Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Harian Singgalang
Membina Harga Diri untuk Kesejahteraan Nusa dan Bangsa
Memasang motto, "Membina Harga Diri untuk Kesejahteraan Nusa dan Bangsa", koran Singgalang menggunakan jasa percetakan Letter Press di NV Nusantara Bukittinggi (kini bernama Grafika Unit II). Koran ini berfokus pada peristiwa instabilitas pada awal pemerintahan Orde Baru. Koran ini juga dikenal dengan guyonan khas Minangkabau.[3]
Pada 27 April 1970, Menteri Penerangan Republik Indonesia menurut surat NC.0682/PERS/SK/DIR PP/SIT/1970 meningkatkan status koran Singgalang menjadi terbit dua kali dalam seminggu, setiap hari Rabu dan Sabtu.[3]
Sebelum bisa berdiri sendiri, koran Singgalang memiliki kendala pada jarak antara redaksi di Padang dan percetakan di Bukittinggi. Seiring waktu, koran ini mampu menembus top oplah 45.000 eksemplar. Dengan kesuksesan itu, Singgalang mendirikan gedung dan percetakan sendiri di Jalan Veteran Nomor 17 Kota Padang.[3]
Pada umurnya yang ke-11 tahun, pada 18 Desember 1979, Singgalang meningkatkan frekuensi penerbitan menjadi tujuh kali seminggu. Pada 16 Agustus 1984, sesuai izin Menteri Penerangan No. 965/DIR.JEN/PPG/K/1979 dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-39 harian ini terbit dengan edisi kemerdekaan secara penuh 12 halaman.[3]
Pada 24 Oktober 1985, harian Singgalang mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) sesuai Surat Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia Nomor 007/SK/Menpen/SIUP/A/1985. CV Genta sebagai penerbit berubah menjadi PT Genta Singgalang Press dengan 20 persen saham di tangan karyawan. Kini Singgalang terbit sebanyak 20 halaman.[3]