Cagar Alam Tanjung Api adalah kawasan konservasi alam yang terletak di pesisir Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Kawasan ini dikenal karena fenomena alam unik berupa semburan api alami yang muncul dari bawah tanah akibat keluarnya gas bumi. Selain menjadi kawasan konservasi, Tanjung Api juga dikenal sebagai destinasi wisata alam dengan panorama pesisir dan bawah laut yang menawan.[1]
Lokasi dan akses
Secara administratif, Cagar Alam Tanjung Api berada di dua wilayah kecamatan, yaitu Ampana Kota dan Ampana Tete. Dari Kota Ampana, lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih lima jam, atau sekitar 20 menit menggunakan speed boat dari Pelabuhan Ampana. Titik koordinat kawasan ini berada di antara 0°53’–0°58’ LS dan 121°33’–121°37’ BT. Kawasan Tanjung Api memiliki batas geografis di sebelah utara, timur, dan barat dengan Teluk Tomini, sementara di sebelah selatan dengan Desa Labuan, Kelurahan Dondo, Desa Pusungi, serta Desa Tete A dan Tete B. Cagar Alam Tanjung Api berjarak sekitar 500 kilometer dari Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah.[1]
Sejarah penetapan
Cagar Alam Tanjung Api ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 91/Kpts/Um/2/1977 tanggal 21 Februari 1977, dengan luas kawasan mencapai 4.246 hektare. Tujuan penetapan kawasan ini adalah untuk melindungi fenomena api alam, gua berair, serta keanekaragaman flora dan fauna endemik Sulawesi. Kawasan ini juga memiliki fungsi penting secara hidrologis sebagai sumber air tanah bagi masyarakat di desa-desa sekitar.[1]
Fenomena alam
Cagar Alam Tanjung Api terkenal dengan fenomena api alami yang muncul dari tanah berpasir. Di sepanjang tanjung, gas alam keluar secara alami dari bawah permukaan tanah. Wisatawan dapat menggali pasir sedalam 5–10 sentimeter dan menyalakannya dengan api atau korek. Api tersebut akan terus menyala hingga lubang ditutup kembali dengan tanah.[2]
Fenomena ini menjadi dasar penamaan “Tanjung Api”, karena semburan gas yang menimbulkan nyala api tampak seperti kobaran yang muncul langsung dari tanah. Fenomena ini diperkirakan berkaitan dengan keberadaan cadangan gas alam cair (LNG) di bawah kawasan tersebut, meskipun eksploitasi sumber daya tersebut dilarang karena statusnya sebagai cagar alam.
Keanekaragaman hayati
Kawasan ini memiliki topografi berbukit dengan dominasi batu kapur dan karang, serta ditumbuhi berbagai jenis vegetasi tropis. Jenis tumbuhan yang banyak ditemukan antara lain: Pangi (Pangium edule), Kayu bayam (Intsia bijuga), Siuri (Koordersiodendron pinnatum), dan Palapi (Heritiera sp.).[3]
Selain itu, kawasan hutan tropisnya menjadi habitat penting bagi berbagai fauna endemik Sulawesi, seperti: Ketam kenari (Birgus latro), Monyet hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Burung maleo (Macrocephalon maleo), Elang, rangkong, kuntul, dan beberapa jenis ular. Kombinasi antara ekosistem darat, gua berair, dan pesisir menjadikan kawasan ini penting untuk penelitian ekologi dan konservasi.[3]
Wisata alam
Selain fenomena api alami, Tanjung Api memiliki panorama bawah laut yang indah, menjadikannya lokasi populer untuk snorkeling dan rekreasi pantai. Hamparan pasir putih alami serta pemandangan matahari terbenam menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.[1]
Bagi pencinta petualangan, kawasan hutan tropis Tanjung Api juga menawarkan potensi untuk kegiatan trekking. Beberapa wisatawan memanfaatkan gas alam yang menyala untuk memasak air atau menanak nasi secara langsung di alam terbuka.[2]
Kondisi dan ancaman
Dalam beberapa tahun terakhir, Cagar Alam Tanjung Api menghadapi ancaman serius akibat perambahan hutan oleh masyarakat sekitar untuk membuka lahan pertanian. Aktivitas ini menyebabkan kerusakan vegetasi dan meluas hingga ke daerah puncak tanjung. Menurut laporan media lokal, penebangan pohon besar di kawasan cagar alam semakin meluas dan membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah.[4]
Resort 6 Ampana Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti sosialisasi kepada masyarakat di tiga desa penyangga—Desa Labuan, Pusungi, dan Tete B—serta patroli rutin dan pemasangan papan imbauan di sekitar area perkebunan warga. Meskipun demikian, keterbatasan sumber daya manusia membuat pengawasan belum optimal, sehingga kawasan ini masih rentan terhadap gangguan dan perubahan tutupan hutan.[4]
1234website, Susanto Wibowo-https://bilikmelayu com / E.-mail:susanto wibowoo@gmail com [rira. "Tanjung Api". tourismtojounauna.com. Diakses tanggal 2025-11-01.