Bahasa Sangiang adalah salah satu bahasa kuno yang masih bertahan di kalangan masyarakat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah. Bahasa ini juga dikenal dengan Bahasa Sangen sebagai bahasa tertua dan bahasa tingginya para imam dan tetua adat Dayak. Sangiang adalah roh-roh leluhur selaku utusan Tuhan yang dapat diundang kehadirannya oleh seorang basir dengan menggunakan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang pada upacaranya.[1][2]
Bahasa Sangiang kini hanya bisa ditemukan secara tertulis dalam Kitab Suci Panaturan dan Mantra Tawur serta balian yang telah dibukukan (hingga saat ini tidak semuanya telah dibuat tertulis). Selain itu, bahasa Sangiang juga dapat ditemukan pada prosesi pembacaaan kalimat doa Hindu Kaharingan dan konsep-konsep budaya lokal di Kalimantan Tengah. Menurut filsafat Hindu Kaharingan, Bahasa Sangiang adalah bahasa yang digunakan oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai bahasa komunikasinya dengan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun (manusia pertama).[3]
Sejarah
Dalam sejarahnya, bahasa Sangiang berkembang melalui dua tahap utama. Tahap pertama dimulai sejak bahasa ini digunakan di wilayah pesisir Danum Sangiang yang terletak di Lewu Telu. Pada masa itu, Ranying Hatalla menugaskan para utusannya, ketujuh raja yang disebut Raja Uju Hakanduang Kanaruhan Hanya Basakati. Para raja yang termasuk di dalamnya antara lain raja Mandurut Untung, raja Angking Penyan, raja Untung Barakat, raja Panimbang Darah, raja Garing Hatungku, raja Tuntung Matan Andau, dan raja Putir Selung Tamanang
Lalu, tahap kedua berlangsung saat Bawi Ayah mengajarkan leluhur Dayak selama tujuh tahun. Selama masa tersebut, berbagai ritual dilakukan dengan tertib sebagaimana yang pernah dilakukan di Lewu Batu Nindan. Ilmu pengetahuan dan praktik upacara tersebut kemudian diwariskan kepada para perempuan, yang dikenal sebagai Sapangan Bawin, sebutan bagi perempuan yang menerima dan meneruskan ajaran-ajaran tersebut. Kini, mereka dikenal sebagai Basir, yakni pemuka rohani yang menjalankan berbagai ritual keagamaan dalam ajaran Hindu Kaharingan.[4]
Fungsi
Fungsi utama Bahasa Sangiang, di antara lain sebagai berikut:
Media ritual keagamaan Digunakan dalam upacara seperti pemanggilan roh leluhur, Manyandah (pencarian penyebab penyakit), dan Manyangiang (upacara penyembuhan), biasanya dipimpin oleh tukang Sangiang, basir, atau pisor. Contoh kalimat yang biasa dipakai untuk matra penyembuhan adalah "Hingan ranu hatue, hingan danum ranu manjar, hingan garing takalu, hingan tampung tawun", yang memiliki arti "Datanglah dari mata air suci, datang dari danau kehidupan, datang dari kekuatan langit, datang dari tempat bersemayam para dewa)"
Sarana upacara adat dan pembacaan kitab suciMantra dan kidung (misalnya Karungut atau Kendayu) dinyanyikan dalam Bahasa Sangiang untuk memohon berkah, penyembuhan, atau perlindungan spiritual. Contoh kalimat yang biasa dipakai untuk mantra upacara adat Karungut adalah "Ranying Hatalla langit jaya,ujan tambun kahuripan, tatakung lamahut andau, tangkah lampah sangiang datang", yang memiliki arti "Yang agung di langit, turunkan hujan kehidupan, terangi jalan di bawah mentari agar langkah para leluhur datang."
Simbol warisan budaya Bahasa ini dianggap sebagai inti dari sistem kepercayaan Dayak, menjadi simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Dayak.[5]
↑Sashita, Valiana; Arimi, Sailal (Januari 2024). [file:///Users/mac/Downloads/adi_literasi,+41.+REPRESENTASI+BUDAYA+DAYAK+NGAJU+KAHARINGAN.pdf "REPRESENTASI BUDAYA DAYAK NGAJU KAHARINGAN DALAM RITUAL TAWUR DI KALIMANTAN TENGAH"] (PDF). Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. 14 (1): 2549–2594.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.