Rundstedt, Kluge mengeluarkan perintah kepada unit-unit Panzernya untuk berhenti pada 24 Mei, 16km (9,9mi) dari Dunkerque—yang saat itu menjadi jalur melarikan diri bagi Pasukan Ekspedisi Britania.[19] Jeda dua hari tersebut memberi kesempatan bagi Sekutu untuk mengonsolidasikan kekuatan personel mereka di sekitar Dunkerque dan mempersiapkan sebuah evakuasi.[19] Pada 5 Juni, saat dimulainya Fall Rot, fase kedua dari rencana invasi tersebut, Angkatan Darat ke-4 pimpinan Kluge membantu mencapai terobosan pertama di Amiens dan mencapai Sungai Seine pada 10 Juni.[20][21] Kepemimpinan komando Kluge dan kepemimpinan jenderal Rommel sepanjang invasi tersebut berbuah kenaikan pangkatnya menjadi Generalfeldmarschall (marsekal lapangan) pada 19 Juli.[20]
Pada awal Operasi Barbarossa pada Juni 1941, Kluge memimpin Angkatan Darat ke-4 di Grup Angkatan Darat Tengah. Grup Angkatan Darat Tengah (yang dipimpin oleh von Bock) juga mencakup Angkatan Darat ke-9 (Strauß), serta dua formasi bergerak, yaitu Grup Panzer ke-2 (Heinz Guderian) dan Grup Panzer ke-3 (Hermann Hoth).[22] Pada 29 Juni, Kluge memerintahkan agar tentara musuh wanita berseragam ditembak mati, sejalan dengan pandangan dunia ideologi Nazi yang menganggap kombatan wanita sebagai bentuk lain dari bolshevik "biadab" yang merusak peran gender alami. Perintah tersebut kemudian dibatalkan dan tentara wanita berseragam harus ditangkap sebagai gantinya.[23] Pada 4 Juli, OKH menempatkan Grup Panzer ke-2 dan ke-3 di bawah komando Kluge untuk meningkatkan koordinasi antara ujung tombak lapis baja yang bergerak cepat dan pasukan infanteri yang lebih lambat. Formasi yang dihasilkan memberikan kesatuan di atas kertas, tetapi para komandan grup Panzer sering kali gusar terhadap perintah-perintah Kluge, dan Guderian serta Kluge saling membenci satu sama lain.[24] Kluge harus menyerahkan semua korpsnya kecuali dua korps infanteri miliknya; korps lainnya dialokasikan ke Angkatan Darat ke-2, yang sebelumnya ditahan sebagai cadangan.[25]
Perkiraan perang singkat yang tidak akan membutuhkan eksploitasi tenaga kerja Soviet demi upaya perang Jerman, Komando Tinggi dan para pemimpin militer Jerman tidak melakukan persiapan yang memadai untuk menampung tawanan perang dan tahanan sipil.[butuh rujukan] Di wilayah komando Kluge, 100.000 tawanan perang dan 40.000 warga sipil digiring ke sebuah kamp terbuka yang kecil di Minsk pada Juli 1941. Di tengah kondisi yang kian memburuk dan kelaparan di dalam kamp, Organisasi Todt memohon kepada Kluge untuk membebaskan 10.000 pekerja terampil. Kluge menolak, karena ingin membuat keputusan mengenai para tahanan itu sendiri.[26]
Rencana Kelaparan Nazi (salah satu pilar dari perang pemusnahan terhadap Uni Soviet) mendorong Wehrmacht untuk sebagian besar "hidup dari hasil bumi setempat". Penjarahan, pemerasan, dan penganiayaan terhadap populasi sipil merajalela, terutama di daerah-daerah belakang. Pada September 1941, Kluge mengeluarkan perintah kepada pasukannya yang bertujuan untuk memulihkan disiplin. Perintah tersebut menyatakan bahwa sudah "saatnya untuk menghentikan sepenuhnya metode-metode yang tidak dibenarkan dalam memperoleh pasokan, penggerebekan, penjarahan ke wilayah yang luas, serta semua aktivitas kriminal dan tidak masuk akal". Kluge mengancam akan mengambil tindakan keras terhadap mereka yang bertanggung jawab, beserta para komandan atasan mereka yang gagal mempertahankan disiplin.[27]
Selama pergerakan maju Jerman menuju Moskwa dari September hingga Desember 1941 (Operasi Typhoon), Kluge membawahi Grup Panzer ke-4 (Erich Hoepner) di bawah Angkatan Darat ke-4. Pada awal Oktober, Grup Panzer ke-4 menyelesaikan pengepungan di Vyazma. Sangat bertentangan dengan keinginan Hoepner, Kluge memerintahkannya untuk menghentikan pergerakan maju, karena unit-unitnya dibutuhkan untuk mencegah upaya penerobosan oleh pasukan Soviet. Hoepner merasa yakin bahwa membersihkan kantong pengepungan dan pergerakan maju ke Moskwa dapat dilakukan secara bersamaan. Ia memandang tindakan Kluge sebagai campur tangan yang memicu gesekan dan "perselisihan" dengan atasannya, sebagaimana yang ia tulis dalam sebuah surat ke rumahnya pada 6 Oktober.[28] Hoepner tampaknya tidak menyadari bahwa unit-unitnya sangat kekurangan bahan bakar; Divisi Panzer ke-11 melaporkan tidak memiliki bahan bakar sama sekali. Hanya Divisi Panzer ke-20 yang terus bergerak maju menuju Moskwa di tengah kondisi jalan yang kian memburuk.[29]
