Sekolapedia – 22 Maret 2026 | Jeda kompetisi selama libur Idul Fitri 1447 Hijriah dimanfaatkan secara beragam oleh pemain PSIM Jogjakarta. Beberapa memilih merayakan Lebaran bersama keluarga, sementara yang lain mengisi waktu luang dengan liburan ke destinasi wisata. Di balik keceriaan tersebut, pelatih tim mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan berat badan agar performa tetap optimal menjelang kompetisi berikutnya.
Libur Lebaran: Pilihan Beragam Para Pemain
Setelah menyelesaikan serangkaian pertandingan Liga 2, para pemain PSIM mendapatkan jeda enam hari. Donny Warmerdam, bek asing andalan Laskar Mataram, memutuskan memanfaatkan libur dengan melakukan perjalanan ke Lombok bersama beberapa rekan setim. “Kami punya waktu libur enam hari, jadi kami merencanakan perjalanan ke Lombok. Rincian lengkapnya masih dalam proses, namun kami berharap dapat bersantai sejenak,” ujar Warmerdam dalam wawancara dengan psimjogja.id.
Di sisi lain, pemain muda Raka Cahyana memilih pulang ke Banyumas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Ia menantikan hidangan tradisional Soto Sokaraja buatan ibunya, yang selalu menjadi menu wajib setiap Lebaran di rumahnya. “Biasanya Lebaran kami makan Soto Sokaraja dengan sambal kacang. Kalau Mama masak, rasanya paling mantap,” kata Raka dengan senyum.
Kapten tim, Reva Adi Utama, mengambil keputusan berbeda dengan tetap berada di Jogjakarta selama libur. Keputusan ini diambil untuk menghindari kepadatan arus mudik, terutama jalur darat antar kota. “Jika tidak mudik, saya pilih Lebaran di Jogja saja. Orang tua saya baru saja berkunjung ke sini, jadi tidak mendesak untuk pulang ke Makassar,” jelas Reva. Rencananya sempat ke Jakarta untuk bertemu istri dan anaknya, namun dibatalkan demi kenyamanan bayi yang masih kecil.
- Donny Warmerdam – perjalanan ke Lombok bersama rekan setim.
- Raka Cahyana – mudik ke Banyumas, menikmati Soto Sokaraja.
- Reva Adi Utama – tetap di Jogjakarta, menghindari mudik.
Pola Makan dan Peringatan Berat Badan dari Pelatih
Meski libur panjang memberi kesempatan beristirahat, pelatih PSIM menegaskan bahwa kebiasaan pola makan tetap harus diawasi. Menurut pelatih kepala, Jean‑Paul Van Gastel, kebanyakan pemain cenderung mengonsumsi makanan berat setelah berpuasa, yang dapat berakibat pada peningkatan berat badan dan menurunnya kebugaran.
Van Gastel menambahkan, “Selama libur, pemain harus tetap mengontrol asupan kalori, terutama menghindari makanan berlemak tinggi dan gula berlebih. Kami menyediakan menu seimbang dengan protein, karbohidrat kompleks, serta sayuran segar untuk mendukung pemulihan otot.” Ia juga menekankan pentingnya hidrasi yang cukup, terutama setelah aktivitas fisik atau perjalanan jauh seperti ke Lombok.
Selain itu, pelatih menyiapkan program latihan ringan selama libur, seperti jogging pagi, peregangan, dan latihan inti yang tidak memerlukan fasilitas khusus. Tujuannya agar pemain kembali ke lapangan dengan kondisi fisik yang terjaga dan tidak mengalami penurunan performa secara signifikan.
Dampak Libur terhadap Persiapan Musim Kompetisi
Pengalaman libur Lebaran sebelumnya menunjukkan bahwa pemain yang mampu mengatur waktu antara istirahat, liburan, dan pola makan cenderung kembali lebih segar. Namun, mereka yang mengabaikan kontrol asupan makanan seringkali menghadapi tantangan dalam menurunkan berat badan sebelum kembali ke pelatihan intensif.
Tim medis PSIM pun siap memantau kondisi fisik setiap pemain sesaat setelah libur berakhir. Pemeriksaan berat badan, kadar lemak tubuh, serta tes kebugaran dasar akan dilakukan untuk memastikan tidak ada penurunan drastis yang dapat memengaruhi performa tim di sisa musim.
Dengan kombinasi libur yang produktif dan disiplin pola makan, harapan besar ditujukan pada PSIM untuk melanjutkan penampilan kompetitifnya di Liga 2. Para pemain diharapkan dapat kembali ke lapangan dengan semangat baru, stamina terjaga, dan taktik yang telah dipersiapkan selama jeda kompetisi.
Secara keseluruhan, libur Lebaran menjadi momen penting bagi PSIM Jogjakarta: bukan hanya sebagai kesempatan bersosialisasi dan beristirahat, tetapi juga sebagai fase evaluasi kebiasaan nutrisi yang berdampak langsung pada performa di lapangan.



Post Comment