Sekolapedia – 25 Agustus 2026 | Kompetisi sepak bola antar-mahasiswa, Liga Universitas Coca-Cola 2026, resmi berakhir dengan catatan sejarah baru. Dalam penutupan turnamen yang berlangsung di Stadion PTIK, Jakarta Selatan, pada Minggu (23/8/2026), ratu tisha menegaskan bahwa sepak bola bukan sekadar permainan di lapangan, melainkan instrumen penting untuk menyatukan aspek pendidikan dan pengembangan karakter generasi muda.
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tampil sebagai pemenang mutlak di Regional Jakarta. Tim asuhan pelatih Theophanic Isfahani Mustafa ini menutup musim dengan rekor luar biasa tanpa kekalahan. Pada laga penentuan, UNJ menunjukkan dominasi total dengan membantai Universitas Pakuan (Unpak) dengan skor telak 16-0. Keberhasilan ini membawa UNJ mengumpulkan 38 poin dari 14 pertandingan, mengukuhkan posisi mereka di puncak klasemen.
Sementara itu, di Regional Bandung, STKIP Pasundan berhasil menyabet gelar juara setelah mengumpulkan 36 poin dari 12 pertandingan. Mereka memastikan posisi pertama setelah menaklukkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan skor tipis 1-0 pada laga terakhir. Turnamen yang berlangsung selama empat bulan ini melibatkan total 15 tim kampus dengan 98 pertandingan yang telah digelar.
| Kategori Regional | Juara | Poin | Status Rekor |
|---|---|---|---|
| Regional Jakarta | Universitas Negeri Jakarta (UNJ) | 38 | Tak Terkalahkan |
| Regional Bandung | STKIP Pasundan | 36 | Juara Regional |
Wakil Ketua Umum PSSI, ratu tisha, menyampaikan bahwa keberhasilan turnamen ini merupakan bukti nyata bahwa sinergi antara olahraga dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Menurutnya, kompetisi seperti ini sangat dibutuhkan untuk menunjang bakat pesepakbola masa depan sekaligus membentuk kepemimpinan dan sportivitas mahasiswa.
Lebih jauh, ratu tisha mengungkapkan sebuah visi jangka panjang yang ambisius bagi sepak bola Indonesia. Ia ingin menghapus stigma ‘kalah mental’ yang sering menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Alih-alih hanya menjadi obrolan di warung kopi, ia mendorong agar persoalan mentalitas ini dikaji melalui pendekatan ilmiah atau sport science.
“Kita ingin 10 tahun dari sekarang, saat orang membicarakan timnas Indonesia, yang mereka katakan adalah mentalnya paling kuat, seperti kita melihat ketenangan pemain Jepang saat bertanding,” ujar ratu tisha dalam sesi jumpa pers. Ia menekankan bahwa pembentukan mental baja tidak bisa hanya dilakukan di dalam ruang kelas, melainkan harus melalui pengalaman langsung di lapangan hijau, di mana tekanan pertandingan nyata dapat melatih emosi dan ketangguhan psikologis pemain.
Liga Universitas 2026 juga mengusung tema “Football For Mental Health”, yang mengintegrasikan aktivitas fisik dengan kesehatan mental. Program ini bahkan telah mendapatkan pengakuan internasional, di mana dua peserta, Elang Cikal Brajananta dari STKIP Pasundan dan M. Elyas Aryo Saputro dari ITB, berkesempatan mewakili Indonesia dalam program kesehatan mental pemuda di Markas Besar PBB, New York.
Di sisi lain, dalam perannya sebagai tokoh penting di PSSI, ia juga senantiasa mengingatkan pentingnya etika dalam mendukung tim nasional. Ia menekankan bahwa lapangan hijau harus menjadi simbol persaudaraan, bukan ajang permusuhan antarnegara, guna menjaga nama baik bangsa di kancah internasional.
Melalui integrasi antara kompetisi yang kompetitif, pendekatan ilmiah, dan fokus pada kesehatan mental, diharapkan lahir generasi pesepakbola yang tidak hanya unggul secara teknik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mentalitas juara yang mampu bersaing di level dunia.



Post Comment