Pada 17 November, Grup Panzer ke-4 kembali menyerang ke arah Moskwa bersama Korps Angkatan Darat V dari Angkatan Darat ke-4, sebagai bagian dari kelanjutan Operasi Typhoon oleh Grup Angkatan Darat Tengah. Grup panzer dan korps angkatan darat tersebut merupakan pasukan terbaik Kluge yang paling siap untuk tindakan ofensif. Dalam pertempuran selama dua minggu, pasukan Jerman bergerak maju sejauh 60km (37mi) (4km (2,5mi) per hari).[30] Kurangnya jumlah tank, transportasi bermotor yang tidak memadai, serta situasi pasokan yang rentan, ditambah dengan perlawanan sengit Tentara Merah dan keunggulan udara yang diraih oleh pesawat tempur Soviet, menghambat serangan tersebut.[31]
Menghadapi tekanan dari Komando Tinggi Jerman, Kluge akhirnya mengerahkan sayap selatannya yang lebih lemah untuk ikut menyerang pada 1 Desember. Buntut dari pertempuran tersebut, Hoepner dan Guderian menyalahkan lambatnya pengerahan sayap selatan Angkatan Darat ke-4 oleh Kluge atas kegagalan Jerman mencapai Moskwa. Sejarawan David Stahel menulis bahwa penilaian ini sangat membesar-besarkan kemampuan pasukan tersisa Kluge.[32] Penilaian tersebut juga gagal menyadari kenyataan bahwa Moskwa adalah sebuah kota metropolitan dan pasukan Jerman kekurangan jumlah personel untuk mengepungnya. Dengan sabuk pertahanan luarnya yang telah rampung pada 25 November, Moskwa menjadi posisi terbenteng yang tidak mampu direbut oleh Wehrmacht melalui serangan frontal.[33] Serangan-serangan selanjutnya dibatalkan pada 5 Desember; Tentara Merah melancarkan serangan balik musim dinginnya pada hari yang sama.[34]
Grup Angkatan Darat Tengah
Kluge bertemu dengan para jenderal Grup Angkatan Darat Tengah, Agustus 1942
Setelah pencopotan Fedor von Bock dari komando Grup Angkatan Darat Tengah pada 18 Desember, Kluge dipromosikan untuk menggantikannya.[35][36] Ia mengambil alih jabatan tersebut pada hari berikutnya. Pertempuran sengit berlanjut di wilayah Grup Angkatan Darat Tengah pada musim dingin dan awal musim semi, tanpa ada pihak yang mampu membuat kemajuan berarti. Pasukan Jerman mampu bertahan, walau hanya dengan bersusah payah.[37] Selama kampanye musim panas tahun 1942 di bagian selatan Uni Soviet (Fall Blau), grup angkatan darat tersebut bertugas mempertahankan posisinya.[38]
Pada 30 Oktober 1942, Kluge menerima surat ucapan selamat dari Hitler, beserta sebuah cek senilai setengah juta Reichsmark atas namanya yang dikeluarkan dari kas negara Jerman.[b][39] Surat tersebut menyertakan janji bahwa biaya perbaikan propertinya dapat ditagihkan kepada negara. Ini merupakan bagian dari skema penyuapan perwira senior militer.[40] Kluge menerima uang tersebut; setelah kritik tajam dari kepala stafnya, Henning von Tresckow, yang mengecamnya karena korupsi, ia setuju untuk bertemu dengan Carl Friedrich Goerdeler, seorang penentang rezim Nazi, pada November 1942.[41] Kluge berjanji kepada Goerdeler bahwa ia akan menangkap Hitler pada kunjungan berikutnya ke Front Timur. Namun, setelah menerima "hadiah" lain dari Hitler, ia mengubah pikirannya dan memutuskan untuk tetap setia.[42] Hitler, yang tampaknya mendengar bahwa Kluge tidak puas dengan kepemimpinannya, menganggap "hadiah-hadiah" tersebut memberinya hak atas kesetiaan total Kluge.[42]
Rencana Soviet untuk Operasi Mars yang tidak berhasil melawan tonjolan Rzhev, November – Desember 1942. Wehrmachtcode: de is deprecated mengosongkan tonjolan tersebut dalam Operasi Büffel, 1–22 Maret 1943.
