Gareth Southgate mengungkapkan perubahan besar dalam pandangannya terhadap sepak bola setelah meninggalkan posisi sebagai manajer Timnas Inggris. Mantan bek Inggris itu mengaku tidak lagi melihat kemungkinan untuk kembali menangani klub pada masa mendatang.
Southgate menilai sepak bola kini tidak lagi menempati posisi penting dalam kehidupannya. Setelah bertahun-tahun menjadikan hasil pertandingan sebagai bagian utama dari identitasnya, ia justru merasa lebih bahagia karena dapat menjalani pengalaman yang berbeda di luar dunia olahraga.
Gareth Southgate Tak Berminat Melatih Klub
Dalam wawancara di siniar The Amol Rajan Connection, Southgate menyatakan bahwa dirinya tidak dapat membayangkan kembali bekerja sebagai pelatih klub. Pernyataan tersebut dikutip oleh The Athletic dan memperjelas bahwa ia belum memiliki rencana untuk kembali ke pinggir lapangan.
“Harus saya katakan, saya tidak melihat skenario bahwa saya akan melakukan hal itu,” ujar Southgate ketika ditanya mengenai kemungkinan melatih klub di masa depan.
Keputusan itu bukan semata-mata karena tidak adanya tawaran. Setelah mengakhiri tugasnya bersama Inggris, Southgate memang belum menerima pekerjaan melatih baru. Namun, alasan utama yang ia sampaikan berkaitan dengan perubahan gairah dan cara pandangnya terhadap sepak bola.
Ia bahkan mengaku sudah jarang menyaksikan pertandingan. Menurut Southgate, berkurangnya minat untuk menonton sepak bola membuatnya merasa semakin jauh dari keinginan untuk kembali menangani sebuah tim.
Tekanan Selama Memimpin Inggris
Southgate memimpin Timnas Inggris sejak 2016 hingga 2024. Dalam periode tersebut, ia membawa The Three Lions mencapai dua final Piala Eropa, meskipun keduanya berakhir dengan kekalahan.
Inggris kalah dari Italia pada final Piala Eropa dan kemudian takluk dari Spanyol pada kesempatan berikutnya. Selain pencapaian di level Eropa, Southgate juga berhasil mengantar skuad yang diperkuat Harry Kane dan para pemain lainnya ke semifinal Piala Dunia 2018.
Rangkaian hasil itu membuat masa kepemimpinannya menjadi salah satu periode penting bagi Inggris. Di bawah arahannya, tim tersebut mampu tampil lebih konsisten dalam turnamen besar dan bersaing hingga tahap akhir.
Namun, perjalanan panjang bersama tim nasional juga membawa beban mental yang besar. Southgate mengatakan bahwa menjelang akhir masa jabatannya, ia tidak lagi menikmati pekerjaannya seperti sebelumnya. Pada titik tertentu, hanya kemenangan yang membuatnya mampu terus bertahan.
Kemenangan Tak Lagi Memberikan Kepuasan Panjang
Southgate menjelaskan bahwa perubahan perasaannya terhadap sepak bola berlangsung secara bertahap. Ia masih dapat merasakan kegembiraan ketika meraih kemenangan, tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama seperti dahulu.
“Menjelang akhir masa jabatan saya bersama Timnas Inggris, saya tidak lagi menikmatinya—setidaknya untuk suatu periode tertentu; hanya kemenanganlah yang membuat saya terus bertahan,” tuturnya.
Ia kemudian menyadari bahwa kemenangan bahkan tidak lagi mampu memberikan kepuasan dalam waktu panjang. Setelah pertandingan berakhir, rasa senang yang muncul hanya bertahan beberapa menit sebelum kembali digantikan oleh tekanan dan tuntutan berikutnya.
Situasi tersebut membuat Southgate hampir berhenti menonton sepak bola. Bagi seseorang yang selama puluhan tahun hidup dengan jadwal pertandingan, keputusan itu menunjukkan seberapa besar perubahan yang ia alami setelah meninggalkan Timnas Inggris.
