Sekolapedia – 20 September 2026 | Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah serangkaian eskalasi militer yang melibatkan beberapa kekuatan besar. Dalam sidang Dewan Keamanan PBB baru-baru ini, Suriah Peringatkan Israel Jadi Ancaman Terbesar Stabilitas Timur Tengah melalui pernyataan tegas dari Wakil Tetap Suriah untuk PBB, Ibrahim Olabi. Olabi menekankan bahwa agresi yang dilakukan oleh pasukan Tel Aviv bukan hanya sekadar gangguan kedaulatan Suriah, melainkan ancaman sistemik yang dapat meruntuhkan perdamaian di seluruh kawasan.
Ketegangan ini dipicu oleh langkah militer Israel yang merambah zona penyangga demiliterisasi dan wilayah Gunung Hermon. Meskipun Damaskus telah berupaya mengedepankan jalur dialog serta mediasi untuk meredam konflik, tindakan Israel yang terus melakukan serangan dan penerobosan wilayah dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap hukum internasional. Dalam forum tersebut, Suriah Peringatkan Israel Jadi Ancaman Terbesar Stabilitas Timur Tengah sebagai respons atas kunjungan pemimpin Tel Aviv ke wilayah yang diklaim ilegal oleh 44 negara anggota PBB.
Berikut adalah ringkasan dinamika konflik yang terjadi dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB:
| Pihak Terlibat | Posisi dan Pernyataan Utama |
|---|---|
| Suriah | Menuntut penarikan pasukan Israel dan kepatuhan pada Perjanjian 1974. |
| Israel | Mengklaim perjanjian 1974 tidak berlaku dan menuduh Turki melakukan ekspansi militer. |
| Turki | Menegaskan kehadiran militer di Suriah adalah atas undangan resmi Damaskus. |
| Rusia | Mengecam tindakan agresif Israel dan mendesak penarikan pasukan ke garis batas. |
| Oman (Blok Arab) | Mengutuk serangan terhadap infrastruktur sipil seperti bandara Abu al-Duhur. |
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mencoba mengalihkan isu dengan menuding Turki sebagai ancaman melalui perluasan militer mereka. Danon mengeklaim bahwa Ankara memiliki sekitar 20 ribu tentara dan lebih dari 100 pangkalan di wilayah Suriah, yang ia sebut mengikuti pola tindakan proksi Iran. Namun, Duta Besar Turki, Ahmet Yildiz, dengan cepat membantah tuduhan tersebut. Yildiz menyatakan bahwa upaya Israel untuk mencoreng kerja sama sah antara Turki dan Suriah hanyalah taktik untuk membenarkan pelanggaran hukum internasional yang mereka lakukan.
Krisis ini semakin kompleks mengingat status hukum Dataran Tinggi Golan. Berdasarkan Resolusi DK PBB Nomor 497, aneksasi yang dilakukan Tel Aviv pada tahun 1981 dianggap batal demi hukum. Pasca runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, pergerakan pasukan Israel ke wilayah sensitif ini semakin memperburuk keadaan. Oleh karena itu, Suriah Peringatkan Israel Jadi Ancaman Terbesar Stabilitas Timur Tengah sebagai peringatan bagi komunitas internasional agar tidak membiarkan pendudukan ilegal terus berlanjut.
Di sisi lain, ketidakpastian di kawasan ini juga dibayangi oleh isu-isu keamanan lainnya. Sementara dunia internasional berfokus pada konflik Timur Tengah, perhatian juga tertuju pada stabilitas regional yang rapuh. Suriah Peringatkan Israel Jadi Ancaman Terbesar Stabilitas Timur Tengah mencerminkan betapa krusialnya peran diplomasi dalam mencegah perang terbuka yang lebih luas. Jika tuntutan untuk kembali ke perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 diabaikan, maka risiko eskalasi militer yang tidak terkendali akan menjadi kenyataan pahit bagi seluruh negara di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, konfrontasi di Dewan Keamanan PBB menunjukkan adanya kebuntuan diplomatik yang serius. Suriah tetap pada pendiriannya untuk tidak melepaskan hak kedaulatan wilayahnya, sementara Israel terus melakukan langkah-langkah yang dianggap oleh banyak negara sebagai pelanggaran nyata terhadap tatanan dunia. Tanpa intervensi yang efektif dari blok regional dan anggota tetap Dewan Keamanan, stabilitas Timur Tengah akan terus berada dalam bayang-bayang konflik yang berkepanjangan.



Post Comment