Deddy menghembuskan napas terakhir pada 18 April 2018 sekitar pukul 07.00 WIB di kediamannya. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.[2]
Sebelum di dunia film
Walaupun sejak muda ia tertarik pada dunia senibudaya, Deddy tidak sejak awal berkecimpung di bidang sinematografi. Pada awalnya ia adalah seorang guru di SMEA Negeri Klaten, mengajar Prakarya. Tidak puas sebagai guru, baru kemudian ia mencoba hijrah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Semula ia menjadi tenaga kreatif di PT Sanggar Prativi. Ia meningkatkan kemampuan aktingnya dengan mengikuti kursus elementer sinematografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia.
Lewat film pertamanya, Awan Jingga (1970) Deddy masuk dalam dunia film. Bila pada awal-awal kariernya di depan kamera ia mendapat peran jagoan, selanjutnya peran yang dimainkannya beragam: Pernah ia menjadi seorang pendekar (dalam Panji Tengkorak), santri (dalam Atheis), peranakan Tionghoa (Mustika Ibu), pawang buaya (Buaya Putih), sampai penjahat (Marabunta, Doa yang Mengancam), pembunuh (Laila Majenun) atau narapidana (Embun Pagi). Namun, ia juga pernah memerankan tokoh penting, Jenderal Sudirman (Janur Kuning). Beragam peranan itu menunjukkan kemampuan Deddy dalam seni peran. Selain itu ia juga terkenal dengan perannya dalam sinetron era 1980-an, Rumah Masa Depan.[3]
Akhir karier film
Ketika usianya makin bertambah, Deddy mengurangi kegiatannya di dunia akting, dan peran yang sesuai untuk Deddy memang terbatas. Dalam film terakhirnya yang dibuat tahun 1992, Tutur Tinular III ia menjadi sebagai seorang empu yang berpraktik sebagai seorang "dukun".
Karier politik
Setelah tidak lagi main film, Deddy mencoba mencoba menjadi pengusaha, di antaranya dengan mendirikan PT Jakarta Pelangi Production. Namun, akhirnya ia masuk ke dalam bidang politik. Diawali dengan duduk dalam MPP (Majelis Pertimbangan Partai) PDI Perjuangan, ia kemudian dicalonkan sebagai wakil rakyat di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II.[4]
Pada pemilihan umum tahun 2004, Deddy terpilih menjadi anggota DPR RI, dan berada dalam komisi X (Bidang Pendidikan).
Kehidupan pribadi
Pada tahun 1975, Deddy menikahi Setyorini Sutomo yang pernah menjadi penyiar berita di TVRI. Dari pernikahannya tersebut, pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu Oki Satrio Nugroho, Dimas Danardhana, Rendy Surindrapati dan Becky Karina Citradevi. Setyorini meninggal dunia pada 26 Januari 1997 akibat penyakit kanker rahim yang dideritanya sejak lama.[5][6]
Kemudian, Deddy menikah lagi dengan Farida Widyawati. Dari pernikahannya dengan Farida, keduanya tidak dikaruniai anak,[7] tetapi telah ada tiga anak Farida Widyawati dari perkawinan sebelumnya yaitu Andrie Sis Setyoko, Roni Octavianto Gautama dan Ayu Octavia Widayanti.