Sepanjang sebagian besar tahun 1942 dan awal 1943, Grup Angkatan Darat Tengah terlibat dalam perang posisi di sekitar tonjolanRzhev, bertahan melawan serangan-serangan Tentara Merah yang secara kolektif dikenal sebagai Pertempuran Rzhev (Januari 1942 hingga Maret 1943). Pasukan Soviet hanya memperoleh sedikit wilayah dibandingkan dengan kerugian mereka, terutama dalam Operasi Mars yang gagal (November hingga Desember 1942) yang dimulai di waktu yang hampir bersamaan dengan Operasi Uranus, yaitu pengepungan pasukan Jerman dalam Pertempuran Stalingrad. Pasukan Kluge telah terkuras dan pada awal tahun 1943 ia memperoleh izin untuk menarik Angkatan Darat ke-9 (Walter Model) dan elemen-elemen dari Angkatan Darat ke-4 (Gotthard Heinrici) dari tonjolan tersebut. Operasi Büffel yang menyertainya membuat Wehrmachtcode: de is deprecated meninggalkan tonjolan tersebut secara terencana antara 1 hingga 22 Maret 1943. Operasi tersebut memangkas tonjolan Rzhev, memperpendek garis pertahanan Jerman sejauh 370km (230mi).[43] Penarikan mundur ini disertai dengan kampanye bumi hangus dan keamanan yang kejam, yang mengakibatkan kehancuran meluas, pembakaran desa-desa, deportasi populasi yang sehat secara fisik untuk kerja paksa, serta pembunuhan warga sipil oleh pasukan Wehrmachtcode: de is deprecated dengan dalih Bandenbekämpfungcode: de is deprecated (perang anti-partisan).[44]
Pada 13 Maret 1943, Hitler mengizinkan beberapa serangan, termasuk satu serangan terhadap Tonjolan Kursk.[45][46] Ketika perlawanan terakhir Soviet dalam Pertempuran Kharkov Ketiga (Februari hingga Maret 1943) meredup, Erich von Manstein, komandan Grup Angkatan Darat Selatan, mencoba membujuk Kluge untuk segera melancarkan serangan terhadap Front Tengah Soviet, yang sedang mempertahankan sisi utara tonjolan tersebut. Kluge menolak, karena percaya bahwa pasukannya terlalu lemah untuk melancarkan serangan semacam itu.[47] Pada pertengahan April, di tengah cuaca buruk dan dengan pasukan Poros yang kelelahan serta membutuhkan perlengkapan ulang, serangan-serangan Poros ditunda.[48][49]
Pada 15 April, Hitler dan OKH mengeluarkan perintah operasional baru, yang menyerukan serangan terhadap tonjolan Kursk, Unternehmen Zitadellecode: de is deprecated (Operasi Citadel), untuk dimulai sekitar tanggal 3 Mei 1943.[50] Citadel, yang berujung pada Pertempuran Kursk, mengandalkan sebuah gerakan menjepit (pengepungan ganda). Grup Angkatan Darat Tengah bertugas menyediakan Angkatan Darat ke-9 untuk membentuk jepitan utara.[51]Angkatan Darat Panzer ke-4 dan Detasemen Angkatan Darat Kempf dari Grup Angkatan Darat Selatan akan bergerak maju ke utara untuk bertemu dengan Angkatan Darat ke-9 di sebelah timur Kursk.[52][53] Seiring persiapan berlanjut, pada akhir April, Model bertemu dengan Hitler untuk menyampaikan kekhawatirannya tentang posisi pertahanan kuat yang dibangun oleh Tentara Merah di sektornya.[54]
