Sekolapedia – 26 Maret 2026 | Pada pekan terakhir Ramadan, arus balik mudik Lebaran 2026 kembali menjadi sorotan utama di Jawa Barat. Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), menerapkan serangkaian kebijakan rekayasa lalu lintas berbasis satu arah (one way) untuk mengurai kepadatan di beberapa titik kritis, termasuk jalur Gentong, Gerbang Tol Kalikangkung‑Cikampek, serta ruas utama Garut‑Tasikmalaya.
Di wilayah Garut, petugas mengimplementasikan one way pada malam Selasa (24/3) selama 30 menit. Jalur kendaraan dari Tugu Perbatasan Garut‑Tasikmalaya hingga Simpang Wage ditutup, sehingga alur kendaraan yang menuju Lingkar Gentong dapat melaju bebas di dua jalur. Langkah ini berhasil memecah kemacetan panjang yang sempat mencapai 10 km antara Pos Lantas Panyusuhan dan Lingkar Gentong pada hari ke‑2 dan ke‑3 setelah arus mudik dimulai. Pada puncaknya, antrean kendaraan melampaui batas kabupaten Tasikmalaya dan Garut dengan panjang lebih dari 20 km.
Statistik Kendaraan yang Melintasi Jalur Garut
Data lapangan menunjukkan bahwa pada hari Selasa, sebanyak 92.000 kendaraan menumpuk di jalur Garut, dengan 54.020 kendaraan berhasil melintas ke arah Bandung‑Jakarta setelah penerapan one way. Angka ini menandakan penurunan signifikan dibandingkan perkiraan awal yang mengindikasikan potensi kemacetan hingga 150.000 kendaraan.
- 92.000 kendaraan menumpuk di jalur Garut sebelum one way.
- 54.020 kendaraan berhasil melintas ke Bandung‑Jakarta setelah kebijakan diterapkan.
- Panorama kemacetan berkurang dari 10 km menjadi sekitar 3 km dalam 30 menit.
Keberhasilan di Garut mendorong Kemenhub mengumumkan kebijakan one way nasional pada ruas Tol Kalikangkung‑Cikampek. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama pejabat tinggi menandatangani keputusan yang berlaku mulai KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung hingga KM 70 Gerbang Tol Cikampek Utama. Target utama adalah mengurai arus balik Lebaran yang diperkirakan melibatkan 285.000 kendaraan menuju arah Jakarta pada 24 Maret 2026.
One Way Nasional: Langkah Besar Mengatasi Arus Balik
Dalam siaran persnya pada 25 Maret 2026, Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa volume kendaraan menuju Jakarta mengalami lonjakan signifikan. Penerapan one way nasional diharapkan mempermudah masyarakat kembali ke kota asal, sekaligus mengurangi beban pada ruas Tol Trans Jawa. Sebagai bagian dari strategi, Rest Area KM 52B pada Tol Jakarta‑Cikampek ditutup sementara sesuai arahan Polri, sementara pemudik diarahkan ke rest area alternatif di KM 42B dan KM 19B.
Selain itu, pemerintah mengimbau masyarakat memanfaatkan aplikasi Travoy atau Call Center Jasa Marga untuk memeriksa jadwal dan rute dinamis yang ditetapkan oleh kepolisian. Kebijakan kerja dari mana saja (Work From Anywhere) juga disarankan pada tanggal 25‑27 Maret 2026 untuk mengurangi puncak arus balik yang diproyeksikan terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret.
Koordinasi Lintas Lembaga
Keberhasilan kebijakan ini tidak lepas dari sinergi antara Kemenhub, Polri, Kementerian Pekerjaan Umum, serta pengelola jalan tol seperti Jasa Marga. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhanan, Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono, serta Kepala Korlantas Polri Agus Suryonugroho turut hadir dalam pertemuan koordinasi. Mereka menekankan pentingnya kepatuhan pelaku logistik terhadap Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur operasional angkutan barang selama periode Lebaran.
Pengusaha logistik diharapkan menyesuaikan jadwal pengiriman, menghindari jam sibuk, serta mematuhi batasan kendaraan berat agar tidak menambah beban lalu lintas. Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa keselamatan dan ketertiban pengguna jalan menjadi prioritas utama dalam rangka memastikan mobilitas masyarakat tetap aman dan lancar.
Dengan semua langkah tersebut, arus balik di Lingkar Gentong menunjukkan tanda-tanda kembali normal. Pada sore hari terakhir, jalur kembali terbuka penuh, dan tidak ada laporan kemacetan signifikan. Pengendara melaporkan perjalanan yang lebih cepat serta peningkatan rasa aman di jalan raya.
Penerapan one way secara situasional maupun nasional terbukti menjadi instrumen efektif dalam mengendalikan kepadatan lalu lintas selama masa mudik Lebaran. Keberhasilan ini memberikan pelajaran berharga bagi otoritas transportasi dalam merancang strategi penanggulangan kemacetan pada periode kepadatan tinggi di masa mendatang.



Post Comment