Dinasti Nguyễn (Chữ Nôm: 茹阮, bahasa Vietnam:Nhà Nguyễncode: vi is deprecated ; Hán tự: 阮朝, bahasa Vietnam:Nguyễn triềucode: vi is deprecated ) adalah dinasti penguasa Vietnam yang terakhir, didahului oleh Penguasa Nguyễn dan menguasai Vietnam bersatu secara merdeka dari tahun 1802 sampai permulaan protektorat Prancis pada tahun 1883. Para kaisar yang berkuasa merupakan anggota dari Wangsa Nguyễn Phúc.[1] Pemerintahan mereka berlangsung selama 143 tahun, dan dimulai pada tahun 1802 ketika Kaisar Gia Long naik takhta setelah mengalahkan Dinasti Tay Sơn. Pada masanya, kekaisaran Nguyễn memperluas wilayahnya hingga ke kawasan yang saat ini menjadi Vietnam sebelah selatan, Kamboja, dan Laos melalui proses Nam tiến dan perang Siam-Vietnam yang memakan waktu berabad-abad lamanya. Dengan peristiwa Penaklukan Prancis atas Vietnam, Dinasti Nguyễn dipaksa menyerahkan kedaulatannya atas seluruh bagian selatan Vietnam (Cochinchina) kepada Prancis pada tahun 1862 dan 1874. Hingga setelah tahun 1883, Dinasti Nguyễn hanya memerintah sejumlah wilayah protektorat Prancis di Annam (Vietnam tengah) dan Tonkin (Vietnam utara). Didukung oleh Imperium Jepang, pada tahun 1945, Kaisar Bảo Đài mengingkari perjanjian protektorat dengan Prancis dan mendirikan Kekaisaran Vietnam yang hanya bertahan dalam waktu singkat yakni hingga 25 Agustus 1945.
Wangsa Nguyễn Phúc mendirikan kendali atas seluruh wilayah di Vietnam bagian selatan sebagai Penguasa Nguyễn (1558–1777, 1780–1802) pada abad ke-16 sebelum mengalahkan Dinasti Tây Sơn dan mendirikan pemerintahan sendiri pada abad ke-19. Pemerintahan dinasti ini bermula saat Gia Long naik takhta pada tahun 1802, setelah mengakhiri Dinasti Tây Sơn sebelumnya. Selama masa pemerintahan Kaisar Gia Long, bangsa ini resmi dikenal sebagai Việt Nam (越南) tetapi pada pemerintahan Kaisar Minh Mang, bangsa ini berganti nama menjadi Đài Nam(大南, harfiah "Selatan yang Besar").
Dinasti Nguyễn secara bertahap diserap oleh kekuasaan Prancis selama beberapa dekade di pertengahan akhir abad ke-19, dimulai dengan peristiwa Kampanye Cochinchina pada tahun 1858 yang berujung pada pencaplokan wilayah Vietnam selatan. Setelah beberapa perjanjian tidak setara, wilayah pendudukan menjadi Cochinchina Prancis berdasarkan Perjanjian Saigon 1862, dan berdasarkan Perjanjian Huế 1863, Prancis diberi akses ke pelabuhan-pelabuhan Vietnam dan meningkatkan kendali atas urusan luar negerinya. Akhirnya, pada Perjanjian Huế 1883 dan 1884, wilayah Vietnam yang masih bertahan dibagi menjadi sejumlah protektorat Annam dan Tonkin di bawah pemerintahan Nguyễn Phúc. Pada tahun 1887, Cochinchina, Annam, Tonkin, dan Kamboja Prancis dikumpulkan bersama untuk membentuk Indochina Prancis.
Dinasti Nguyễn bertahan sebagai kaisar formal Annam dan Tonkin dalam Indochina Prancis sampai meletusnya Perang Dunia II. Jepang menduduki Indochina dengan kerjasama Prancis pada tahun 1940, tetapi karena perang tampaknya makin kalah, Jepang melengserkan kepengurusan Prancis pada tanggal 9 Maret tahun 1945 dan Dinasti Nguyễn diberi kemerdekaan sebagai protektorat konstituennya dua hari setelahnya . Kemerdekaan ini juga diraih oleh Cochinchina pada tanggal 14 Agustus 1945. Kekaisaran Vietnam di bawah Kaisar Nguyễn Bảo Đại menjadi sejumlah negara merdeka tetapi sesungguhnya adalah negara boneka Jepang selama bulan-bulan terakhir perang. Kekaisaran ini berakhir dengan Bảo Đại turun takhta diikuti dengan menyerahnya Jepang disusul terjadinya Revolusi Agustus yang dipimpin oleh kaum komunis Việt Minh di bulan Agustus 1945. Turun takhta ini mengakhiri kekuasaan 143 tahun Dinasti Nguyễn. Bảo Đại akhirnya meraih kekuasaan kembali sebagai kepala negara dari Negara Vietnam pada tahun 1949 sampai negara menjadi republik pada tahun 1955.