Hitler memanggil para perwira senior dan penasihatnya ke München untuk menghadiri pertemuan pada 4 Mei.[55] Para peserta mengajukan sejumlah opsi: segera melancarkan serangan dengan pasukan yang ada saat itu, menunda serangan lebih lama demi menantikan kedatangan tank-tank baru yang lebih baik, merombak operasi secara radikal, atau membatalkannya sama sekali. Manstein mendukung serangan lebih awal tetapi meminta dua divisi infanteri tambahan, yang dijawab Hitler bahwa tidak ada divisi yang tersedia.[55] Kluge secara tegas menentang penundaan dan mengesampingkan materi pengintaian dari Model.[56] Guderian, yang saat itu menjabat sebagai Inspektur Pasukan Lapis Baja, menentang operasi tersebut dan menyatakan bahwa "serangan itu tidak ada gunanya".[57] Konferensi tersebut berakhir tanpa Hitler mengambil keputusan, tetapi Citadel tidak dibatalkan.[57]
Operasi Jerman, yang diluncurkan pada 5 Juli, mengalami kegagalan sejak awal. Di sektor utara, pasukan Soviet telah menghentikan pergerakan maju Jerman pada 10 Juli.[58] Pada 12 Juli, Tentara Merah melancarkan Operasi Kutuzov, yaitu serangan balasan terhadap tonjolan Orel, yang mengancam sayap dan bagian belakang Angkatan Darat ke-9. Pada malam 12 Juli, Hitler memanggil Kluge dan Manstein ke markas besarnya di Rastenburg, Prusia Timur, tempat ia mengumumkan pembatalan Citadel.[59] Di tengah pertempuran sengit, Tentara Merah memasuki Orel pada 5 Agustus, dan pada 18 Agustus mencapai pinggiran kota Bryansk, sehingga melenyapkan tonjolan Orel.[60] Dengan Grup Angkatan Darat Tengah yang mundur ke posisi-posisi pertahanan, pasukan Jerman bertempur dengan sengit. Hal ini membuat Soviet membutuhkan lebih banyak waktu hingga akhir September untuk membebaskan Smolensk.[61] Pada 27 Oktober 1943, Kluge mengalami luka parah dalam sebuah kecelakaan mobil dan tidak dapat kembali bertugas hingga Juli 1944.[62]GeneralfeldmarschallErnst Busch menggantikan Kluge sebagai komandan Grup Angkatan Darat Tengah.[63]
Front Barat
Kluge bersama para perwira Jerman OB West lainnya di Prancis, Juli 1944
Pada Juli 1944, Kluge diangkat sebagai OB West (Panglima Angkatan Darat Jerman di Barat) setelah pendahulunya, Gerd von Rundstedt, dicopot dari jabatannya karena mengutarakan bahwa perang telah kalah.[64] Dengan inisiatif berada di tangan Sekutu, Kluge segera berusaha menegaskan wewenang atas Rommel, yang memimpin Grup Angkatan Darat B, serta membangun kepercayaan diri komandonya dalam mempertahankan Normandia.[65] Namun pada 12 Juli, setelah meninjau garis depan dan menerima pengarahan dari para komandan lapangan, Kluge mengungkapkan keraguannya kepada Alfred Jodl: "Saya bukan seorang pesimis. Namun dalam pandangan saya, situasinya tidak bisa lebih suram lagi".[65] Lima hari kemudian, Rommel terluka ketika sebuah pesawat Spitfire milik Angkatan Udara Kerajaan Kanada (RCAF) memberondong mobil dinasnya, menyebabkan kendaraan tersebut terlempar keluar dari jalan; Kluge menggantikannya dalam komando Grup Angkatan Darat B sembari tetap memegang jabatan lainnya.[65]
Sekutu mendesak pasukan Jerman keluar dari dataran tinggi penting di Saint-Lô pada bulan Juli, membuka jalan bagi serangan besar dalam Kampanye Normandia.[66] Diluncurkan pada 25 Juli, Operasi Cobra ditujukan bagi pasukan AS untuk memanfaatkan situasi di mana angkatan darat Jerman sedang disibukkan oleh serangan-serangan Inggris dan Kanada di sekitar Caen, serta mencapai terobosan di Prancis barat laut. Pada 28 Juli, operasi tersebut berhasil menembus garis pertahanan Jerman dan perlawanan terhadap pasukan Amerika menjadi terpecah-pecah.[67] Karena kekurangan sumber daya untuk mempertahankan garis depan, unit-unit Jerman melancarkan serangan balasan yang nekat untuk melepaskan diri dari pengepungan, sementara Kluge mengirimkan bala bantuan—yang terdiri dari elemen-elemen Divisi Panzer ke-2 dan Divisi Panzer ke-116—ke arah barat dengan harapan dapat mencegah kehancuran; dalam pertempuran yang sengit, pasukannya menderita kerugian besar dalam jumlah prajurit dan tank yang tidak dapat digantikannya.[68]
