Abdurrahman lahir dari pasangan Abdullah Rajo Bintan dan Tuo Tungga. Pengajaran agama pertama ia peroleh kepada seorang ulama bergelar Baliau Galogandang di Rambatan, Tanah Datar. Abdurrahman kemudian melanjutkan pendidikan di Tapak Tuan, Aceh. Setelah bertahun-tahun belajar di Galogandang dan Tapak Tuan, ia memutuskan untuk memperdalam ilmu agama di Makkah.[1]
Sesampainya di Makkah, ia bertemu dengan Syekh Ismail al-Minankabawi. Melalui Syekh Ismail, Syekh Abdurrahman mengambil baiat Naqsyabandiyah dan Syaziliyah.[2] Selain Syekh Ismail, ia juga belajar kepada beberapa ulama Makkah seperti Syekh Daud al-Fatani, Syekh Usman bin Hasan ad-Dimyati, Syekh Muhammad Said al-Qudsi, Syekh Muhammad Salih bin Ibrahim ar-Rais, Syekh Ahmad al-Marzuqi, dan lain-lain.[3]
Setelah lama belajar di Makkah, Syekh Abdurrahman kembali ke Batuhampar. Ia mendirikan Surau Batuhampar yang kemudian dikenal sebagai pusat pengajaran qiraat tujuh (tujuh macam cara membaca al-Qur'an) di Minangkabau.[4][5] Surau Batuhampar memperoleh banyak anak siak (santri) dari luar Batuhampar, sehingga Syekh Abdurrahman membentuk kompleks yang dikenal sebagai Kampung Dagang. Surau Batuhampar beserta kompleks di sekitarnya kelak berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Manaar.[6] Beberapa murid Syekh Abdurrahman yang terkenal antara lain Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Abdul Qadim Belubus, dan Syekh Muhammad Arsyad Batuhampar.[1]
Syekh Abdurrahman Batuhampar wafat pada 1899 dan dimakamkan di Batuhampar. Kepemimpinan surau diserahkan kepada putranya, Syekh Arsyad.[7]
Syekh Abdurrahman menikah sebanyak enam kali selama hidupnya. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai delapan putra dan dua putri.[3] Kepemimpinan Surau Batuhampar sampai sekarang dipegang oleh keturunan Syekh Abdurrahman.[1]
12Fadlly, Harits (9 Januari 2018). "Syekh Abdurrahman (1777—1899)". Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an Kementerian Agama Republik Indonesia. Diakses tanggal 13 Juni 2024.
Azra, Azyumardi (2017). Surau: Pendidikan Islam Tradisi dalam Transisi dan Modernisasi. Jakarta: Kencana. ISBN978-602-422-148-5. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Chairullah (2016). Naskah Ijazah dan Silsilah Tarekat: Kajian Terhadap Transmisi Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau. Padang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. ISBN978-602-8742-99-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Edwar (1981). Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat. Padang: Islamic Centre Sumatera Barat. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Hatta, Mohammad (2011). Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN9797095401. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Koto, Alaidin (2012). Persatuan Tarbiyah Islamiyah: Sejarah, Paham Keagamaan, dan Pemikiran Politik 1945-1970. Jakarta: Rajawali Pers. ISBN978-602-425-230-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Yunus, Mahmud (1957). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)