Penelitiannya tentang tato tradisionalMentawai selama bertahun-tahun telah menemukan 160 motif tato Mentawai.[1][5] Penelitian tersebut lalu dituangkannya dalam tesis program pascasarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1994, di mana ia kemudian mendapat julukan Jenderal Tato Indonesia.[1][2][6] Kepakarannya dalam bidang tato menyebabkan ia sering dijadikan narasumber bagi peneliti tato, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.[1] Menurut Ady Rosa dalam penelitiannya mengenai "Eksistensi Tato Mentawai", selama ini diyakini bahwa tato tertua ditemukan di Mesir sekitar tahun 1300 SM. Dari penelitian yang dilakukannya diketahu bahwa tato Mentawai sudah ada sejak tahun 1500 tahun sampai 500 tahun sebelum Masehi. Menurutnya tato Mentawai merupakan tato tertua di dunia.[7]
Dalam pernikahannya dengan Farida Idrus, seorang guru di SMKN 4 Padang, mereka telah dikarunia empat orang anak, yaitu Dipa Aditya Rosa, Dibya Prayasitta Somya Rosa, Devi Oktaviani Rosa, dan Iing Rosa.[1][2]
Sang Jenderal Tato Indonesia itu meninggal dunia pada 16 Juli 2014 setelah terserang stroke untuk keempat kalinya. Ady Rosa menghembuskan napas terakhirnya di RS Yos Sudarso, Padang.[2] Ia juga tengah menyelesaikan bukunya tentang Mentawai sebelum ajal menjemputnya.[1]