×

Asal‑Usul Tradisi Berbagi THR Lebaran: Dari Uang Persekot Soekiman Hingga Tekanan Sosial Modern

Sekolapedia – 22 Maret 2026 | Menjelang Idul Fitri, ribuan pekerja di seluruh Indonesia menantikan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai salah satu momen paling dinanti. Di balik amplop berisi uang itu, terdapat sejarah panjang yang mengakar sejak masa pasca‑kemerdekaan, sekaligus dinamika sosial‑ekonomi yang terus berubah hingga kini.

Sejarah Awal THR

THR pertama kali muncul tak lama setelah Indonesia merdeka. Menurut catatan sejarah yang dipublikasikan oleh Universitas Airlangga, Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo pada akhir 1940‑an memperkenalkan uang persekot kepada para pamong praja, yang kini dikenal sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Uang tersebut diberikan menjelang Lebaran untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, kemudian dipotong kembali dari gaji pada bulan berikutnya. Praktik ini kemudian diadopsi oleh sektor swasta, menjadikan THR sebuah kebiasaan yang meluas di kalangan pekerja.

Perubahan Makna dan Tekanan Sosial

Seiring berjalannya waktu, THR tidak lagi sekadar bonus tahunan. Sejumlah wawancara yang dikumpulkan oleh media menyoroti bagaimana THR berubah menjadi beban tak terucapkan bagi sebagian karyawan. Seorang karyawan swasta berusia 25 tahun di Jakarta mengaku bahwa setiap tahun ia harus segera membagi THR kepada orang tua, keponakan, dan kebutuhan Lebaran, meskipun ia sendiri belum sempat menikmati uang tersebut secara lama. Ia menyatakan, “Kadang bukan soal nominal, tapi rasa tidak enak kalau tidak memberi.”

Fenomena serupa juga dirasakan oleh pekerja muda lain yang hidup di daerah suburban. Mereka mengaku adanya standar tak tertulis tentang berapa banyak uang yang harus diberikan kepada kerabat, meski kondisi keuangan masing‑masing berbeda. Tekanan ini semakin terasa saat ekonomi tidak stabil, sehingga sebagian penerima THR malah menghabiskannya untuk kebutuhan sehari‑hari, bukan untuk perayaan.

  • Ekspektasi sosial: memberi kepada keluarga, kerabat, dan anak‑anak.
  • Variasi nominal: tidak ada batasan resmi, tergantung kemampuan.
  • Konsekuensi emosional: rasa bersalah bila tidak memberi.

Praktik Berbagi di Era Modern

Di sisi lain, banyak orang tua yang menganggap tradisi berbagi THR sebagai bagian penting dari kebahagiaan Lebaran. Seorang ibu tiga anak berusia 49 tahun menjelaskan bahwa memberikan amplop kepada anak‑anaknya merupakan momen yang memberi kebahagiaan tersendiri, sekaligus menegaskan nilai gotong‑royong. Ia menambahkan bahwa kini ia menyesuaikan nominal dengan kemampuan, fokus pada niat daripada jumlah.

🔖 Baca juga:
RM Ungkap Rahasia 14 Tahun BTS Tak Terpecah: Dokumenter Netflix “The Return” Buka Tabir Kerentanan dan Kontroversi Kreatif

Tekanan sosial tersebut juga dipengaruhi oleh regulasi. Undang‑Undang Ketenagakerjaan mewajibkan pemberi THR bagi pekerja tetap, namun tidak mengatur besaran minimal, sehingga interpretasi bervariasi antara perusahaan besar dan usaha kecil. Akibatnya, pekerja di sektor informal seringkali bergantung pada kebijakan internal atau tradisi keluarga untuk menentukan berapa banyak THR yang akan mereka terima atau bagikan.

Media sosial turut memperkuat persepsi bahwa THR adalah “uang tambahan” yang wajib dibelanjakan untuk konsumsi Lebaran, mulai dari pakaian baru, makanan khas, hingga kado untuk kerabat. Namun, di balik kemewahan tersebut, terdapat kisah nyata tentang beban keuangan yang menambah stres menjelang hari raya.

Dengan latar belakang sejarah yang kuat, serta dinamika sosial‑ekonomi yang terus berkembang, tradisi berbagi THR tetap menjadi cermin nilai kebersamaan Indonesia. Meskipun tekanan sosial tidak dapat dihindari, semakin banyak orang yang menekankan pentingnya menyesuaikan pemberian dengan kemampuan pribadi, menjadikan niat tulus sebagai inti perayaan.

Secara keseluruhan, asal‑usul THR berakar pada kebijakan pemerintah pasca‑kemerdekaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pekerja. Selama lebih dari tujuh dekade, tradisi ini telah berevolusi menjadi simbol kebersamaan sekaligus tantangan finansial bagi banyak orang. Memahami sejarah dan realita kontemporer dapat membantu masyarakat menyeimbangkan harapan sosial dengan kemampuan ekonomi, sehingga semangat Lebaran tetap terasa hangat tanpa menimbulkan beban berlebih.

Post Comment