Keluarga Nguyễn telah menjadi salah satu keluarga besar dalam sejarah Vietnam, di waktu-waktu Kaisar Le Loi. Dikarenakan perang saudara dan melemahnya Dinasti Lê, Nguyễn dan Trịnh (keluarga besar lainnya) bergabung bersama untuk melawan Mac. Nguyễn Kim, pemimpin aliansi ini, dibunuh pada tahun 1545 oleh seorang hamba Mac. Menantunya Trịnh Kiem, mengambil alih aliansi karena anak-anak Kim masih terlalu muda. Pada 1558, Nguyễn Hoàng, putra sulung Nguyễn Kim diberi kebangsawanan atas daerah selatan yang baru ditaklukan. Ia memerintah dari kota Huế untuk sisa hidupnya dan mendirikan kekuasaan penguasa Nguyễn di bagian selatan negara itu. Sementara bangsawan Nguyễn seperti Trịnh, membayar upeti kepada Kaisar Lê, kenyataannya adalah mereka memerintah, bukan menjadi raja. Nguyen Hoang dan penerusnya terus memperluas wilayah mereka dengan membuat Kampuchea sebagai protektorat, dan menyerang Laos, Champa dan daerah lainnya. Bangsawan Nguyễn memberi gelar diri mereka sebagai "dewa" (Chua).
Kelahiran dinasti
Lạng emas (Tael) Tự ĐứcNaga terbang Phi long (koin) Minh Mạng, 1833Mahkota kaisar Dinasti Nguyen
Bendera Kaisar Kekaisaran Vietnam (April-Agustus 1945)
Bendera terakhir Kekaisaran Vietnam (17 April 1945-30 Agustus 1945)
Nguyễn Phúc Nguyễn, anak Nguyễn Hoàng memulai nama keluarga Nguyễn Phúc. 200 tahun kemudian, Nguyễn Phúc Khoát adalah penguasa pertama dari garis takhta yang menyebut dirinya Raja (Vuong), seperti bangsawan Trịnh di Utara.
Nguyễn Phúc Ánh akhirnya menyatukan Vietnam untuk kedua kalinya setelah 3 abad. Dia mulai memimpin dinasti dan menyebut dirinya Kaisar (Hoàng Đế) Gia Long. Setelah Gia Long, penguasa dinasti lainnya mengalami masalah dengan misionaris Katolik dan kemudian keterlibatan Eropa di Indochina. Anaknya Minh Mang kemudian dihadapkan dengan pemberontakan Le Van Khoi, ketika orang-orang Kristen asli dan pendeta Eropa mencoba untuk menggulingkan dia dan mengangkat cucu Gia Long yang telah berpindah agama menjadi Katolik Roma. Kejadian ini kemudian berlanjut dengan pemberontakan yang diluncurkan oleh para misionaris dalam upaya untuk meng-Katolikisasi takhta dan negara.[2] Sebaliknya Minh Mang juga terkenal karena penciptaan lahan publik sebagai bagian dari reformasi itu.[3]
Kaisar Minh Mang, Thieu Tri dan Tự Đức, menentang keterlibatan Prancis dalam negeri dan mencoba untuk mengurangi pertumbuhan penganut Katolik di Vietnam pada waktu itu. Pemenjaraan misionaris yang secara ilegal memasuki negara itu dianggap Prancis sebagai dalih utama untuk menginvasi dan menduduki Indocina. Sama seperti apa yang telah terjadi di Qing Tiongkok, ada juga banyak insiden yang melibatkan negara Eropa selama abad ke-19.
Kaisar Nguyen terakhir yang memerintah dengan kemerdekaan penuh adalah Tự Đức. Setelah kematiannya, ada krisis penerus takhta kerajaan di mana Bupati Ton That Thuyết mengatur pembunuhan tiga kaisar dalam setahun. Hal ini memungkinkan Prancis untuk mengambil kontrol langsung negara Vietnam dan akhirnya mendapatkan kontrol penuh terhadap monarki. Semua kaisar sejak Đồng Khánh dipilih oleh Prancis dan hanya bersifat simbolik.
