Ritual Sangiang atau Manyangiang adalah adalah ritual pengobatan berbagai macam penyakit dengan bantuan roh leluhur (paling sering roh Sahur Bandar) dan tukang sangiang dibantu oleh roh yang merasukinya sebagai mediator. Pengobatan dengan ritual ini menggunakan obat-obatan tradisional.[1] Ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat suku DayakNgaju, khususnya yang beragama Hindu Kaharingan. Latar belakang pelaksanaan ritual Manyangiang dalam kehidupan umat Hindu Kaharingan adalah keyakinan bahwa Raja Bunu dan keturunannya adalah manusia yang tidak kekal dan akan mendiami kehidupan sementara di Pantai Danum Kalunen.[2] Hal ini tertuang dalam kitab suci umat Hindu Kaharingan yaitu Panaturan pasal 41 Ayat 4 dan 6 (MB-AHK, 2017:137-138) yang mengartikan bahwa Raja Uju Hakanduang memberitahukan firman dari Ranying Hatalla memerintahkan mereka di Lewu Telu mempersiapkan dan menyediakan diri supaya turun menuju Pantai Danum Kalunen, agar mengajar anak cucu Raja Bunu sebagaimana Ranying Hatalla Langit berfirman memerintahkan Raja Uju Hakanduang melaksanakan beberapa upacara sewaktu pelaksanaan Tiwah Suntu di Lewu Bukit Batu Nindan Tarung di hadapan Raja Bunu. Selanjutnya Ayat 6 yang berbunyi bahwa "Kalian mengajar mereka mulai dari upacara yang terkecil sampai upacara yang terbesar, sebagaimana kalian telah menerima ajaran dari Ranying Hatalla di hadapan Raja Bunu di Lewu Bukit Batu Nindan Tarung dahulu."
Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana yang digunakan pada Ritual Manyangiang ini adalah tambak berisi beras, simpa ruku, behas hambaruan, dandangtingang, air kopi, teh, baram, ketupat, telur, serta ayam yang direbus. Ritual Manyangiang juga diiringi dengan musik kacapi dan rebab.[3][4]
Fungsi ritual sangiang dalam sosial masyarakat pertama yaitu membangun kekerabatan antara keluarga. Jika ada satu anggota keluarga yang sakit, maka seluruh anggota keluarga yang lain ikut membantu. Mereka akan membuat makanan atau sesajen-sesajen yang dibuat untuk acara sangiang sampai selesai.
Cara pelaksanaan
Tahapan awal pada pengobatan ritual manyangiang ini diawali dengan manyandah, yaitu menerawang atau melihat sebab penyakit serta cara penyembuhannya. Tukang sangiang akan memanggil roh dan merasuki dirinya sehingga dapat melaksanakan manyandah. Setelah selesai menyandah, barulah tukang sangiang mengetahui penyebab serta cara untuk menyembuhkan penyakit yang dialami oleh orang yang minta untuk diobati. Keluarga harus segera mencari dan menyiapkan obat sertad segala alat dan bahan untuk melakukan proses manyangiang.
Setelah itu, menentukan hari untuk pelaksanaan ritual. Semua hari boleh, kecuali hari selasa. Suku Dayak Ngaju percaya bahwa hari Selasa adalah hari yang tidak baik.
Prosesi dimulai dengan menyiapkan pusun pinang yang diukir, dibungkus kain, dan digantung bersama perlengkapan sesajen di dekat meja ritual. Ritual dibuka dengan doa dan taburan beras ke api (mangaru), diiringi musik kecapi dan rebab. Tukang sangiang lalu memanggil roh leluhur untuk merasuk ke tubuhnya melalui pusun pinang.[5] Jika roh baik yang datang, prosesi penyembuhan dilakukan menggunakan daun sawang yang ditempel ke tubuh pasien untuk "mengambil" penyakit, bahkan bisa menarik benda-benda gaib sebagai sumber penyakit.
Roh jahat yang merasuk ditangani dengan isolasi pasien dan negosiasi spiritual. Setelah roh baik kembali, disampaikan pantangan (pali-pali) yang harus ditaati oleh pasien untuk menjaga pemulihan.
Ritual ditutup dengan bapapas, yaitu penyucian diri secara simbolis menggunakan pusun pinang dan air. Pasien menghadap matahari, dipapas oleh tukang sangiang, lalu meludahi tampung papas sebagai simbol pembuangan energi buruk.
Lama pelaksanaan ritual juga tergantung besar kecil hajat. Biasanya dua sampai tiga hari untuk waktu pelaksanaannya.[6]
↑Sepiani; Sidi Astawa, I Nyoman; L.Sigai, Ervantia Restulita (28 Oktober 2024). [file:///Users/mac/Downloads/1370-Article%20Text-5665-1-10-20241119.pdf "RITUAL SANGIANG HALUNUK PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA TUMBANG JUTUH KECAMATAN RUNGAN KABUPATEN GUNUNG MAS"] (PDF). Hapakat (Jurnal Hasil Penelitian). 3 (2).