Pada hari-hari terakhir bulan Juli, kondisi angkatan darat Jerman di Normandia telah sangat terpuruk akibat serangan-serangan Sekutu sehingga Kluge tidak dapat lagi mempertahankan pertahanan di Normandia; ia tidak memiliki prospek bala bantuan akibat Operasi Bagration, yaitu serangan musim panas Soviet terhadap Grup Angkatan Darat Tengah, dan hanya sedikit orang Jerman yang percaya bahwa mereka masih bisa menyelamatkan kemenangan.[69] Antara 1 dan 4 Agustus, tujuh divisi dari Angkatan Darat Ketiga Amerika Serikat, di bawah komando Letnan Jenderal George S. Patton, bergerak maju dengan cepat melewati Avranches dan menyeberangi jembatan di Pontaubault menuju Brittany.[70]
Penerobosan Sekutu dari tumpuan pantai Normandia, 1–13 Agustus 1944
Menentang saran Kluge untuk mundur, Hitler memerintahkan sebuah serangan balasan, Operasi Lüttich, antara Mortain dan Avranches.[71][72] Ia menuntut agar seluruh unit Panzer yang tersedia bekerja sama dalam serangan terpusat yang bertujuan merebut kembali Semenanjung Cotentin dan memutus pasokan pasukan AS di Brittany.[71] Menurut Perwira Operasi OB West Bodo Zimmermann, Kluge tahu "sangat baik bahwa menjalankan perintah ini berarti keruntuhan front Normandia", tetapi kekhawatirannya diabaikan.[71] Kluge hanya dapat mengumpulkan empat divisi Panzer yang telah menyusut pasukannya saat operasi dimulai pada 7 Agustus. Serangan tersebut terhenti 15km (9,3mi) dari Avranches, terutama karena keunggulan udara Sekutu, meninggalkan unit-unit Jerman rentan terhadap pengepungan.[73][74]
Serangan terakhir, Operasi Tractable, diluncurkan oleh pasukan Kanada pada 14 Agustus bersamaan dengan pergerakan maju pasukan Amerika ke arah utara menuju Chambois; tujuan mereka adalah mengepung dan memusnahkan Angkatan Darat ke-7 dan Angkatan Darat Panzer ke-5 di dekat kota Falaise. Dalam perintah terakhirnya sebagai komandan OB West, Kluge mengeluarkan perintah penarikan mundur berskala penuh ke arah timur pada 16 Agustus.[75] Sekutu baru dapat merebut Falaise pada hari yang sama, meninggalkan celah sejauh 24km (15mi) antara pasukan Kanada dan Amerika—yang dikenal sebagai Celah Falaise.[76] Pada 22 Agustus, celah tersebut—yang dipertahankan secara mati-matian oleh pihak Jerman untuk memungkinkan pasukan mereka meloloskan diri—berhasil ditutup, mengakhiri bagian dari Pertempuran Normandia tersebut dengan kemenangan Sekutu.[77] Saat sisa-sisa Grup Angkatan Darat B melarikan diri ke arah timur, Sekutu bergerak maju tanpa perlawanan. Meskipun sekitar 100.000 prajurit Jerman berhasil meloloskan diri, 10.000 tewas dan 40.000–50.000 lainnya tertangkap.[76]
Plot bom dan kematian
