Dilema Azerbaijan: Antara Ekspansi Alutsista Global dan Polemik Larangan Hijab di Sekolah

Dilema Azerbaijan: Antara Ekspansi Alutsista Global dan Polemik Larangan Hijab di Sekolah

Sekolapedia – 14 Oktober 2026 | Negara azerbaijan saat ini tengah berada di tengah pusaran dinamika yang kontras, di mana kemajuan diplomasi pertahanan berskala internasional beriringan dengan gejolak sosial domestik yang mendalam. Di satu sisi, Baku menunjukkan taringnya sebagai pemain kunci dalam industri pertahanan regional, namun di sisi lain, kebijakan terkait identitas keagamaan di institusi pendidikan memicu gelombang protes yang meluas.

Dalam ranah diplomasi militer, Azerbaijan baru saja menyelenggarakan pameran pertahanan dua tahunan bergengsi, ADEX 2026, yang berlangsung di Baku dari 30 September hingga 2 Oktober. Pameran ini menandai sejarah baru dengan debut perusahaan pertahanan Amerika Serikat yang pertama kalinya berpartisipasi secara aktif. Kehadiran raksasa industri seperti Northrop Grumman, yang bertindak sebagai mitra sponsor negara, serta perusahaan teknologi militer Ondas Inc., mempertegas penguatan kerja sama keamanan antara Washington dan Baku di bawah Piagam Kemitraan Strategis yang baru ditandatangani pada Februari lalu.

Selain memperkuat hubungan dengan Barat, Azerbaijan juga terus menjaga keseimbangan geopolitiknya di kawasan Asia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, baru-baru ini tiba di ibu kota Baku untuk menghadiri Konferensi tentang Interaksi dan Langkah-Langkah Membangun Kepercayaan di Asia (CICA). Forum antar-pemerintah ini melibatkan 28 negara anggota dan bertujuan untuk membahas isu-isu internasional serta regional yang mendesak, menegaskan peran strategis Baku dalam menjaga stabilitas di wilayah perbatasan Eropa dan Asia.

Namun, di tengah kemegahan forum internasional dan pameran alutsista, suasana di dalam negeri justru memanas akibat kebijakan domestik yang kontroversial. Pemerintah Azerbaijan telah mengamandemen aturan seragam di lembaga pendidikan umum negeri. Meski amandemen tersebut tidak secara eksplisit melarang penggunaan hijab, aturan tersebut melarang segala jenis pakaian yang dianggap melanggar ‘prinsip sekularisme’ negara. Kebijakan ini secara efektif berdampak pada pelarangan penggunaan penutup kepala Muslim bagi siswa maupun guru di berbagai sekolah.

Ketegangan ini memicu reaksi keras dari masyarakat, mengingat sekitar 96% penduduk azerbaijan adalah Muslim. Beberapa sekolah dilaporkan telah mulai menolak siswa dan guru yang mengenakan hijab. Salah seorang tenaga pendidik, Zahra Hasanova, mengungkapkan rasa sakit hatinya karena merasa pilihan pribadi dalam berpakaian telah dirampas oleh regulasi tersebut. Protes tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga meluas ke media sosial dan aksi massa di jalanan. Di beberapa sekolah, siswa melakukan boikot kelas sebagai bentuk solidaritas, bahkan dilaporkan terjadi penangkapan terhadap 37 orang saat aksi protes berlangsung.

Dinamika sosial ini juga menyentuh tokoh-tokoh penting lainnya. Polad Aslanov, seorang jurnalis yang sedang menjalani hukuman penjara, dilaporkan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap melanggar hak konstitusional tersebut. Gejolak ini bahkan merambah hingga ke luar negeri, di mana warga Azerbaijan di Istanbul, Turki, melakukan aksi protes di depan konsulat untuk mendesak pemerintah di Baku meninjau kembali aturan tersebut.

Berikut adalah ringkasan situasi terkini di Azerbaijan:

  • Diplomasi Pertahanan: Debut perusahaan AS di ADEX 2026 dan penguatan kemitraan strategis.
  • Geopolitik: Penyelenggaraan KTT CICA yang dihadiri oleh tokoh penting seperti Sergey Lavrov.
  • Isu Sosial: Kontroversi amandemen aturan seragam sekolah berbasis prinsip sekularisme.
  • Reaksi Publik: Boikot sekolah, aksi mogok makan di penjara, hingga protes di luar negeri.

Secara keseluruhan, Azerbaijan sedang menavigasi jalan yang sulit antara mempertahankan identitas negara sekuler yang ditetapkan konstitusi dan menghormati kebebasan beragama penduduknya yang mayoritas Muslim. Di saat pemerintah berusaha memposisikan diri sebagai kekuatan militer dan diplomatik yang modern di panggung dunia, tantangan untuk menjaga harmoni sosial di dalam negeri menjadi ujian berat bagi stabilitas nasional mereka.

Post Comment