Negara Đại Cồ Việt (968–1054) Negara Đại Việt (1054–1400, 1428–1804) Negara Đại Ngu (1400–1407)
Đại Cồ Việt Quốccode: vi is deprecated (大瞿越國code: vi is deprecated ) Đại Việt Quốccode: vi is deprecated (大越國code: vi is deprecated ) Đại Ngu Quốc (大虞國)
Đại Việt (大越[ɗâjˀvjə̀t], secara harfiah berarti "Viet Raya") adalah nama resmi dari berbagai kerajaan-kerajaan Vietnam di sebelah timur Asia Tenggara Daratan selama dua periode dari tahun 1054 sampai 1400, dan dimulai lagi dari tahun 1428 sampai 1804 (atau jika ditotal kira-kira dari rentang abad ke-10 hingga awal abad 19 Masehi), terpusat di suatu wilayah yang kini menjadi Kota Hanoi. Nama awalnya, Đại Cồ Việt, diperkenalkan pada tahun 968 oleh Kaisar Đinh Bộ Lĩnh, setelah usahanya berhasil mengakhiri Anarki Dua Belas Panglima Perang, dan berlangsung sampai permulaan masa pemerintahan Kaisar Lý Thánh Tông (berkuasa dari 1054-1072), kaisar ketiga Dinasti Lý. Nama Đại Việt tetap digunakan sampai dengan masa kekuasaan Gia Long (berkuasa dari 1802-1820), kaisar pertama Dinasti Nguyễn, yang mengubah nama negara menjadi Việt Nam pada tahun 1804. Nama ini merupakan nama yang masa penggunaanya paling panjang kedua setelah nama "Văn Lang".
Di bawah pemerintahan bilateral diplomatik dengan Kekaisaran Tiongkok, wilayah ini terkenal dengan sebutan Kepangeranan Giao Chỉ (975–1164) dan kemudian Kerajaan Annam (1164–1804) ketika Kaisar Xiaozong dari Song mengakui kedaulatan Đại Việt dan menaikkan statusnya dari kepangeranan menjadi kerajaan.
Sepanjang sejarah, Đại Việt diperintah oleh delapan dinasti: Đinh (968–980), Lê Awal (980–1009), Lý (1009–1226), Trần (1226–1400), Hồ (1400–1407), dan Lê Akhir (1428–1789); Dinasti Mạc (1527–1677); dan pemerintahan jangka pendek Dinasti Tây Sơn (1778–1802). Nama ini sempat terganti pada masa Dinasti Hồ, yang mengubah nama negara menjadi Đại Ngu, dan pada saat Era Keempat Dominasi Utara (1407–1427), ketika negara diperintah dengan nama Jiaozhi oleh Dinasti Ming. Selain itu, sejarah Đại Việt dapat juga terbagi menjadi dua periode: negara bersatu, yang berlangsung dari 960an hingga 1533, dan negara terpecah dari 1533 hingga 1802, saat lebih dari satu dinasti dan beberapa klan bangsawan secara serempak memerintah daerahnya masing-masing. Dari abad ke-13 hingga 18, perluasan perbatasan Đại Việt hingga membentuk wilayah yang mirip dengan Vietnam modern, terbentang sepanjang Laut Tiongkok Selatan dari Teluk Tonkin sampai Teluk Siam.
Đại Việt awal terbentuk pada tahun 960an sebagai kerajaan turun-temurun, dengan Buddha Mahayana menjadi agama negara, dan berlangsung selama enam abad. Dari abad ke-16 dan seterusnya, negara secara berangsur-angsur melemah dan terpecah menjadi sub-kerajaan yang beragam dan wilayah-wilayah merdeka, dipimpin secara serempak oleh keluarga Lê, Mạc, Trịnh, atau Nguyễn. Sempat disatukan oleh Tây Sơn Bersaudara pada tahun 1786, yang membagi wilayah di antara mereka sendiri di tahun selanjutnya. Perang Lê–Mạc yang diikuti dengan Perang Trịnh–Nguyễn, dan peperangan Tây Sơn, yang berakhir dengan kemenangan klan Nguyễn dan runtuhnya Dinasti Tây Sơn. Đại Việt dipersatukan kembali, mengakhiri 262 tahun zaman perpecahan negara dengan didirikannya Dinasti Nguyen pada tahun 1802. Dari 968 hingga 1804, Đại Việt berkembang pesat dan meraih kekuatan penting di wilayahnya. Negara tersebut perlahan mulai menduduki wilayah Champa dan Kamboja, meluaskan wilayah Vietnam ke selatan dan barat. Negara Đại Việt merupakan cikal-bakal utama negara Vietnam dan pusat sejarah nasional dan identitas budayanya.
Sejarah
Sebelumnya, sejak kekuasaan Đinh Bộ Lĩnh (berkuasa dari 968-979), negara ini telah dipanggil secara resmi sebagai "Đại Cồ Việt" (大瞿越); cồ (𡚝) adalah sinonim dari 大 (đại). Istilah "Việt" merupakan kata kerabat dengan perkataan Bahasa Tionghoa "Yue", sebuah nama yang digunakan pada zaman dahulu kepada berbagai kelompok-kelompok non-Tionghoa yang tinggal di wilayah yang sekarang adalah Tiongkok bagian selatan dan Vietnam bagian utara. Pada tahun 1010, Lý Thánh Tông (pendiri Dinasti Lý) memindahkan ibu kota Đại Cồ Việt ke Thăng Long (Hanoi), dan membangun Benteng Kekaisaran Thăng Long (Imperial Citadel of Thăng Long) yang sekarang merupakan tempat Benteng Hanoi (Hanoi Citadel) berdiri.
Pada tahun 1054, Lý Thánh Tông - raja ketiga Dinasti Lý - mengganti nama negaranya menjadi Đại Việt. Pada tahun 1149, Dinasti Lý membuka Pelabuhan Vân Đồn di wilayah timur laut provinsi Quảng Ninh modern untuk kepentingan perdagangan luar negeri.
Pada Tahun 1400, pendiri dari Dinasti Hồ, Hồ Quý Ly, mengganti nama negaranya menjadi "Đại Ngu" (大虞). Pada tahun 1407, ketika Vietnam jatuh kepada Dinasti Ming, yang berlangsung sampai tahun 1427, mereka menamai wilayah Vietnam menjadi "Giao Chỉ". Pada tahun 1428, Lê Lợi, pendiri Dinasti Lê, membebaskan Giao Chỉ dan kembali lagi mengembalikan nama kerajaannya menjadi "Đại Việt".
Nama "Đại Việt" diakhiri penggunaanya saat Dinasti Nguyễn mengambil alih kekuasaan. Nama negara ini diganti sekali lagi pada tahun 1804, kali ini menjadi "Việt Nam" (越南) oleh Gia Long.
Partai
Nama Đại Việt juga diambil oleh salah satu faksi nasionalis Vietnam pada tahun 1936.