Melalui Carl-Heinrich von Stülpnagel, Kluge mengetahui Plot 20 Juli terhadap Hitler; ia setuju untuk mendukung perebutan kekuasaan oleh para konspirator jika Hitler terbunuh.[78] Di Paris, para konspirator menangkap lebih dari 1.200 anggota SS dan SD, dan setelah upaya pembunuhan tersebut gagal, Stülpnagel dan Caesar von Hofacker bertemu dengan Kluge di markas besarnya di La Roche-Guyon.[78][79] Setelah mengetahui bahwa Hitler selamat, Kluge menarik kembali dukungannya dan membatalkan surat perintah penangkapan tersebut.[78] Pada 15 Agustus, mobil Kluge rusak akibat serangan bom Sekutu dan ia terputus kontak dari pasukannya selama beberapa jam. Hitler segera mencurigai Kluge sedang bernegosiasi dengan Sekutu. Ia dicopot dari jabatannya dua hari kemudian dan digantikan oleh Model.[80] Ketika dipanggil kembali ke Berlin untuk melakukan pertemuan dengan Hitler, Kluge merasa yakin bahwa dirinya telah terseret dalam Plot 20 Juli dan memilih untuk mengakhiri hidupnya pada 19 Agustus menggunakan kalium sianida.[81] Dalam kesaksian terakhirnya, ia menegaskan kembali kesetiaannya kepada Hitler dan menyampaikan pandangannya bahwa Jerman harus mengakhiri perang, dengan menulis bahwa "rakyat Jerman telah mengalami penderitaan yang begitu luar biasa sehingga sudah saatnya untuk mengakhiri kengerian ini".[80][82]
Salib Kesatria pada 30 September 1939 sebagai komandan Angkatan Darat ke-4[85]
Daun Ek pada 18 Januari 1943 sebagai komandan Grup Angkatan Darat Tengah[85]
Pedang pada 29 Oktober 1943 sebagai komandan Grup Angkatan Darat Tengah[85]
Catatan
↑Julukan ini merupakan permainan kata dari nama belakangnya (kata klug dalam bahasa Jerman berarti "cerdas" atau "pintar") sekaligus merujuk pada Kluger Hans, seekor kuda di Jerman pada awal abad ke-20 yang terkenal karena diklaim mampu melakukan perhitungan matematika.
↑Pada saat itu, 500.000 Reichsmark bernilai sekitar $200.000 Dolar AS atau £50.000.
↑Die Zeit 2011: "Komandan Angkatan Darat ke-4, Günther von Kluge, menetapkan pada Juni 1941 bahwa prajurit wanita musuh yang berseragam harus ditembak mati. Perintah tersebut kemudian ditarik kembali – prajurit wanita Tentara Merah kini harus ditawan [...]."
Boog, Horst; Förster, Jürgen; Hoffmann, Joachim; Klink, Ernst; Müller, Rolf-Dieter; Ueberschär, Gerd R., ed. (1998). "The Army and the Navy". Germany and the Second World War: Attack on the Soviet Union. Vol.IV. Oxford and New York: Clarendon Press. ISBN978-0-19-822886-8.
Hürter, Johannes (2007). Hitlers Heerführer. Die deutschen Oberbefehlshaber im Krieg gegen die Sowjetunion 1941/42[Hitler's army commander. The German commander-in-chief in the war against the Soviet Union 1941/42]. Oldenbourg Verlag. ISBN978-3-486-57982-6.
Kinder, Sebastian; Porada, Haik Thomas (2017). Das Havelland um Rathenow und Premnitz: Eine landeskundliche Bestandsaufnahme (dalam bahasa German) (Edisi 2nd). Böhlau Köln. ISBN978-341222297-0. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Mitcham, Samuel W. (2008). Rommel's Desert Commanders: The Men Who Served the Desert Fox, North Africa, 1941-42. Stackpole Books. ISBN978-0-8117-3510-0.
Newton, Steven H. (2006). Hitler's Commander: Field Marshal Walter Model – Hitler's Favorite General. Cambridge, MA: Da Capo Press. ISBN978-0-306-81399-3.
Scherzer, Veit (2007). Die Ritterkreuzträger 1939–1945[The Knight's Cross Bearers 1939–1945] (dalam bahasa German). Jena, Germany: Scherzers Militaer-Verlag. ISBN978-3-938845-17-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Thomas, Franz (1997). Die Eichenlaubträger 1939–1945 Band 1: A–K[The Oak Leaves Bearers 1939–1945 Volume 1: A–K] (dalam bahasa German). Osnabrück, Germany: Biblio-Verlag. ISBN978-3-7648-2299-6. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)