Kontroversi The Assassin(s): Antara Distorsi Sejarah dan Ledakan Box Office Korea Selatan

Kontroversi The Assassin(s): Antara Distorsi Sejarah dan Ledakan Box Office Korea Selatan

Sekolapedia – 10 Oktober 2026 | Dunia perfilman Korea Selatan tengah diguncang oleh gelombang polemik yang hebat menyusul perilisan film thriller sejarah terbaru, the assassin 2026. Film yang dibintangi oleh aktor papan atas seperti Yoo Hae-jin, Park Hae-il, dan Lee Min-ho ini tidak hanya menjadi pembicaraan karena kualitas aktingnya, tetapi juga karena narasi politiknya yang dianggap sensitif dan berpotensi membenturkan persepsi publik dengan catatan sejarah resmi negara.

Sejak dirilis pada 23 September 2026, the assassin 2026 langsung memicu reaksi keras dari kalangan politisi konservatif dan kelompok masyarakat tertentu. Inti dari kontroversi ini terletak pada penggambaran peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Park Chung-hee yang terjadi pada 15 Agustus 1974. Dalam film tersebut, alur cerita mengeksplorasi sudut pandang penyelidik fiktif yang mempertanyakan keterlibatan pihak internal pemerintahan atau badan intelijen dalam insiden yang menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo tersebut.

Perbedaan tajam antara kesimpulan penyelidikan resmi—yang menyatakan pelaku bertindak atas arahan Korea Utara—dengan pertanyaan investigatif yang dibangun dalam film inilah yang dianggap sebagai upaya distorsi sejarah. Kelompok konservatif bahkan melontarkan kritik tajam karena menganggap film ini menyinggung keluarga mendiang Ibu Negara. Ketegangan ini bahkan memuncak hingga terjadi aksi protes di depan kediaman aktor utama Yoo Hae-jin, yang menambah panas suasana industri kreatif di sana.

Menanggapi situasi yang semakin memanas, para sineas Korea Selatan menyatakan kemarahan mereka terhadap politisi yang mencoba mempolitisasi karya seni. Dalam konferensi pers di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 pada Kamis (8/10), sederet sutradara ternama termasuk Chung Ji Young dan Lee Myung Se mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menegaskan bahwa penilaian sebuah karya film seharusnya berada di tangan penonton, bukan dijadikan alat perseteruan politik oleh para pejabat.

Para sineas juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap tim produksi untuk bertanggung jawab atas interpretasi sejarah dalam sebuah karya fiksi dapat membahayakan kebebasan kreatif di Korea Selatan secara umum. Dampak dari kontroversi ini sudah mulai terasa secara nyata, di mana beberapa agenda promosi film di BIFF 2026 terpaksa dibatalkan karena penyelenggara khawatir akan keselamatan para bintang film saat tampil di depan publik.

Namun, di balik badai kritik tersebut, performa komersial the assassin 2026 menunjukkan hasil yang sangat kontras. Film ini justru mencatatkan kesuksesan luar biasa di box office lokal. Berikut adalah ringkasan data performa film tersebut hingga awal Oktober 2026:

Indikator Performa Data Statistik
Total Penonton (per 8/10/2026) 2.584.865 orang
Jumlah Layar Tayang 1.165 layar
Peringkat Box Office #1 (Nomor Satu)

Meskipun dibayangi oleh film Jepang Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island yang berada di posisi kedua, dominasi the assassin 2026 tetap tak tergoyahkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun sebuah film menuai kecaman politik, minat masyarakat untuk menyaksikan narasi yang ditawarkan tetap sangat tinggi.

Pihak tim produksi sendiri telah memberikan klarifikasi bahwa the assassin 2026 adalah sebuah karya fiksi. Mereka menegaskan bahwa film ini tidak bertujuan untuk menggantikan hasil penyelidikan resmi atau menetapkan versi baru mengenai pelaku pembunuhan, melainkan sebagai eksplorasi dramatik dalam kerangka cerita thriller.

Setelah menyelesaikan masa tayangnya di Korea Selatan, film ini dijadwalkan akan menyambangi panggung internasional melalui Singapore International Film Festival (SGIFF) yang berlangsung pada akhir Oktober 2026. Bagi penggemar di Indonesia, hingga saat ini belum ada kepastian resmi mengenai jadwal penayangan film ini di bioskop tanah air.

Secara keseluruhan, fenomena film ini menjadi pengingat akan tipisnya batas antara karya seni fiksi dan interpretasi sejarah di mata publik. Konflik antara kebebasan kreatif sineas dan sensitivitas politik nasional akan terus menjadi diskursus penting dalam perkembangan industri film Korea Selatan di masa mendatang.

Post Comment