Sekolapedia – 20 September 2026 | Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih yang sangat mengkhawatirkan. Konflik antara kelompok milisi Houthi dari Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi mengalami eskalasi besar-besaran dalam beberapa hari terakhir. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Houthi dan Arab Saudi bentrok, 300 serangan terjadi pekan ini, yang menandai kembalinya perang terbuka setelah sempat mereda pada tahun 2022.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menjadi sasaran serangan langsung. Pada Sabtu (19/9/2026), warga Riyadh dikejutkan oleh bunyi ledakan keras setelah otoritas setempat mengeluarkan peringatan serangan udara mendadak. Pesan peringatan yang diterima warga sebelum pukul 03.00 waktu setempat menginstruksikan penduduk untuk tetap berada di dalam rumah karena wilayah tersebut berada di bawah ancaman serangan udara musuh. Peristiwa ini menjadi momen krusial karena merupakan pertama kalinya Riyadh terdampak secara langsung sejak intensitas konflik meningkat kembali pada bulan Juli lalu.
Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim telah menghadapi gempuran udara yang sangat masif. Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan bahwa jet tempur F-15 milik Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir, menyasar Provinsi Taiz. Jika ditotal secara keseluruhan, fenomena Houthi dan Arab Saudi bentrok, 300 serangan terjadi pekan ini telah menghantam berbagai wilayah strategis di bawah kendali Houthi. Serangan tersebut dilaporkan menggunakan jet tempur canggih seperti F-15 dan Typhoon yang beroperasi dari pangkalan udara di wilayah Saudi barat daya.
Berikut adalah ringkasan dampak konflik dalam sepekan terakhir:
- Korban Jiwa: Pemerintah Yaman melaporkan 30 anggota Houthi tewas dan 60 lainnya luka-luka di Provinsi Taiz. Sementara itu, Arab Saudi melaporkan satu orang tewas di Taif akibat pencegatan drone Houthi.
- Krisis Kemanusiaan: PBB mencatat lebih dari 112.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran yang kembali pecah, dengan ribuan lainnya melarikan diri melalui jalur laut ke Djibouti.
- Ekspansi Teritorial: Houthi berhasil memperluas kendali mereka di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk penguasaan atas Selat Bab al-Mandab yang vital.
Penguasaan Houthi terhadap Selat Bab al-Mandab telah menciptakan ancaman baru bagi stabilitas ekonomi global. Kelompok tersebut telah mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi. Hal ini memaksa Arab Saudi untuk mencari jalur alternatif guna mengekspor minyak demi menghindari Selat Hormuz yang juga sedang mengalami ketegangan. Data dari Kpler mengonfirmasi adanya penurunan ekspor Arab Saudi melalui jalur tersebut sejak bulan Juli.
Meskipun intensitas serangan terus meningkat dan Houthi dan Arab Saudi bentrok, 300 serangan terjadi pekan ini, pihak Houthi menyatakan bahwa mereka tetap menjamin keamanan bagi kapal-kapal yang tidak memiliki hubungan dengan kepentingan Arab Saudi. Hal ini menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk mulai melakukan pendekatan diplomatik melalui pertemuan di Muscat, Oman, guna mencegah gangguan lebih lanjut terhadap jalur perdagangan internasional.
Konflik yang kembali membara ini menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian di Yaman. Dengan Houthi dan Arab Saudi bentrok, 300 serangan terjadi pekan ini, dunia kini menanti apakah langkah diplomasi internasional mampu meredam ledakan konflik atau justru perang ini akan meluas ke wilayah-wilayah lain di Timur Tengah. Situasi di lapangan tetap sangat dinamis, dengan bentrokan darat yang masih terus berlangsung di wilayah Marib dan pegunungan Kahbub.



Post Comment