Hanya Beberapa Kali Datang ke Stadion
Sejak mundur dari jabatannya, Southgate hanya beberapa kali hadir langsung di stadion. Ia sempat menyaksikan final Liga Champions satu tahun setelah meninggalkan Inggris.
Selain itu, ia juga datang ke final Piala FA 2025. Kedatangannya memiliki arti khusus karena ia ingin mendukung Crystal Palace, klub yang ia dukung, dalam upaya meraih trofi pertama mereka.
Setelah momen tersebut, Southgate mengatakan bahwa dirinya tidak lagi menginjakkan kaki di stadion. Ia tidak menjelaskan bahwa keputusan itu merupakan bentuk penolakan terhadap sepak bola, tetapi menegaskan bahwa keinginannya untuk terlibat dalam olahraga tersebut telah berubah.
Perubahan itu terlihat berbeda dari kehidupan yang ia jalani sebelumnya. Sebagai manajer Inggris, Southgate harus mengikuti pertandingan, menganalisis lawan, memilih pemain, dan menghadapi perhatian publik secara terus-menerus. Kini, ia memilih jarak yang lebih jauh dari rutinitas tersebut.
Southgate Menemukan Kehidupan yang Berbeda
Southgate mengaku sangat menikmati 18 bulan terakhir dalam hidupnya. Pernyataan itu menggambarkan fase baru setelah ia tidak lagi berada di bawah sorotan sebagai pelatih tim nasional.
Selama 37 tahun, ia merasa jati dirinya sangat bergantung pada hasil pertandingan yang berlangsung setiap Sabtu. Menang atau kalah seolah menjadi ukuran utama yang menentukan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.
Setelah meninggalkan pekerjaan tersebut, Southgate mulai merasakan bahwa hidup dapat diisi dengan pengalaman lain. Ia menyebut dirinya senang karena kini memiliki kesempatan untuk mencoba hal-hal berbeda, tanpa terus-menerus mengaitkan kepuasan pribadi dengan hasil pertandingan.
Pengakuan itu juga menunjukkan sisi lain dari tekanan profesi manajer sepak bola. Pekerjaan tersebut tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Hasil laga dapat memengaruhi penilaian publik, suasana ruang ganti, keputusan karier, dan kondisi emosional seorang pelatih.
Pengalaman Melatih Gareth Southgate
Sepanjang karier manajerialnya, Southgate hanya pernah menangani satu klub. Ia menjadi manajer Middlesbrough pada 2006 hingga 2009.
Setelah itu, ia memimpin Inggris U-21 pada 2013 sampai 2016. Pengalaman tersebut kemudian mengantarkannya ke posisi manajer Timnas Inggris senior, yang ia pegang sampai 2024.
Dengan demikian, sebagian besar masa kepelatihan Southgate berlangsung di lingkungan tim nasional. Ia memiliki pengalaman panjang menangani pemain dalam turnamen internasional, tetapi relatif terbatas dalam mengelola klub secara langsung.
Keengganannya untuk kembali melatih klub juga sejalan dengan perjalanan karier tersebut. Southgate tidak menyatakan adanya target baru di dunia sepak bola, melainkan menegaskan bahwa dirinya kini merasa nyaman menjalani kehidupan di luar tekanan pekerjaan sebagai pelatih.
Fokus Baru Setelah Meninggalkan Inggris
Southgate belum menyebut langkah profesional berikutnya secara spesifik. Namun, pernyataannya memperlihatkan bahwa ia tidak sedang terburu-buru mencari pekerjaan baru di sepak bola.
Baginya, meninggalkan rutinitas kompetitif telah membuka ruang untuk menikmati kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ia tidak lagi ingin menjadikan hasil pertandingan sebagai pusat dari seluruh pengalaman pribadinya.
Meski pernah membawa Inggris ke dua final Piala Eropa dan semifinal Piala Dunia 2018, Southgate kini tampaknya memilih untuk dikenang melalui pencapaiannya tanpa harus kembali mengejar pekerjaan serupa. Untuk saat ini, ia merasa cukup dengan kehidupan yang lebih tenang dan tidak terlalu terikat pada sepak bola.
Sumber referensi: sport.detik.com