×

Bandung Zoo Tutup Saat Lebaran, Wali Kota Farhan Beri Rp1 Juta untuk Pegawai Pasca Kematian Harimau Bengal

Bandung Zoo Tutup Saat Lebaran, Wali Kota Farhan Beri Rp1 Juta untuk Pegawai Pasca Kematian Harimau Bengal

Sekolapedia – 28 Maret 2026 | Bandung, 28 Maret 2026 – Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) resmi ditutup sementara menjelang Hari Raya Idul Fitri setelah dua anak harimau Bengal, Huru dan Hara, meninggal karena infeksi virus. Penutupan ini diikuti dengan langkah-langkah biosekuriti yang dipercepat serta pemberian bantuan langsung sebesar Rp1 juta kepada seluruh pegawai kebun binatang oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

Kematian tragis dua anak harimau menimbulkan kepanikan

Huru dan Hara, yang lahir pada Agustus 2025, tiba-tiba menunjukkan gejala sakit pada awal September 2025. Setelah dilakukan pemeriksaan, tim veteriner mengonfirmasi infeksi virus mematikan yang menyerang sistem pernapasan keduanya. Kedua anak harimau meninggal dalam kurun waktu tiga hari, menimbulkan keprihatinan luas di kalangan pecinta satwa dan masyarakat Bandung.

Wali Kota Farhan menyatakan bahwa kejadian ini menjadi “momentum evaluasi penting” untuk meningkatkan standar pengelolaan, khususnya dalam aspek biosekuriti. Ia menegaskan bahwa prioritas utama kini adalah mencegah penyebaran penyakit serupa kepada satwa lain di kebun binatang.

Penutupan sementara dan persiapan Lebaran

Seiring dengan penutupan, kebun binatang akan tetap mengoperasikan layanan dasar seperti perawatan medis, keamanan, dan pemeliharaan kebersihan. Penutupan ini juga bertepatan dengan libur Lebaran, sehingga mengurangi risiko interaksi publik dengan satwa yang masih dalam proses pemulihan lingkungan.

Farhan menambahkan bahwa laporan resmi mengenai kondisi dan kesiapan kebun binatang akan diserahkan dalam waktu dekat. Laporan tersebut akan menjadi dasar untuk memulai proses seleksi mitra pengelola berbadan hukum yang akan bekerja sama selama 20 tahun ke depan.

Seleksi mitra pengelola baru: transparansi dan profesionalisme

Proses seleksi mitra pengelola diinstruksikan untuk dilakukan secara terbuka dan transparan. Wali Kota menekankan bahwa hanya lembaga konservasi yang memiliki akreditasi dan kapasitas operasional yang akan dipertimbangkan. “Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Seleksi harus ketat dan profesional,” ujar Farhan pada konferensi pers Jumat, 28 Maret 2026.

Kritik dari DPRD Jabar: kegagalan Kementerian Kehutanan

Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, melakukan sidak pada 27 Maret 2026. Ia menyoroti sejumlah masalah yang terjadi setelah pengelolaan kebun binatang diserahkan kepada Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Jabar. Menurut Surono, sejak Agustus 2025 terjadi penurunan kualitas pakan, pembayaran kepada vendor terlambat, serta kurangnya SOP yang jelas.

Surono menuturkan, “Jika asupan makanan tidak dapat dipenuhi, seharusnya satwa dipindahkan ke kebun binatang lain seperti Ragunan atau Surabaya. Namun tidak ada tindak lanjut konkret.” Ia juga menambahkan bahwa komunikasi antara pemerintah provinsi, gubernur Jakarta, dan wali kota Surabaya masih belum menghasilkan kebijakan operasional yang efektif.

Masalah operasional yang belum terselesaikan

  • Kekurangan pakan standar dan khusus untuk satwa karnivora.
  • Keterlambatan pembayaran kepada vendor, menyebabkan penagihan berulang kepada karyawan.
  • Kurangnya fasilitas pendukung seperti bahan bakar, perawatan pohon, dan kebersihan area.
  • Ketidakjelasan status satwa milik negara versus milik yayasan, yang mempersulit proses pemindahan.

Keeper harimau, Usup Supriyatna, yang telah bekerja 33 tahun di kebun binatang, menyatakan keprihatinannya terhadap kesejahteraan satwa dan karyawan. “Kami ingin satwa dan karyawan sejahtera. Namun tanpa dukungan logistik yang memadai, hal itu sulit tercapai,” ujarnya.

Bantuan finansial kepada pegawai

Dalam upaya meredam dampak psikologis dan finansial akibat penutupan, Wali Kota Farhan memberikan bantuan tunai sebesar Rp1 juta kepada setiap pegawai kebun binatang. Bantuan ini dimaksudkan untuk menutupi kebutuhan mendesak selama periode penutupan serta sebagai apresiasi atas dedikasi mereka dalam merawat satwa.

Para karyawan menyambut bantuan tersebut dengan rasa lega, meski tetap menantikan kepastian jangka panjang mengenai status pekerjaan mereka setelah proses seleksi mitra baru selesai.

Langkah selanjutnya dan harapan ke depan

Kebun Binatang Bandung kini berada pada fase transisi kritis. Pemerintah kota berkomitmen untuk memperbaiki standar biosekuriti, menyelesaikan masalah logistik, dan menemukan mitra pengelola yang mampu mengembalikan kebun binatang ke posisi sebagai pusat konservasi dan edukasi yang kredibel.

Jika proses seleksi berjalan sesuai rencana, diharapkan kebun binatang dapat dibuka kembali setelah Lebaran dengan protokol kesehatan yang lebih ketat, memperkuat peranannya dalam pelestarian satwa, dan memberikan rasa aman bagi seluruh staf serta pengunjung.

Post Comment