Napoleon III mengambil langkah pertama untuk membangun pengaruh kolonial Prancis di Indochina. Dia menyetujui peluncuran ekspedisi angkatan laut pada tahun 1858 untuk menghukum Vietnam karena penganiayaan misionaris Katolik mereka dan memaksa pengadilan untuk menerima kehadiran Prancis di negara itu. Salah satu faktor penting dalam keputusannya adalah keyakinan bahwa Prancis bisa menjadi kekuatan kelas dua jika tidak memperluas pengaruhnya di Asia Timur, juga adanya gagasan bahwa Prancis memiliki misi menyebarkan kebudayaan.
Hal ini akhirnya menyebabkan invasi besar pada tahun 1861. Pada 1862 perang berakhir dan Vietnam terpaksa kehilangan tiga provinsi di selatan (yang disebut oleh pihak Prancis sebagai Cochinchina), membuka tiga pelabuhan perdagangan Prancis, memungkinkan armada kapal perang Prancis ke Kampuchea (yang menyebabkan dibentuknya protektorat Prancis atas Kamboja pada tahun 1863), memperbolehkan kebebasan bertindak bagi para misionaris Prancis dan memberi Prancis ganti rugi yang besar untuk biaya perang. Namun Prancis tidak campur tangan dalam pemberontakan yang didukung kaum Kristen Vietnam di Bắc Bộ meskipun adanya desakan misionaris dan adanya pembantaian ribuan orang Kristen setelah pemberontakan, menunjukkan bahwa meskipun penganiayaan orang Kristen adalah penyebab intervensi, militer dan alasan politik yang sebanarnya mengakibatkan kolonialisme di Vietnam.
Prancis benar-benar menaklukkan Vietnam pada tahun 1887 dan kemudian mempromosikan pendudukan dan pengembangan Delta Mekong oleh Vietnam. Dinasti Nguyễn masih memerintah Annam secara nominal yang merupakan protektorat Prancis. Prancis menambahkan bahan-bahan baru untuk budaya Vietnam. Prancis memasukkan Katolik dan sistem penulisan berdasarkan abjad Latin. Ejaan yang digunakan dalam transliterasi Bahasa Vietnam adalah bahasa Portugis karena Prancis mengandalkan kamus yang disusun sebelumnya oleh seorang pastor Portugis.
Sementara berusaha memaksimalkan penggunaan sumber daya alam dan tenaga kerja untuk memerangi Perang Dunia I Prancis menindak semua gerakan patriotik di Vietnam. Indochina, terutama Vietnam, harus menyediakan 70.000 tentara dan 70.000 pekerja untuk Prancis, yang dipaksa ditugaskan dari desa-desa untuk bekerja di medan perang Prancis. Vietnam juga menyumbang 184 juta piaster dalam bentuk pinjaman dan 336.000 ton makanan. Beban ini terbukti membuat pertanian menjadi terpukul karena bencana alam (1914-1917).
Akibat kurangnya sebuah organisasi nasional yang bersatu, gerakan nasional Vietnam gagal memanfaatkan keuntungan dari kesulitan Prancis selama perang. Pada bulan Mei 1916, raja Duy Tan, melarikan diri dari istananya untuk mengambil bagian dalam pemberontakan tentara Vietnam. Prancis rupanya telah tahu tentang rencana ini dan akibatnya para pemimpin ditangkap dan dieksekusi. Duy Tan digulingkan dan diasingkan ke Pulau Reunion di Samudra Hindia.
Sentimen nasionalis rupanya menjadi lebih intensif di Vietnam, terutama selama dan setelah Perang Dunia Pertama, tetapi semua pemberontakan dan upaya tentatif gagal untuk memperoleh konsesi dari pihak Prancis. Revolusi Rusia yang terjadi saat ini memiliki dampak yang luar biasa pada abad ke-20 dan membentuk sejarah Vietnam.
Dimulainya Perang Dunia II pada 1 September 1939 adalah kejadian yang sama menentukannya dengan pengambilalihan Đà Nẵng oleh Prancis pada tahun 1858. Blok Poros dari Jepang menginvasi Vietnam pada tanggal 22 September 1940, berusaha untuk membangun pangkalan militer untuk menyerang melawan Sekutu di Asia Tenggara.
