Ayatollah AgungAhmad Azari-Qomi-Bigdeli (Persia: احمد بیگدلی آذری قمیcode: fa is deprecated ; 1925 – Februari 1999) adalah seorang ulama Iran. Setelah Revolusi Iran 1979, ia menjabat di Pengadilan Khusus Ulama dan Majelis Ahli, serta mendirikan surat kabar konservatif Resalat. Pada November 1997, ia ditangkap setelah sebuah surat terbuka darinya yang diterbitkan di Britania Raya mengkritik Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei karena membiarkan penyiksaan dan “kerusakan moral” di kalangan pejabat serta ulama. Tidak lama kemudian, Khamenei mengecamnya dalam pidato yang disiarkan televisi dengan tuduhan melakukan “pengkhianatan terhadap rakyat, revolusi, dan negara”. Pencalonannya kembali untuk Majelis Ahli ditolak oleh Dewan Garda pada tahun berikutnya, dan ia meninggal pada 1999.
Biografi
Azari lahir dalam keluarga ulama Syiah di Qom pada tahun 1925. Ia memulai pendidikannya di Qom pada tahun 1941 di bawah bimbingan Ayatollah Seyyed Hossein Borujerdi, Mohaqqeq-Damad, dan Muhammad Husayn Tabatabai. Setelah menyelesaikan pendidikan keulamaannya, ia pindah ke Tabriz di Iran barat laut untuk bekerja sebagai pengajar agama di sebuah sekolah berasrama.[1]
Azari merupakan salah satu anggota pendiri Perhimpunan Guru Seminari Qom serta anggota Combatant Clergy Association.[2] Antara tahun 1965 hingga 1979, ia beberapa kali dipenjara. Setelah Revolusi Iran 1979, ia menjadi hakim di Pengadilan Khusus Ulama. Ia juga menjadi anggota Majelis Ahli yang awalnya memilih Ali Khamenei sebagai penerus Ruhollah Khomeini. Selain itu, ia mendirikan Yayasan Resalat, sebuah organisasi keagamaan yang memiliki surat kabar Resalat.[1]
Konflik dengan Khamenei
Azari Qomi ditangkap pada November 1997 setelah menerbitkan surat terbuka di luar Iran, antara lain melalui surat kabar mingguan independen Nimrooz yang berbasis di London, yang berisi kritik terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Dalam surat terbuka sepanjang 34 halaman tersebut, Azari-Qomi menuduh Khamenei memprakarsai pembentukan Ansar-e Hezbollah, kelompok yang bertanggung jawab mengintimidasi sejumlah akademisi dan penulis liberal. Ia juga menuduh Khamenei menciptakan kondisi yang menyebabkan meluasnya “kerusakan moral” di kalangan pejabat rezim dan ulama yang menurutnya telah “melemahkan akar kesopanan”.[3]
Azari Qomi juga mengkritik Republik Islam Iran atas penyiksaan terhadap putra-putra Ayatollah Agung Mohammad Shirazi. Ia menulis, “Sekalipun ia menolak velayat-e faqih, mengapa anak-anaknya harus disiksa? Organisasi keamanan seharusnya belajar dari nasib memalukan SAVAK”. Selain itu, Azari Qomi mendesak Presiden Khatami untuk membubarkan Pengadilan Khusus Ulama yang telah menangkap dan menyiksa banyak pengikut Ayatollah Agung Shirazi.[3]
Pada 26 November 1997, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa Ayatollah Agung Montazeri dan Azari-Qomi telah “melakukan pengkhianatan terhadap rakyat, revolusi, dan negara,” serta memerintahkan lembaga peradilan untuk memastikan bahwa mereka “dihukum sesuai hukum”.[4]
Iran News melaporkan pada 5 Februari 1998 bahwa surat kabar Jomhuri-ye Islami menerbitkan artikel mengenai pertemuan sejumlah anggota Majelis Ahli di Mashhad yang meminta pengeluaran Azari-Qomi dari majelis tersebut. Pada akhirnya, Azari-Qomi tidak dikeluarkan dari Majelis Ahli, tetapi pencalonannya kembali pada tahun 1998 ditolak oleh Dewan Garda.[3]
Azari-Qomi menjalani tahanan rumah selama 15 bulan dan selama masa itu, menurut Mohsen Kadivar, ia “dua kali mengalami koma”.[5] Ia dirawat di rumah sakit pada 1 Februari 1999 dan meninggal tidak lama kemudian pada usia 74 tahun.[6]