ArekMalang Indonesia[2] adalah tim sepak bola yang berbasis di Malang, Jawa Timur, Indonesia, yang saat ini berkompetisi di Liga 4. Tim ini merupakan evolusi dari Arema Indonesia, yang didirikan pada 2010 sebagai bagian dari dualisme klub Arema pasca-konflik liga 2011. Nama "ArekMalang Indonesia" diadopsi pada 2025 untuk membedakan identitasnya dari Arema FC, yang kini menjadi satu-satunya pemilik legalitas resmi berdasarkan pengakuan PSSI dan hak merek terdaftar (Nomor DID2024138004 ditolak pada 10 Januari 2025).[3]
ArekMalang Indonesia diasosiasikan dengan Yayasan Arema Baru, yang dibentuk pasca-dualisme oleh Suprapto dan Rudolf Butar Butar, terpisah dari Yayasan Arema asli yang didirikan pada 11 Agustus 1987 di bawah pembina seperti Darjoto Setyawan. Tim ini memiliki basis pendukung dari sebagian Aremania yang mempertahankan narasi sejarah Arema, meskipun status hukumnya berbeda dari Arema FC.
Sejarah
Arema Indonesia (Yayasan Arema) yang saat ini vakum dari ISL dahulunya merupakan salah satu tim papan atas yang bermain di liga tertinggi sepak bola di Indonesia, tetapi semuanya berubah setelah terjadinya dualisme Arema yang menjadikan tim Arema Indonesia menjadi 2 tim yang berbeda, bukan hanya beda nama tapi juga beda nasib. Pada tahun 2011, ketua Yayasan Arema Indonesia saat itu Muhammad Nur bersama Lucky Acub Zaenal mendaftarkan Arema Indonesia untuk mengikuti kompetisi resmi saat itu bernama IPL yang pada musim kedua diputuskan oleh PSSI menjadi kompetisi ilegal karena konflik internal PSSI saat itu. Sementara itu di dalam Yayasan Arema itu sendiri ternyata ada kubu yang tidak setuju dengan keinginan ketua Yayasan Arema yang memasukkan Arema ke kompetisi IPL yaitu kubu Rendra Kresna (sekretaris Yayasan Arema) yang notabene sudah mengundurkan diri sebelumnya. Kubu Rendra Kresna beralasan saat pelepasan saham Arema oleh pemilik Arema yang terdahulu yaitu PT Bentoel, pihak Rendralah yang mendapat amanat dan berhak atas arah tujuan Arema. Dua kubu ini kemudian sama-sama membentuk klub, yang mana keduanya mengikuti kompetisi yang berbeda. PT Arema Indonesia (Yayasan Arema) versi M. Nur yang mendapat suntikan dana dari konsorsium Ancora mengikuti kompetisi Liga Prima Indonesia (IPL) dengan tetap memakai nama Arema Indonesia, sementara Arema versi Rendra Kresna yang juga mendapat suntikan dana dari Grup Bakrie mengikuti kompetisi Liga Super Indonesia dan memakai nama Arema Cronus.[butuh rujukan]
Dalam perkembangan terkini, dualisme itu masih tetap ada. Langkah PSSI dengan mengabulkan semua permohonan klub terhukum dan klub baru membuat Arema kembali terbagi dua. Arema Indonesia sebagai klub yang terhukum karena mengikuti Liga ilegal (LPI) akhirnya setelah melalui kongres PSSI pada tahun 2017 di Bandung, Arema Indonesia (versi manajemen yang berbeda / versi Novi Acub) diperbolehkan mengikuti kompetisi resmi lagi tetapi harus dimulai dari Liga 3.[4] Sementara Arema Cronus yang berkompetisi di Liga Super Indonesia berganti nama menjadi Arema FC dan tetap mengikuti kompetisi teratas di Indonesia yang sekarang berganti nama menjadi Liga 1 hingga kini.[5]
Secara hukum pemilik Arema adalah Yayasan Arema. Berdasarkan pengesahan SK Menkumham No. AHU-AH.01.06-317 pada tanggal 9 Mei 2012 atas akta Yayasan Arema yang dibuat oleh NotarisNurul Rahadianti disebutkan bahwa pengurus Yayasan Arema adalah
Pada saat Arema dikelola oleh Bentoel, Badan Hukum yang digunakan adalah PT Arema Indonesia. Badan Hukum tersebut tetap digunakan oleh Yayasan Arema setelah Bentoel mengembalikan Arema kepada Yayasan pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2015. Pada saat dikembalikan kepada Yayasan pada tahun 2009 tersebut, susunan Pemegang saham PT Arema Indonesia adalah Yayasan Arema sebesar 13 lembar saham (93%, mayoritas) dan Lucky Andriandana Zainal sebesar satu lembar saham (7%), yang diberikan sebagai penghormatan kepada beliau sebagai pendiri Arema.[butuh rujukan]
Pada 2017, Arema Indonesia memulai kiprah mereka di Liga 3 dengan menahan imbang tanpa gol melawan Persema Malang pada laga perdana di zona Jawa Timur.[7]