Daftar Isi
- Memahami Dasar Kebijakan Pemotongan Pajak
- Metode Gross: Beban Pajak di Pundak Karyawan
- Metode Netto: Kenyamanan Take-Home Pay yang Utuh
- Mengapa Pajak THR Terasa Lebih Besar dari Pajak Gaji?
- Peran Metode Gross Up sebagai Jalan Tengah
- Analisis Perbedaan Antar Perusahaan: Faktor Budaya dan Finansial
- Dampak Bagi Karyawan dalam Perencanaan Keuangan
- Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik?
Tunjangan Hari Raya (THR) adalah momen yang paling dinantikan oleh jutaan pekerja di Indonesia setiap tahunnya. Namun, kegembiraan ini sering kali diikuti oleh kebingungan saat melihat nominal yang masuk ke rekening atau yang tertera pada slip gaji. Salah satu fenomena yang paling sering diperdebatkan adalah mengapa karyawan dengan jabatan dan gaji yang sama di dua perusahaan berbeda bisa menerima jumlah THR bersih yang tidak sama. Perbedaan ini biasanya berakar pada kebijakan internal perusahaan mengenai metode pemotongan pajak, yaitu apakah perusahaan menggunakan metode Gross atau metode Netto.
Memahami perbedaan antara kedua metode ini sangat krusial, tidak hanya bagi staf Human Resources (HR) dan Payroll, tetapi juga bagi setiap karyawan agar dapat mengelola ekspektasi finansial mereka. Artikel ini akan membedah secara mendalam perbedaan potongan pajak THR antara metode Gross dan Netto, serta bagaimana regulasi perpajakan terbaru di tahun 2026 mempengaruhi perhitungan tersebut.
Memahami Dasar Kebijakan Pemotongan Pajak
Dalam sistem penggajian di Indonesia, Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) adalah komponen wajib yang harus dipotong dari penghasilan karyawan, termasuk penghasilan tidak teratur seperti THR. Namun, pemerintah memberikan fleksibilitas kepada pemberi kerja untuk menentukan siapa yang akan menanggung beban pajak tersebut. Kebijakan ini biasanya tertuang dalam Perjanjian Kerja atau Peraturan Perusahaan.
Baca juga:Menakar Valuasi BUMI Berdasarkan Cadangan 2,5 Miliar Ton Batu Bara
Baca juga:JudulContoh Soal Ujian Kelas 1 SD Terbaru untuk Evaluasi Belajar Anak
Secara garis besar, ada tiga metode yang umum digunakan di Indonesia: metode Gross, metode Netto, dan metode Gross Up. Namun, perdebatan paling mendasar sering kali terjadi antara mereka yang “pajaknya dipotong sendiri” (Gross) dan mereka yang “pajaknya ditanggung perusahaan” (Netto).
Metode Gross: Beban Pajak di Pundak Karyawan
Metode Gross adalah sistem di mana perusahaan memberikan THR dalam jumlah bruto (kotor), dan beban pajak penghasilannya sepenuhnya ditanggung oleh karyawan. Dalam metode ini, nilai THR yang tercantum dalam surat keputusan atau perjanjian kerja adalah nilai sebelum pajak.
Bagaimana Cara Kerjanya? Misalkan seorang karyawan dijanjikan THR sebesar satu kali gaji, yaitu Rp10.000.000. Jika perusahaan menggunakan metode Gross, maka perusahaan akan menghitung berapa pajak PPh 21 atas THR tersebut (misalnya Rp500.000). Nominal yang akan ditransfer ke rekening karyawan adalah Rp10.000.000 dikurangi Rp500.000, sehingga karyawan menerima Rp9.500.000.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Gross:
- Bagi Karyawan: Karyawan merasa memiliki kontribusi langsung terhadap negara karena nominal pajak terlihat jelas di slip gaji. Namun, kekurangannya adalah jumlah uang yang dibawa pulang (take-home pay) menjadi lebih kecil dari angka yang dijanjikan.
- Bagi Perusahaan: Metode ini paling mudah secara administratif dan memberikan kepastian biaya bagi perusahaan. Pengeluaran perusahaan untuk THR tetap stabil sesuai dengan anggaran gaji tanpa harus memikirkan fluktuasi tarif pajak.
Metode Netto: Kenyamanan Take-Home Pay yang Utuh
Berbeda dengan Gross, metode Netto adalah kebijakan di mana perusahaan menanggung beban pajak penghasilan karyawan. Dalam skenario ini, karyawan akan menerima nominal THR secara utuh sesuai dengan jumlah yang dijanjikan, tanpa ada potongan pajak di slip gaji mereka.
Bagaimana Cara Kerjanya? Menggunakan contoh yang sama, jika seorang karyawan dijanjikan THR Rp10.000.000 dan perusahaan menggunakan metode Netto, maka karyawan akan menerima tepat Rp10.000.000 di rekeningnya. Pajak sebesar Rp500.000 tetap dibayarkan ke kas negara, namun uang tersebut diambil dari anggaran tambahan perusahaan, bukan dari jatah THR karyawan.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Netto:
- Bagi Karyawan: Memberikan kepuasan psikologis yang lebih tinggi karena jumlah uang yang diterima sesuai dengan ekspektasi awal. Tidak ada perasaan “dirampok” oleh pajak saat momen hari raya.
