Abdul al-Qāhir bin ʿAbd al-Raḥmān al-Jurjānī ( Arab: عبد القاهر بن عبد الرحمن الجرجانيcode: ar is deprecated ), umumnya dikenal sebagai Abd al-Qāhir al-Jurjānī ( Arab: عبد القاهر الجرجانيcode: ar is deprecated ), adalah seorang ulamaSunniPersia yang bermukim di Gorgan pada abad ke-4 H/abad ke-11 M.[2] Ia adalah seorang ahli tata bahasa dan filologArab terkemuka pada masanya.[3] Ia secara luas dianggap sebagai salah satu ahli teori sastra terbesar dalam Islam abad pertengahan.[4] Al-Jurjānī dianggap sebagai tokoh pendiri dalam membangun retorika Arab (ʿilm al-balāgha) sebagai ilmu yang mandiri.[5] Secara luas dianggap sebagai tokoh yang luar biasa dalam sejarah intelektual Zaman Keemasan Islam. Al-Jurjānī mengubah tradisi tata bahasa, filologi, dan puisi Arab selama berabad-abad menjadi teori keindahan linguistik yang ketat yang berpusat pada konsep kefasihan (faṣāḥa) dan harmoni sintaksis (naẓm).[6][7][8]
Dua karya besarnya, Dalā'il al-I'jāz (“Bukti-Bukti Keunikan”) dan Asrār al-Balāgha (“Rahasia Kefasihan”) dianggap sebagai teks dasar dalam bidang retorika Arab.[9] Kedua kitab ini berisi sistem analisis sastra yang sangat memengaruhi tafsir Al-Qur'an, puisi klasik, dan pendidikan retorika di seluruh dunia Islam selama hampir satu milenium. Sintesis tata bahasa dan estetika sastra Al-Jurjānī tidak hanya membentuk perkembangan balāgha sebagai disiplin ilmu yang independen, tetapi juga membuatnya mendapatkan penghormatan abadi sebagai pelopor pemikiran linguistik Arab.[10]
Kehidupan
Abd al-Qāhir al-Jurjānī lahir sekitar tahun 400 H / 1010 M di Kota Jurjān (juga dikenal sebagai Gorgan), sebuah kota bersejarah di timur laut Iran dekat Laut Kaspia.[11] Dia hidup selama periode Buwaihi, masa yang ditandai oleh semangat intelektual, kebangkitan Persia, dan berkembangnya bahasa Arab di antara para sarjana non-Arab di dunia Islam timur.[12]
Ia mempelajari tata bahasa dan linguistik di bawah bimbingan Abu Husain Farisi, seorang murid dan keponakan Abu Ali al-Farisi (w. 377 H/987 M), seorang ahli tata bahasa legendaris dari mazhab Basran. Meskipun al-Jurjani kemungkinan besar tidak pernah bertemu langsung dengan Abu ʿAli karena perbedaan usia, ia sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajarannya dan mendalami karya agungnya, al-Idaḥ. Al-Jurjānī akhirnya menulis sebuah komentar ekstensif tentang karya tersebut: al-Mughnī fī Sharḥ al-Idāḥ, yang mencerminkan kekaguman dan kesetiaan intelektualnya yang mendalam.