Pasar Saham Bergejolak, Saatnya Meniru Langkah Lo Kheng Hong dengan Strategi Value InvestingPasar Saham Bergejolak, Saatnya Meniru Langkah Lo Kheng Hong dengan Strategi Value Investing

Sekolapedia – 04 November 2026 | Pasar keuangan domestik tengah dihadapkan pada fase fluktuasi yang cukup ekstrem seiring dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami volatilitas tinggi lebih dari 4.000 poin di tengah gelombang aksi jual investor asing. Kondisi pasar yang dinamis ini sontak menjadi sorotan para pelaku pasar, terutama investor ritel yang mencari celah keuntungan di tengah ketidakpastian. Di tengah situasi yang menantang ini, pendekatan ala investor legendaris seperti lo kheng hong kembali menduduki panggung utama sebagai salah satu strategi paling rasional dalam meredam risiko sekaligus meraup cuan jangka panjang.

Mandiri Sekuritas mendefinisikan value investing sebagai sebuah strategi investasi yang berfokus penuh pada pencarian saham-saham yang diperdagangkan pada harga jauh di bawah nilai intrinsiknya. Melalui pendekatan ini, investor didorong untuk melihat nilai fundamental dan kesehatan perusahaan secara mendalam, alih-alih sekadar tergiur oleh fluktuasi harga pasar harian. Metode ini pula yang kerap diandalkan oleh lo kheng hong dalam menavigasi berbagai siklus ekonomi yang penuh gejolak di bursa efek.

Dalam praktiknya, menerapkan metode investasi nilai tidak bisa dilakukan secara sembarangan. MNC Sekuritas menjelaskan bahwa cara paling sederhana untuk memulai strategi ini adalah dengan mencari emiten yang memiliki valuasi harga tidak sejalan dengan laporan keuangannya yang solid. Beberapa teknik analisis dasar yang dapat diterapkan meliputi pendekatan top-down, mulai dari meninjau kondisi makroekonomi, kinerja keuangan korporasi, hingga memperhatikan tingkat daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Namun, saham yang murah bukan berarti otomatis layak dibeli. Oleh karena itu, para analis pasar menyarankan investor untuk mencermati berbagai rasio keuangan penting sebelum mengambil keputusan krusial. Beberapa indikator fundamental tersebut antara lain:

  • Price to Earnings Ratio (PER) untuk mengukur valuasi harga saham terhadap laba bersih perusahaan.
  • Price to Book Value (PBV) guna melihat perbandingan harga saham dengan nilai buku ekuitasnya.
  • Return on Assets (ROA) untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki.
  • Return on Equity (ROE) guna mengukur tingkat profitabilitas dari modal yang ditanamkan oleh para pemegang saham.

Perjalanan IHSG sendiri pada tahun ini mencatatkan sejarah yang cukup dramatis. Indeks sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di posisi 9.134,7 poin pada 20 Januari lalu. Kendati demikian, tren pelemahan mulai membayangi sejak awal Februari hingga akhirnya menyentuh titik terendah tahunan di level 4.996,61 poin. Tekanan makroekonomi dan sentimen global membuat pasar sempat tertekan hebat, mengingatkan banyak pihak pada fase-fase konsolidasi besar di masa lampau.

Bagi investor ritel yang ingin bertahan dan berjaya di tengah badai pasar saham, konsistensi dan disiplin dalam menganalisis laporan keuangan korporasi adalah kunci utama. Filosofi investasi yang kerap digaungkan oleh figur sekelas lo kheng hong membuktikan bahwa kesabaran dalam memegang saham perusahaan berfundamental baja di harga diskon sering kali membuahkan hasil manis tatkala pasar kembali pulih. Pengambilan keputusan investasi yang didukung oleh data komprehensif akan senantiasa menjadi perisai terbaik menghadapi ketidakpastian bursa.

Menghadapi dinamika pasar yang tidak menentu, investor ritel disarankan untuk tidak panik melepas portofolio, melainkan fokus menyaring saham-saham berkualitas tinggi. Dengan memahami cara kerja value investing secara komprehensif, peluang untuk mencetak keuntungan jangka panjang tetap terbuka lebar terlepas dari seberapa liar pergerakan indeks saham harian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *