Tantangan Fiskal Membayangi: BI Tahan Suku Bunga di Tengah Tekanan Defisit Global dan DomestikTantangan Fiskal Membayangi: BI Tahan Suku Bunga di Tengah Tekanan Defisit Global dan Domestik

Sekolapedia – 21 Oktober 2026 | Bank Indonesia (BI) resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur. Langkah ini diambil di tengah ekspektasi pasar yang terbelah antara menahan atau menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Keputusan tersebut juga dibarengi dengan tantangan besar terkait potensi pelebaran defisit transaksi berjalan maupun defisit anggaran yang terus diwaspadai oleh otoritas fiskal dan moneter.

Gubernur Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin yang telah dilakukan sebelumnya dinilai cukup untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap berada pada target sasaran 1,5 hingga 3,5 persen. Fokus kebijakan bank sentral saat ini bergeser pada penguatan instrumen yang lebih terarah untuk mendorong arus masuk modal asing, salah satunya melalui peningkatan insentif hedging atau lindung nilai.

Di sisi lain, tantangan eksternal yang kian membesar memaksa bank sentral untuk kembali meninjau ulang proyeksi ekonomi makro. Bank Indonesia merevisi proyeksi defisit transaksi berjalan atau current account untuk sepanjang tahun 2026 ke kisaran 1,6 hingga 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level 0,5 hingga 1,3 persen terhadap PDB, dengan tekanan utama berasal dari tingginya harga minyak global akibat konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah.

Tekanan serupa juga dirasakan pada ranah fiskal domestik. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan tetap mewaspadai risiko pelebaran defisit APBN 2026 yang diproyeksikan berada pada level 2,85 persen terhadap PDB. Walaupun otoritas fiskal optimistis angka tersebut masih terkendali di bawah ambang batas aman 3 persen, berbagai faktor eksternal seperti fluktuasi imbal hasil surat berharga negara serta sentimen negatif global tetap menjadi perhatian serius.

Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar keuangan global dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS, Bank Indonesia meluncurkan berbagai stimulus likuiditas. Kebijakan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap diproyeksikan mampu menginjeksikan tambahan likuiditas hingga ratusan triliun rupiah ke dalam sistem perbankan nasional, guna memastikan roda perekonomian domestik tetap berputar secara optimal di tengah dinamika global yang menantang.

Secara keseluruhan, koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gelombang ketidakpastian global. Meskipun bayang-bayang defisit anggaran dan transaksi berjalan menuntut kewaspadaan tinggi, langkah strategis yang ditempuh pemerintah dan bank sentral diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *