Sekolapedia – 13 Agustus 2026 | Dunia kecantikan internasional tengah menjadi sorotan setelah rangkaian peristiwa besar yang menyelimuti ajang miss universe kanada tahun ini. Di balik kemilau panggung dan mahkota, ajang tersebut tidak hanya menyuguhkan kompetisi estetika, tetapi juga memicu debat panas mengenai apropriasi budaya, memperjuangkan isu kemanusiaan, hingga mencatatkan momen sejarah yang sangat emosional.
Kontroversi Kostum Nasional dan Isu Apropriasi Budaya
Ketegangan pertama muncul pada malam kompetisi di Windsor, Ontario, saat segmen kostum nasional berlangsung. Dua kontestan, Karisa Haverkamp dan Jasleen Kaily, memicu reaksi keras setelah mengenakan pakaian yang dianggap mengambil elemen sakral budaya pribumi tanpa izin atau konteks yang tepat. Hal ini memicu perdebatan serius mengenai batas antara apresiasi dan apropriasi budaya di panggung miss universe kanada.
Beberapa poin utama dalam kontroversi ini meliputi:
- Karisa Haverkamp: Mengenakan hiasan kepala bulu (feathered headdress) yang secara tradisional merupakan simbol kepemimpinan bagi masyarakat pribumi di Amerika Utara, serta menggunakan simbol tangan merah yang berkaitan erat dengan gerakan Missing and Murdered Indigenous Women and Girls (MMIWG).
- Jasleen Kaily: Mempresentasikan kostum bertajuk “Arctic Beauty” yang menggunakan pakaian berbahan bulu penuh, sepatu mukluks, serta gaya rambut kepang yang memiliki makna budaya mendalam bagi bangsa First Nations.
Ashley Callingbull, pemenang Miss Universe Canada 2024 yang merupakan perempuan pribumi pertama yang meraih gelar tersebut, tidak tinggal diam. Sebagai salah satu pembawa acara, ia secara terbuka menyatakan keterkejutannya dan mengkritik penggunaan simbol-simbol budaya tersebut karena dianggap tidak menghormati nilai-nilai luhur masyarakat adat.
Momen Haru Jaime VandenBerg: Simbol Kekuatan Ibu
Di tengah riuhnya kontroversi, ajang miss universe kanada juga memberikan ruang bagi narasi kemanusiaan yang sangat menyentuh melalui sosok Jaime VandenBerg. Sebagai pemegang gelar Miss Universe Canada 2025, VandenBerg menutup masa jabatannya dengan cara yang tidak terlupakan.
Dalam sesi final walk pada penobatan tahun 2026, Jaime naik ke atas panggung sambil menggendong putrinya yang masih bayi, Charlotte. Aksi ini dianggap sebagai simbol keberanian bagi para ibu di dunia modern dan mendefinisikan ulang standar kecantikan yang tidak lagi hanya terpaku pada fisik, tetapi juga pada peran sosial dan ketangguhan hidup. Jaime sendiri merupakan seorang penyintas kekerasan berbasis gender dan memiliki latar belakang pendidikan filsafat, yang menjadikannya sosok advokat yang kuat bagi perlindungan perempuan.
Tekanan Standar Kecantikan dan Perjuangan Mental
Selain dinamika di panggung Kanada, industri kecantikan global juga menyoroti tekanan psikologis yang dialami para kontestan. Pengalaman Akanksha Chaudhary, seorang bintang reality show yang juga mempersiapkan diri untuk ajang Miss Universe, menjadi pengingat nyata tentang betapa beratnya ekspektasi terhadap wajah yang “terpahat” atau chiselled. Ia mengungkapkan bahwa ia sempat menabung dan bahkan membatasi asupan makanan secara ekstrem demi melakukan prosedur bedah wajah guna memenuhi standar industri tersebut.
Kisah-kisah ini, mulai dari perjuangan Jaime VandenBerg hingga kritik tajam mengenai penggunaan atribut budaya, menunjukkan bahwa panggung miss universe kanada kini telah bertransformasi. Ia bukan sekadar ajang mencari wajah tercantik, melainkan sebuah platform yang menuntut sensitivitas sosial, penghormatan terhadap identitas budaya, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran di tengah tekanan standar kecantikan yang tidak realistis.
Sebagai catatan tambahan dalam konteks kemanusiaan, dunia juga berduka atas kehilangan Alaya McIvor, seorang pemimpin komunitas pribumi yang sangat vokal dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan anak-anak pribumi yang hilang atau terbunuh. Warisan perjuangannya menjadi pengingat penting bagi seluruh penyelenggara ajang kecantikan untuk selalu menjaga sensitivitas terhadap isu-isu sosial yang sedang dihadapi oleh masyarakat adat.



Post Comment