Bubur laba atau (Hanzi sederhana: 腊八粥; Hanzi tradisional: 臘八粥; pinyin: làbā zhōu) adalah hidangan bubur khas Tiongkok yang disajikan secara tradisional pada hari kedelapan bulan kedua belas dalam kalender lunar Tiongkok. Hari ketika bubur ini dimakan dikenal sebagai Festival Laba, sebuah perayaan penting yang menandai momen penghormatan dan rasa syukur. Versi paling awal dari hidangan ini dibuat dengan bahan sederhana seperti kacang merah, tetapi seiring waktu, bubur laba berkembang menjadi berbagai variasi regional dengan cita rasa yang beragam.[1]
Bubur ini umumnya terbuat dari campuran berbagai jenis beras, kacang-kacangan, kacang tanah, buah kering, dan biji teratai,[2][3] tetapi di beberapa daerah juga ditambahkan bahan seperti tahu, kentang, daging, dan sayuran. Hidangan ini juga dikenal dengan nama bubur delapan harta karun (八宝粥; Bā bǎo zhōu),[4] karena biasanya dibuat menggunakan delapan bahan atau lebih yang melambangkan keberuntungan.[5] Angka delapan dianggap sebagai angka pembawa keberuntungan dalam budaya Tiongkok,[6] dan kata ba dalam Laba juga berarti “delapan”.
Sejarah
Pada masa Dinasti Han, bubur laba belum dikonsumsi secara umum karena masih dianggap sebagai makanan persembahan untuk para dewa dalam upacara keagamaan. Tradisi makan bubur ini baru mulai berkembang pada masa Dinasti Utara dan Selatan, ketika tanggal perayaan Festival Laba secara resmi ditetapkan pada hari kedelapan bulan kedua belas dalam kalender lunar. Seiring waktu, makna ritualnya mulai bergeser menuju tradisi sosial dan budaya yang lebih luas. Memasuki Dinasti Song, kebiasaan menikmati bubur Laba menyebar luas ke seluruh penjuru Tiongkok. Hidangan ini tidak hanya disantap oleh rakyat jelata, tetapi juga oleh kalangan pejabat dan bangsawan, menjadi simbol kebersamaan dan doa untuk keberuntungan menjelang tahun baru. Pada masa Dinasti Qing, Festival Laba memperoleh status yang lebih penting dan terkadang bahkan dirayakan sebagai bentuk awal dari Festival Musim Semi. Di lingkungan istana kekaisaran, tradisi ini berkembang lebih jauh ketika kaisar dan para bangsawan secara simbolis membagikan bubur Laba kepada pejabat, pelayan, serta masyarakat sekitar sebagai wujud kemurahan hati.[7]
Variasi regional
Bubur laba memiliki beragam variasi di seluruh wilayah Tiongkok, dengan bahan yang digunakan berbeda-beda tergantung daerahnya. Biasanya, bubur ini dibuat dari campuran berbagai biji-bijian seperti beras, jawawut, dan jelai, serta kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacangtolo merah, biji teratai, kacang tanah, kenari, dan kastanye. Selain itu, ditambahkan juga buah kering seperti kurma merah, kelengkeng, kismis, dan buah keci, bahkan dalam beberapa versi disertai sayuran atau daging.[8][9] Di Beijing, versi tradisional bubur Laba umumnya menggunakan jelai, jagung, jawawut, sorgum, beras ketan, kacang tolo merah, buah kering termasuk jujube, biji teratai, kastanye, dan biji pinus.[1]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.