×

100 Tahun Ali Sadikin: Peringatan Sang Visioner, DKI Komitmen Lanjutkan Warisan Seni, Budaya, dan Kota

100 Tahun Ali Sadikin: Peringatan Sang Visioner, DKI Komitmen Lanjutkan Warisan Seni, Budaya, dan Kota

Sekolapedia – 10 Juli 2026 | Jakarta merayakan satu abad kelahiran Ali Sadikin, sosok legendaris yang memimpin ibu kota periode 1966-1977. Peringatan ini tidak hanya menjadi ajang mengenang jejak sang gubernur melalui pameran arsip dan foto bersejarah di Taman Ismail Marzuki (TIM), tetapi juga menegaskan kembali komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melanjutkan dan merawat warisan monumental beliau. Rangkaian acara yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini menekankan pentingnya visi Ali Sadikin yang melampaui pembangunan fisik semata, namun juga meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan seni, budaya, dan tata kota.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam sambutannya di Teater Besar TIM, Selasa (7/7/2026), menegaskan bahwa karya terbesar Ali Sadikin terletak pada keberaniannya membangun ekosistem seni dan budaya. “Bagi saya pribadi, sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya dan seni, yang salah satunya adalah di tempat (TIM) ini,” ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa siapapun gubernur Jakarta tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah diwariskan oleh ‘Bang Ali’.

Pameran yang berlangsung hingga 14 Juli 2026 ini menampilkan beragam arsip, foto, dan dokumentasi yang merekam perjalanan kepemimpinan Ali Sadikin. Pengunjung diajak menyelami berbagai kebijakan transformatif yang membentuk wajah Jakarta dari masa ke masa. Dari perbaikan kampung melalui Program Mohammad Husni Thamrin yang didanai pinjaman Bank Dunia, hingga pembangunan ikon-ikon kota seperti Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, dan Taman Margasatwa Ragunan, semua tergambar jelas. Keberanian Ali Sadikin dalam mencari solusi inovatif, bahkan di tengah keterbatasan anggaran, menjadi pelajaran penting. Saat menjabat, Jakarta telah dihuni empat juta jiwa, jauh melampaui proyeksi awal Batavia, dengan anggaran yang sangat terbatas. Namun, Ali Sadikin tidak gentar, ia mencari jalan keluar sendiri untuk membenahi kota.

Pramono Anung menekankan bahwa pembangunan Jakarta tidak bisa hanya berorientasi pada infrastruktur modern. Ia menegaskan pentingnya berpijak pada sejarah dan kebudayaan sebagai identitas kota. “Menjelang Jakarta memasuki usia lima abad pada 2027, kita ingin membangun Jakarta sebagai kota global yang modern, tetapi tetap berkarakter, menghargai sejarah, dan menjadikan kebudayaan sebagai identitas sekaligus kekuatan kota,” jelasnya. Komitmen ini diwujudkan Pemprov DKI Jakarta melalui berbagai program prioritas, termasuk mengaktifkan kembali Planetarium Jakarta sebagai pusat edukasi, menuntaskan proyek pembangunan yang belum selesai dari pemerintahan sebelumnya seperti perbaikan akses jalan menuju Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, serta revitalisasi kawasan Pasar Baru dan Kota Tua.

Lebih lanjut, Pramono mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan mewariskan semangat kepemimpinan Ali Sadikin kepada generasi muda. Ia menggarisbawahi nilai-nilai kepemimpinan Bang Ali yang masih relevan hingga kini, seperti keberanian dalam mengambil keputusan, kemampuan berpikir jangka panjang, dan komitmen membangun demi kepentingan masyarakat. Semangat ini menjadi inspirasi bagi Pemprov DKI Jakarta dalam arah pembangunan kota saat ini, yang tidak hanya fokus pada transportasi publik terintegrasi dan pengembangan kawasan TOD, tetapi juga pada pelestarian sejarah dan penguatan budaya Betawi sebagai identitas khas ibu kota.

🔖 Baca juga:
Opinion: Why We Need to Talk About the “Silent Struggle” After the Katherine Short News

Peringatan 100 tahun Ali Sadikin ini menjadi momentum refleksi atas kontribusi besar seorang pemimpin visioner. Warisan Ali Sadikin, yang melintasi pembangunan fisik hingga penguatan ekosistem seni dan budaya, terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta. Komitmen Pemprov DKI untuk merawat dan menghidupkan kembali aset-aset bersejarah ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas kota di tengah pesatnya perkembangan zaman, memastikan bahwa semangat ‘dit heeft Ali Sadikin gedaan’ – itulah yang telah diperbuat Ali Sadikin – terus bergema dan menginspirasi pembangunan Jakarta menuju kota global yang berkarakter.

Post Comment