Daftar Isi
Sekolapedia – 09 Juli 2026 | Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kini memiliki wajah baru yang lebih hijau. Di sepanjang pesisir Desa Labuhan Alas, ribuan bibit mangrove telah tertanam kokoh, menjadi simbol komitmen nyata dalam menjaga ekosistem laut dan ketahanan lingkungan. PT Freeport Indonesia (PTFI) baru saja menuntaskan program penanaman 1,5 juta bibit mangrove di wilayah tersebut, sebuah langkah strategis yang mendukung program restorasi nasional di luar area operasional perusahaan di Papua.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026) ini dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, serta Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal. Penanaman ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari gerakan “Tobat Ekologis” untuk memperbaiki kondisi lingkungan pesisir yang kian terancam oleh krisis iklim dan abrasi.
Sinergi untuk Pemulihan Lingkungan
Program rehabilitasi mangrove yang mencakup total area seluas 484 hektare ini tersebar di dua kabupaten utama, yakni 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur. Tony Wenas menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta PTFI yang dimulai pada tahun 2023. “Dalam operasional, kami tidak hanya memikirkan produksi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan,” ujar Tony di sela-sela kegiatan.
Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menyambut baik kontribusi ini. Ia menekankan bahwa rehabilitasi mangrove adalah tanggung jawab bersama guna mengatasi kerusakan hutan mangrove nasional yang saat ini mencapai sekitar 700.000 hektare dari total 3,4 juta hektare yang ada di Indonesia. “Mangrove adalah benteng alami yang melindungi daratan dari intrusi air laut, tempat pembesaran biota laut, sekaligus penyerap karbon yang sangat efektif,” tegasnya.
Manfaat Ekonomi dan Identitas Budaya
Bagi warga lokal seperti Muhamad Isnaini, seorang koordinator komunitas mangrove, keberadaan tanaman bakau memiliki makna yang jauh lebih dalam. Selain fungsi ekologis, mangrove telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat pesisir Sumbawa. Akar mangrove jenis Rhizophora, misalnya, kerap diolah menjadi bahan campuran untuk Minyak Sumbawa, ramuan tradisional yang dikenal ampuh untuk menyembuhkan luka dan meredakan nyeri otot. Bahkan, akar muda mangrove menjadi bahan rahasia dalam hidangan khas “Sepat Sumbawa” yang memberikan cita rasa unik.
Keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan program ini. Sebanyak 1.500 warga setempat dilibatkan dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman. Hal ini tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir bagi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Jejak Konservasi Nasional
Hingga tahun 2026, PTFI telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam pemulihan lingkungan di berbagai penjuru Indonesia. Selain 1,5 juta bibit di NTB, perusahaan ini juga telah menanam sekitar 5,5 juta bibit di area seluas 2.184 hektare di Mimika, Papua. Total rehabilitasi yang dilakukan PTFI di luar Papua kini mencapai 666 hektare dengan dua juta bibit yang tersebar di delapan provinsi, termasuk Bali, Kalimantan Timur, Riau, hingga Sumatera Utara.
Keberhasilan penanaman mangrove di Sumbawa menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat mampu menciptakan dampak lingkungan yang masif. Dengan pulihnya ekosistem mangrove, diharapkan ketahanan pesisir Indonesia terhadap perubahan iklim dapat meningkat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan bakau. Langkah ini menegaskan bahwa pembangunan dan kelestarian alam harus berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih hijau.
Post Comment