Seruan Tauhid
Dia berkata, “Dan bahwa Allah Ta’ala ketunggalan Ia dengan perbuatan hamba-Nya yang disuruh. Seperti sembahyang, maka tiada kita sembahyang melainkan karena Allah, dan jangan kita sujud melainkan akan Allah Ta’ala, dan jangan kita bernazar melainkan bagi Allah Ta’ala, dan jangan kita kerjakan ibadah melainkan karena Allah Ta’ala, dan janganlah kita sekutukan Allah Ta’ala dengan yang lain-Nya pada ibadah kita, dan jangan kita menyembelih qurban melainkan bagi Allah Ta’ala, dan jangan kita menyembelih karena hantu, dan tok keramat, dan tok ninik. Dan jangan kita harap melainkan akan Allah Ta’ala. Dan jangan kita takut melainkan akan Allah Ta’ala. Dan jangan kita mintak tolong melainkan akan Allah Ta’ala, karena firman Allah Ta’ala:
و لقد أوحي إليك و إلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك و لتكونن من الخاسرين
Artinya, ‘Dan sungguhnya diberi tahu kepada engkau, wahai Rasulullah, dan kepada sekalian pesuruh yang dahulu daripada engkau, demi Allah jika menyekutukan engkau akan Allah Ta’ala pada ibadah –fardhu taqdir- niscaya bathil segala amal ibadah engkau, dan niscaya adalah engkau daripada sekalian yang rugi pada dunia dan akhirat.’
Dan firman-Nya:
قل إن صلاتي و نسكي و محياي و مماتي لله رب العالمين
Artinya, ‘Berkata olehmu, wahai Rasulullah, bahwasannya sembahyangku, dan menyembelih aku, dan hidupku, dan matiku, tertentu semuanya bagi Allah Ta’ala yang menjadikan segala alam.’
Dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
و إذا سألت فاسأل الله و إذا استعنت فاستعن بالله
Artinya, ‘Apabila berkehendak engkau akan memintak sesuatu maka mintak olehmu akan Allah, dan apabila berkehendak engkau akan meminta tolong maka mintak tolong olehmu akan Allah Ta’ala.’ Allahua’lam.”(Anak Kunci Syurga hlm. 8-9 atau penjelasan lebih panjang dapat dilihat dalam Perisai Bagi Sekalian Mukallaf hlm. 9-12)
Dalam Perisai Bagi Sekalian Mukallaf, Syaikh berkata, “Dan bermula tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah Ta’ala dengan segala perbuatan hamba yang mensyara’kan akan dia oleh Allah Ta’ala bagi mereka itu. Seperti doa, dan nazar, dan menyembelih qurban, dan mintak tolong, dan sembahyang, dan puasa, dan zakat, dan haji, dan umrah, dan lain daripada yang demikian.
Maka wajib atas tiap2 mukallaf bahwa tiada mendoa ia melainkan akan Allah Ta’ala, dan bahwa tiada bernazar ia melainkan bagi Allah Ta’ala, dan bahwa tiada mintak tolong ia melainkan akan Allah Ta’ala, dan bahwa tiada sembahyang ia melainkan karena Allah Ta’ala, dan bahwa tiada takut ia melainkan akan Allah Ta’ala, dan bahwa tiada harap ia melainkan akan Allah Ta’ala, dan bahwa tiada menyembelih qurban ia melainkan bagi Allah Ta’ala, dan bahwa tiada sujud ia melainkan bagi Allah Ta’ala, dan bahwa tiada berserah ia melainkan kepada Allah Ta’ala.
Pendeknya, bahwa tiada mengerjakan ia akan amal ibadah melainkan karena Allah saja, dan jangan menyangkutkan ia akan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya pada ibadahnya.
Maka jangan mintak ampun pada segala dosa melainkan akan Allah Ta’ala, karena tiada ada yang mengampuni dosa melainkan Allah Ta’ala, seperti yang tersebut di dalam Sayyidul Istighfar. Maka tiada harus bagi seseorang mintak ampun dan mintak maaf akan hantu, atau tok keramat, atau tok ninik. Seperti berkata ia pada ketika lalu pada tempat yang disangkanya ada hantu padanya, ‘Assalamu’alaikum, mintak tabik datuk bumi putera di sini, jangan ambil salah silih, anak cucu tiada arti bas, mintak ampun maaflah.’ Maka yang demikian itu perbuatan orang jahiliah. Karena firman Allah Ta’ala:
و أنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن ...
Artinya, ‘Dan bahwasannya adalah pada zaman jahiliah beberapa orang laki2 daripada manusia memintak pelihara mereka itu pada tempat yang ditakuti.’
Dan jangan menyembelih ia akan binatang seperti ayam, dan kambing, dan kerbau balir, dan lainnya karena hantu laut, atau hantu darat, atau tok ninik,atau tok keramat, atau tok lainnya, karena sabda Nabi ﷺ:
لعن الله من ذبح لغير الله
Artinya, ‘Menjauhkan Allah Ta’ala daripada rahmat-Nya akan mereka yang menyembelih karena lain daripada Allah Ta’ala'. Menceritakan dia oleh Muslim.”
Selanjutnya dia membawakan perkataan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Dia berkata, “Dan ini tauhid ialah yang mengingkarkan akan dia oleh musyrikun. Dan inilah perbantahan antara sekalian rasul dan sekalian umat mereka itu dari semenjak Nabi Nuh sampai kepada Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihima wa sallam-.”[3]