Wall Street Meroket Merah: Investor Gelisah Hadapi Lonjakan Inflasi dan Ketegangan Timur Tengah

Wall Street Meroket Merah: Investor Gelisah Hadapi Lonjakan Inflasi dan Ketegangan Timur Tengah

Sekolapedia – 26 Maret 2026 | Wall Street menutup sesi perdagangan Rabu (25/3) dengan catatan kenaikan signifikan pada indeks utama, namun kecemasan inflasi tetap menggerogoti sentimen investor. Penurunan harga minyak mentah lebih dari 2 persen memberikan dorongan pada pasar, sementara spekulasi tentang de‑eskalasi konflik di Timur Tengah menambah ketidakpastian.

Pergerakan Indeks Utama

Menurut data Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 305,43 poin atau 0,66 persen ke level 46.429,49. S&P 500 mencatat kenaikan 35,53 poin (0,54 persen) menjadi 6.591,90, dan Nasdaq Composite melaju 167,93 poin (0,77 persen) ke 21.929,83. Kenaikan tersebut didorong oleh penurunan harga minyak, yang diperkirakan mengurangi tekanan inflasi global.

Faktor Geopolitik: Iran dan Proposal Amerika Serikat

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengonfirmasi bahwa Tehran sedang meninjau proposal damai yang diajukan oleh Amerika Serikat melalui Pakistan. Meski demikian, Tehran menegaskan tidak akan menggelar pembicaraan langsung dengan Washington dan menganggap proposal tersebut berlebihan, khususnya terkait kedaulatan atas Selat Hormuz. Sinyal yang kontradiktif antara kedua negara menimbulkan volatilitas, namun setiap langkah diplomatik memberikan secercah harapan bagi pelaku pasar.

Sektor‑Sektor Kunci

  • Energi: Menjadi sektor terlemah di S&P 500, turun 0,5 persen karena harga minyak yang melemah.
  • Material: Menguat 2 persen, didorong oleh permintaan logam dasar.
  • Konsumsi Diskresioner: Naik 1,2 persen, didukung oleh sentimen konsumen yang lebih optimis.
  • Teknologi: Saham Arm Holdings melonjak 16,4 persen setelah meluncurkan chip AI baru; AMD, Intel, dan Nvidia masing‑masing naik lebih dari 7 persen.
  • Ruang Angkasa: Destiny Tech100 naik 15 persen setelah laporan bahwa SpaceX akan mengajukan prospektus IPO; Rocket Lab, Intuitive Machines, dan EchoStar juga mencatat kenaikan di atas 7 persen.

Pengaruh Harga Minyak Terhadap Inflasi

Lonjakan harga minyak sebelumnya sempat memicu kekhawatiran inflasi yang dapat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga. Namun, penurunan tajam harga minyak baru‑baru ini mengurangi tekanan tersebut. FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan pasar kini tidak lagi memperkirakan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini, berbanding terbalik dengan perkiraan sebelumnya yang mengantisipasi dua kali pemotongan sebelum konflik pecah.

Baca juga:
Detik-Detik Mencekam Kebakaran di SPBU Cemplang Bogor: Mobil Hangus dan Dispenser BBM Terbakar

Pergerakan Saham Internasional dan Lainnya

  • JD.com naik 8 persen dan Alibaba menguat 3,5 persen setelah regulator China menekan kompetisi harga di sektor layanan pesan‑antar makanan.
  • Robinhood Markets mencatat kenaikan 5 persen usai mengumumkan program pembelian kembali saham senilai 1,5 miliar dolar AS.

Statistik Volume dan Rasio Kenaikan‑Penurunan

Di bursa AS, total saham yang diperdagangkan mencapai 17,07 miliar, lebih rendah dari rata‑rata 20 sesi terakhir (20,69 miliar). Di New York Stock Exchange, rasio saham naik terhadap turun mencapai 2,86:1, dengan 115 saham mencetak level tertinggi baru dan 127 mencapai terendah baru. Nasdaq mencatat 3.174 saham naik dan 1.523 turun, rasio 2,08:1.

Rekor Harian dan Momentum Pasar

S&P 500 menorehkan 17 level tertinggi baru dalam 52 minggu serta 24 level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 64 tertinggi baru dan 172 terendah baru. Data ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat aktif, di mana optimism terkait de‑eskalasi konflik bersaing dengan kekhawatiran inflasi yang masih membayangi.

Baca juga:
Ekonomi RI di Persimpangan: Tekanan PPN 12 Persen, Pajak Marketplace, dan Ancaman Penurunan Kelas Menengah

Secara keseluruhan, meskipun Wall Street menutup sesi dengan warna hijau, kecemasan inflasi dan ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor penggerak utama. Investor diperkirakan akan terus memantau perkembangan diplomatik di Timur Tengah serta kebijakan moneter global sebelum membuat keputusan alokasi aset yang lebih strategis.

Baca juga:
Heboh WN Israel di Bali, Imigrasi Ungkap Ini Dua Cara Warga Israel Bisa Masuk Indonesia Menurut Imigrasi

Post Comment