Siapa sih yang nggak kenal sama sosok Putri Diana? Meskipun raga beliau sudah nggak ada di tengah kita, segala hal tentang “Princess of Wales” ini selalu menarik buat dikulik. Mulai dari gaya busananya yang legendaris, kegiatan kemanusiaannya yang menyentuh hati, sampai urusan perut alias makanan favoritnya.
Ngomongin soal makanan anggota kerajaan, pasti yang terlintas di pikiran kita adalah hidangan mewah macam foie gras, kaviar, atau daging wagyu kualitas premium yang dimasak sama koki bintang lima, kan? Tapi tahu nggak sih, ternyata selera mendiang ibu dari Pangeran William dan Pangeran Harry ini justru sangat merakyat.
Belum lama ini, sebuah fakta menarik terungkap dari mulut orang dalam istana, yaitu Darren McGrady. Beliau ini bukan orang sembarangan, tapi mantan koki pribadi kerajaan Inggris yang sudah melayani keluarga tersebut selama bertahun-tahun. Menurut Darren, ada satu makanan penutup atau dessert yang selalu jadi rebutan dan paling ditunggu-tunggu sama Putri Diana. Namanya adalah Bread and Butter Pudding.
Bukan Sekadar Puding Roti Biasa
Kalau mendengar namanya, mungkin terdengar biasa saja ya? “Ah, cuma puding roti pake mentega.” Tapi di balik kesederhanaannya, ada cerita sejarah dan teknik memasak yang bikin hidangan ini jadi spesial banget, terutama versi yang disajikan di meja makan Sang Putri.
Bread and butter pudding ini sebenarnya adalah hidangan klasik khas Inggris. Ibaratnya kalau di Indonesia, ini semacam kolak atau pisang goreng yang sudah mendarah daging di lidah masyarakatnya. Menariknya, hidangan ini punya julukan yang agak kontras dengan status Diana sebagai bangsawan, yaitu “Poor Man’s Pudding” atau pudingnya orang miskin. Kok bisa? Nanti kita bahas sejarahnya lebih dalam. Tapi yang jelas, status “makanan rakyat” inilah yang bikin Putri Diana makin dicintai, karena selera makannya pun menunjukkan sisi beliau yang rendah hati dan nggak neko-neko.
Resep Rahasia ala Darren McGrady
Darren McGrady sempat membocorkan gimana cara dia bikin dessert ini sampai Putri Diana ketagihan. Ternyata rahasianya bukan pada bahan yang mahal, tapi pada detail dan kasih sayang saat membuatnya (halah, tapi beneran lho!).
Pertama, rotinya nggak asal tumpuk. Darren bakal memotong roti tawar menjadi bentuk segitiga. Setelah itu, setiap lembar roti diolesi mentega dengan Royal (royal di sini maksudnya royal takarannya, alias nggak pelit). Roti-roti ini disusun rapi di dalam loyang.
Nah, ada satu sentuhan fancy yang bikin rasanya makin nendang: kismis. Tapi kismisnya bukan kismis kering yang langsung tabur gitu aja. Kismisnya harus direndam dulu dalam cairan amaretto. Buat yang belum tahu, amaretto itu semacam minuman manis dengan aroma kacang almond yang kuat. Bayangkan, kismis yang tadinya keriput jadi gendut karena menyerap amaretto, lalu saat digigit… boom! Rasanya pecah di mulut.
baca juga:Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Raih Hibah Pengembangan Modul Digital dari Kemendiktisaintek
Setelah roti dan kismis tersusun rapi, baru deh disiram sama adonan custard. Isinya campuran telur, gula, susu, dan ekstrak vanila yang wangi banget. Setelah disiram, adonan ini didiamkan sebentar supaya meresap ke pori-pori roti, baru dipanggang sampai bagian atasnya berubah warna jadi kuning keemasan dan teksturnya jadi garing di luar tapi lembut (lumer) di dalam.
Satu lagi detail estetik dari Darren: dia menyusun rotinya miring-miring mirip susunan genting rumah. Tujuannya supaya bagian ujung segitiganya mencuat ke atas dan jadi super renyah pas keluar dari oven. Sebagai sentuhan akhir, biasanya ditambah taburan irisan almond, gula bubuk, atau disajikan bareng krim segar. Duh, ngebayanginnya aja udah bikin ngiler, kan?
