Benjamin Thomas Sigar (sekitar 1790 – 1879) adalah seorang pemimpin tradisional dan perwira militer Minahasa pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai kapiten pasukan bantuan Minahasa (Hulptroepen) yang bertugas dalam struktur militer kolonial dan kemudian menjabat sebagai Hukum Besar (kepala distrik) Langowan.[1]
Latar belakang
Benjamin Thomas Sigar
Nama Minahasa: Tawalijn Sigar,
Nama Sigar tercatat dalam sejarah militer sebagai perwira yang memimpin pasukan bantuan Minahasa (Hulptroepen) dalam menghadapi Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830). Berdasarkan riset kearsipan, pasukan yang dipimpinnya terlibat dalam rangkaian operasi yang berujung pada peristiwa di Magelang pada Maret 1830.[3]
Kepemimpinan di Langowan
Ia menyandang gelar kehormatan "Majoor" (Mayor) dan menjabat sebagai Hukum Besar Langowan hingga sekitar tahun 1870-an. Dalam masa jabatannya, ia berperan sebagai mediator antara pemerintah kolonial dan masyarakat adat setempat.[4]
Hubungan genealogis
Benjamin Thomas Sigar merupakan leluhur dari klan Sigar-Masinambow. Garis keturunannya memiliki signifikansi dalam sejarah kontemporer Indonesia sebagai kakek buyut dari Dora Marie Sigar, yang merupakan ibu kandung dari Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto.[5][dibutuhkan verifikasi sumber]
Referensi
↑Kojongian, Adrianus (2013-03-22). "Tentang Kepala Minahasa". Adrianus Kojongian Blog. Diakses tanggal 2026-02-17.
↑Graafland, N. (1869). De Minahassa: haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Batavia: J. H. de Bussy. hlm. 210.
↑Kojongian, Adrianus (2010). Minahasa: Sejarah dan Tokoh. Manado: Penerbit Lokal.
↑Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 1870. Batavia: Landsdrukkerij. 1870. hlm. 155.