Selain oleh penduduk asli, Distrik Thon Buri relatif sejak awal juga dihuni oleh pendatang asing, pertama-tama para pedagangTionghoa, kemudian orang Portugis setelah jatuhnya Ayutthaya ke tangan Burma pada tahun 1767. Selain orang Tionghoa dan Portugis, terdapat pula komunitas Muslim dan Mon dari Burma, serta para imam Prancis, khususnya di kawasan yang disebut Kudi Chin. Wilayah ini hingga kini masih mempertahankan banyak kelenteng Tionghoa, masjid, serta Gereja Santa Cruz, yang menjadi gereja Katolik kedua yang dibangun di Thailand.[2]
Distrik ini dahulu bernama Ratchakhrue (ราชคฤห์), yang diambil dari sebuah wat di sekitar distrik yang memiliki nama yang sama. Pada 11 Juli 1916, distrik ini diubah namanya menjadi Bang Yi Ruea (sesuai dengan lokasi kantor distrik yang baru), dan akhirnya menjadi Thon Buri pada 17 April 1939.[3] Distrik tersebut kemudian termasuk dalam Provinsi Thon Buri. Pada Desember 1971, provinsi ini digabungkan dengan Bangkok untuk membentuk wilayah metropolitan Bangkok, yang berlangsung hingga saat ini.
Phra Phuttha Trairattananayok, yang juga dikenal sebagai Luang Pho To atau Samphokong, merupakan arca Buddha utama di Wat Kanlayanamit.
Di Distrik Thon Buri dan kawasan sekitarnya terdapat sejumlah tempat ibadah serta bangunan bersejarah. Salah satu tempat utama di kawasan ini adalah Monumen Raja Taksin di Wongwian Yai. Monumen ini didirikan untuk mengenang Raja Taksin Agung, penguasa yang mendirikan Kerajaan Thonburi setelah jatuhnya Ayutthaya.
Terdapat juga sebuah gereja Katolik yakni Gereja Santa Cruz dan juga Gereja Presbiterian Pertama Samray (First Presbyterian Church, Samray), yang merupakan salah satu gereja Protestan tertua di Thailand.
Kawasan ini juga memiliki sejumlah wihara Buddha ternama, seperti Wat Kanlayanamit, kuil kerajaan yang terkenal dengan arca Buddha besar Phra Phuttha Trai Rattananayok dan lonceng raksasanya. Di distrik ini juga terdapat Wat Prayurawongsawat dikenal akan stupa putih besarnya, serta Wat Intharam.