Sisi Lain Lady Di di Balik Pintu Dapur
Kenapa sih Putri Diana suka banget sama makanan ini? Selain rasanya yang memang enak, ada faktor psikologisnya juga. Darren McGrady bercerita kalau Putri Diana itu sosok yang sangat hangat. Beliau bukan tipe majikan yang cuma duduk manis nunggu makanan diantar.
Sering banget Putri Diana main ke area dapur. Bukan buat sidak atau marah-marah, tapi cuma buat menyapa para staf dapur sambil bikin kopi sendiri. Di saat-saat santai itulah, beliau sering ngobrol dan akhirnya menikmati hidangan rumahan seperti bread and butter pudding ini. Baginya, makanan ini bukan cuma soal rasa, tapi soal rasa nyaman (comfort food). Di tengah tekanan hidup sebagai anggota kerajaan yang selalu disorot kamera, secangkir kopi dan sepiring puding roti hangat di dapur adalah kemewahan yang sebenarnya bagi Diana.
Sejarah “Puding Orang Miskin” yang Naik Kelas
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Kenapa hidangan ini disebut puding orang miskin? Jadi, berabad-abad yang lalu di Inggris, membuang makanan itu dianggap dosa besar, apalagi roti. Nah, masyarakat kelas bawah biasanya punya sisa-sisa roti yang sudah mengeras atau basi (tapi belum jamuran ya). Karena sayang mau dibuang, mereka memutar otak gimana caranya supaya roti keras itu bisa enak lagi dimakan.
Akhirnya, mereka merendam roti itu di dalam campuran susu dan sedikit lemak (mentega atau lemak hewani lainnya), lalu dipanggang. Hasilnya? Luar biasa lembut dan mengenyangkan. Dari situlah nama “Poor Man’s Pudding” muncul. Ini adalah simbol kreativitas rakyat jelata dalam menghadapi keterbatasan.
Namun, seiring berjalannya waktu, resep ini “naik kelas”. Bahan-bahannya mulai dimodifikasi pake telur yang banyak, krim kental, vanila dari Madagaskar, sampai kismis pilihan. Sekarang, jangan kaget kalau kamu nemu bread and butter pudding di menu restoran bintang Michelin atau hotel mewah di London dengan harga yang lumayan menguras kantong. Dari meja dapur rakyat jelata, pindah ke meja makan Putri Kerajaan, sampai ke restoran elit. Sebuah perjalanan karier makanan yang cukup hebat, ya?
Kenapa Kita Semua Harus Coba Puding Ini?
Melihat tren makanan sekarang yang aneh-aneh (kayak makanan yang difoto dulu baru dimakan), bread and butter pudding mengingatkan kita kalau kesederhanaan itu tak lekang oleh waktu. Teksturnya yang lembut memberikan sensasi hangat di perut, cocok banget dimakan pas cuaca lagi hujan atau pas kita lagi merasa capek setelah seharian kerja.
Mungkin itu juga yang dirasakan Putri Diana. Di balik perhiasan tiara yang berat dan protokol kerajaan yang kaku, beliau tetaplah manusia biasa yang mencari kebahagiaan dari hal-hal simpel. Mengetahui kalau makanan favoritnya adalah sesuatu yang bisa kita bikin sendiri di rumah pakai roti sisa di kulkas, rasanya jadi merasa “dekat” ya sama beliau?
Penutup: Warisan dalam Sepiring Hidangan
Kisah tentang bread and butter pudding favorit Putri Diana ini lebih dari sekadar info kuliner. Ini adalah pengingat tentang kepribadian seorang ikon dunia yang tetap membumi. Beliau membuktikan kalau selera yang bagus nggak selalu harus mahal, dan kemewahan yang paling hakiki adalah ketika kita bisa menikmati makanan yang memberikan ketenangan jiwa.
Jadi, kalau besok-besok kamu punya sisa roti tawar yang sudah hampir expired, jangan langsung dibuang. Ingat Putri Diana, ingat Darren McGrady. Ambil mentega, telur, susu, dan kismis. Bikinlah bread and butter pudding. Siapa tahu, dengan makan puding itu, kamu bisa merasakan sedikit “keajaiban” dan kehangatan yang dulu dirasakan oleh Sang Putri di sudut dapur Istana Kensington.
penulis:rinaldy
Post Comment