Abdullah mempelajari tasawuf menurut tradisi Isyqiyah dan Busthamiyah yang berkembang pesat di Khorasan dan Turki Utsmaniyah.[2][3] Gurunya memberinya nama nisbahSyattar, sebuah kata serapan Persia dari bahasa Arab yang berarti "kilat", yang merujuk pada praktik-praktif spiritual tercepat mencapai tahap "penyelesaian".[1][4] Silsilah pembelajarannya ialah dari gurunya Muhammad Arif, kemudian dari Muhammad Ashiq, Khuda Quli, Abul Hassan al-Kharqani, Abul Muzaffar ath-Thusi, Abu Yazid Isyqi, Muhammad al-Maghribi, dari Bayazid Busthami.[5]
Abdullah pergi ke India untuk mempromosikan tarekatnya dan mengunjungi banyak kelompok sufi untuk memperkenalkan metodenya.[1] Ia berkeliling Delhi, Jaunpur, Bihar, Benggala, dan Malwa, sebelum menetap di Mandu di bawah perlindungan Sultan Ghiyatsuddin Tughluq.[3] Abdullah terus tinggal dan menyebarkan tarekatnya hingga ia meninggal di India pada tahun 1485.[1][6] Di kemudian hari, para penerusnya juga berpengaruh terhadap beberapa penguasa Mughal.[1]
12Ernst, Carl W. (1999). Fred De Jong, Berndt Redtke (ed.). "Persecution and Circumspection in the Shattari Sufi Order". Islamic Mysticism Contested: Thirteen Centuries of Debate and Conflict, in 'Islamic History and Civilization'. Leiden: E.J. Brill.
↑Christomy, Tommy (2008). "Linking to the Wider World of Sufism"(PDF). Signs of the Wali: Narratives at the Sacred Sites in Pamijahan, West Java. ANU Press.