- Bagi Perusahaan: Metode ini jauh lebih mahal. Perusahaan harus menyiapkan dana ekstra di luar anggaran gaji untuk membayar pajak karyawan. Selain itu, pajak yang ditanggung perusahaan dalam metode Netto murni (bukan Gross Up) biasanya tidak dapat dikurangkan sebagai biaya perusahaan dalam SPT Tahunan Badan (non-deductible expense).
Mengapa Pajak THR Terasa Lebih Besar dari Pajak Gaji?
Satu hal yang sering memicu komplain di perusahaan dengan metode Gross adalah besarnya potongan pajak saat bulan THR. Banyak karyawan merasa persentase potongan pajaknya meningkat drastis. Hal ini terjadi karena di tahun 2026, sistem perpajakan kita telah sepenuhnya mengadopsi Tarif Efektif Rata-Rata (TER) yang terintegrasi dengan Core Tax System.
Dalam skema TER, tarif pajak ditentukan berdasarkan total penghasilan bruto yang diterima dalam satu bulan kalender. Ketika gaji bulanan digabung dengan THR, total penghasilan bruto di bulan tersebut melonjak. Lonjakan ini secara otomatis menggeser posisi karyawan ke dalam lapisan tarif TER yang lebih tinggi.
Misalnya, jika gaji bulanan biasanya hanya terkena tarif TER 1%, penambahan THR satu kali gaji bisa membuat tarif efektif tersebut melompat menjadi 5% atau 9% untuk total penghasilan bulan itu. Inilah alasan mengapa pada metode Gross, potongan pajak di bulan THR terasa sangat “mencekik” bagi sebagian orang.
Peran Metode Gross Up sebagai Jalan Tengah
Selain Gross dan Netto, ada metode Gross Up yang sering dianggap sebagai solusi paling adil namun kompleks. Dalam metode ini, perusahaan memberikan tunjangan pajak kepada karyawan yang nilainya persis sama dengan nilai pajak yang harus dibayar.
Secara tampilan, slip gaji karyawan akan menunjukkan adanya potongan pajak, namun ada juga kolom tunjangan pajak yang meniadakan potongan tersebut. Keuntungannya bagi perusahaan adalah tunjangan pajak ini dapat dijadikan biaya pengurang pajak perusahaan (deductible expense). Bagi karyawan, hasil akhirnya menyerupai metode Netto di mana uang yang diterima tetap utuh.
Analisis Perbedaan Antar Perusahaan: Faktor Budaya dan Finansial
Mengapa ada perusahaan yang memilih Netto dan ada yang Gross? Keputusan ini biasanya didasarkan pada beberapa faktor:
1. Skala dan Kemampuan Finansial Perusahaan rintisan (startup) atau perusahaan skala menengah sering kali memilih metode Gross untuk menjaga arus kas tetap terprediksi. Sebaliknya, perusahaan multinasional atau BUMN sering kali menggunakan metode Netto atau Gross Up sebagai bagian dari paket kompensasi yang kompetitif untuk menarik talenta terbaik.
2. Transparansi dan Edukasi Perpajakan Perusahaan yang ingin mengedukasi karyawannya agar sadar pajak cenderung memilih metode Gross. Dengan melihat potongan pajak di slip gaji, karyawan diharapkan lebih memahami kewajibannya sebagai warga negara. Namun, hal ini harus dibarengi dengan edukasi yang baik agar tidak terjadi salah paham.
3. Riwayat Kebijakan Internal Sering kali, sebuah perusahaan tetap menggunakan metode Netto hanya karena “sudah dari dulu begitu”. Mengubah metode dari Netto ke Gross adalah langkah yang sangat berisiko dan bisa memicu pengunduran diri massal atau penurunan moral kerja karena dianggap sebagai pemotongan pendapatan secara tidak langsung.
Dampak Bagi Karyawan dalam Perencanaan Keuangan
Bagi Anda sebagai pekerja, mengetahui perusahaan Anda menggunakan metode apa sangatlah penting untuk perencanaan keuangan hari raya. Jika perusahaan Anda menggunakan metode Gross, jangan pernah merencanakan belanja berdasarkan nominal gaji kotor. Anda harus menyisihkan setidaknya 5% hingga 15% dari nilai THR bruto Anda untuk “porsi negara”.
Sebaliknya, jika Anda bekerja di perusahaan dengan metode Netto, Anda bisa lebih tenang dalam menyusun anggaran mudik atau renovasi rumah karena angka yang dijanjikan adalah angka yang akan Anda pegang. Namun, perlu diingat bahwa status pajak Anda di akhir tahun tetap harus dilaporkan secara benar dalam SPT Tahunan.
Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada metode yang secara mutlak lebih baik, karena semuanya bergantung pada sudut pandang dan kondisi keuangan masing-masing pihak. Metode Netto memang memberikan kenyamanan lebih bagi karyawan, namun metode Gross memberikan transparansi finansial yang lebih nyata.
penulis:bagas


Post Comment