Pada tahun 1941-1945, ada sebuah gerakan perlawanan komunis yang disebut Viet Minh yang dikembangkan di bawah kepemimpinan Ho Chi Minh. Pada tahun 1944-1945 terjadi kelaparan di Vietnam utara di mana lebih dari satu juta orang mati kelaparan. Pada bulan Maret 1945, menyadari kemenangan sekutu tak terelakkan, Jepang menggulingkan pemerintah Prancis di Vietnam, memenjarakan PNS dan menyatakan Vietnam "independen" di bawah "perlindungan" Jepang dengan Bảo Đại sebagai kaisar.
Keruntuhan dinasti
Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus, memicu pemberontakan oleh Vietminh. Setelah menerima "permintaan" untuk pengunduran dirinya, Bảo Đại turun takhta pada 30 Agustus dan kekuasaan diserahkan kepada Vietminh. Bảo Đại diangkat sebagai "penasihat tertinggi" oleh pemerintah baru. Bảo Đại meninggalkan mereka tak lama kemudian karena ia tidak setuju dengan kebijakan Vietminh dan mengasingkan diri di Hong Kong. Setelah kembalinya Prancis pada bulan Oktober, Perang Prancis-Indocina (1946-1954) terjadi antara Prancis dan Vietminh.
Pada tahun 1948, Prancis membujuk Bảo Đại untuk kembali sebagai "Kepala Negara" ([Quoc Trường] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) dari "Negara Vietnam" ([Quoc Gia Việt Nam] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) yang didirikan di daerah-daerah di mana pihak Prancis sudah mengambil alihnya, sementara perang berdarah dengan Viet Minh yang dipimpin Ho Chi Minh berlanjut. Bảo Đại menghabiskan sebagian besar waktunya selama konflik yang menikmati kehidupan yang baik di rumah mewah di Đà Lat (di Dataran Tinggi Vietnam) atau di Paris, Prancis. Perang berakhir dengan kekalahan Prancis di Djien Bien Phu pada tahun 1954.
Prancis bernegosiasi dengan AS untuk membagi Vietnam. Vietnam diusulkan dibagi menjadi Vietnam Utara (diperintah Viet Minh) dan Vietnam Selatan (diperintah pemerintahan baru). Pada tahun 1955 perdana menteri Ngô Đình Diem menggulingkan Bảo Đại di suatu referendum yang oleh sebagian besar pemilih dianggap suatu kecurangan. Tidak hanya jumlah pemilih yang mendukung usulan Diem untuk republik tidak masuk akal (98%), tetapi jumlah suara untuk republik jauh melebihi jumlah pemilih terdaftar. Diem kemudian diasumsikan posisi Presiden Republik Vietnam (Việt Nam Cong Hoa), sekali lagi mengakhiri keterlibatan Bảo Đại dalam urusan Vietnam, yang kali ini secara permanen.
Bảo Đại memutuskan mengasingkan diri di Prancis, di mana ia meninggal pada tahun 1997 dan dimakamkan di Cimetière de Passy. Putra Mahkota Bao Long melanjutkannya setelah kematian ayahnya Kaisar Bảo Đại sebagai Kepala Dinasti Kekaisaran Vietnam (31 Juli 1997). Ia pada gilirannya digantikan oleh saudaranya Bao Thang pada tanggal (28 Juli 2007).
Daftar bendera unit administrasi Flag States And Glory
Bendera unit administrasi[4][5] Dinasti Nguyễn digunakan sejak sekitar 1868-1885, denganrasio 2:2.
Tana Li, Anthony Reid, Southern Vietnam under the Nguyễn Australian National University. Economic History of Southeast Asia Project - 1993
↑Tana Li, Anthony Reid, Southern Vietnam under the Nguyễn Australian National University. Economic History of Southeast Asia Project - 1993
↑Jacob Ramsay -Mandarins and Martyrs: The Church and the Nguyễn Dynasty in Early ... 2008 "This book is about the rise of anti-Catholic violence in early nineteenth-century Vietnam under the Nguyễn Dynasty, and the profound social and political changes it created in the decades preceding French colonialism."
↑Choi Byung Wook Southern Vietnam Under the Reign of Minh Mạng (1820-1841): 2004 Page 161 "These authors identify the creation of public land as the most important result of land measurement, and they judge that project to have been a significant achievement of the Nguyen dynasty, writing: "Minh Mang clearly did not want southern ..."